Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Di Tengah Hiruk Pikuk Layar Visual, Apakah Kertas Masih Hidup?

Anwar Saleh Hasibuan by Anwar Saleh Hasibuan
30/07/2025
in Cecurhatan
Di Tengah Hiruk Pikuk Layar Visual, Apakah Kertas Masih Hidup?

Ilustrasi: Buku Kertas

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca sebuah tulisan menarik karya Kang Usman Roin yang dimuat di kolom blokbojonegoro.com. Judulnya cukup provokatif dan menggoda: “Jadikan Membaca Sebagai Ritual Harian.” Saat mata saya menatap judul itu, pikiran saya langsung mengembara, agak sedikit nakal dan agak sedikit iseng.

Saya mulai bertanya-tanya dalam hati, membaca yang seperti apa yang dimaksud Kang Usman? Apakah membaca situasi sosial di sekitar kita? Apakah membaca bahasa tubuh orang lain? Apakah membaca alam semesta yang tak henti memberi isyarat? Ataukah yang dimaksud adalah membaca buku? entah buku cetak yang aromanya khas, atau buku digital yang kita gulir lewat gawai? Atau mungkinkah yang ia maksud justru membaca sesuatu yang lebih subtil seperti membaca isyarat hati seseorang?

Terus terang, saya harus mengakui, dengan hanya mengandalkan judul, Kang Usman berhasil menarik perhatian saya. Bahkan lebih dari itu, ia membuat saya terjebak dalam semacam hipnosis literasi yang memaksa saya untuk membaca tulisannya hingga titik terakhir.

Benar saja, isi tulisan Kang Usman memang sebuah ajakan lembut tapi tegas, “mari membaca buku lebih giat, dan kalau bisa jadikan membaca sebagai ritual harian. Sebuah ajakan yang selaras dengan judul tulisannya. Yang menarik, Kang Usman selalu punya gaya khas dalam menulis.

Ia kerap membuka tulisannya dengan kutipan petuah atau pepatah, seolah ingin mengajak pembaca berhenti sejenak, merenung, merefleksi, dan bertanya pada diri sendiri, “sudah sejauh mana kita meng-upgrade diri? Sudahkah kita konsisten membaca, atau justru sekadar wacana?.”

Usai menuntaskan membaca tulisan Kang Usman, pikiran saya kembali mengembara. Masih dengan gaya yang agak nakal, agak iseng, tapi penuh rasa ingin tahu.

Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul kembali ke permukaan, kali ini dengan nada yang lebih filosofis, “di era visual yang nyaris serba digital ini, mengapa kita masih harus membaca buku cetak? Apakah lembaran kertas yang tak bersinar itu masih punya tempat di tengah hiruk pikuk layar yang selalu menyala? atau lebih jauh lagi, “di tengah ledakan visual yang menggoda mata dan atensi kita setiap detik, apakah kertas masih hidup?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin tak selalu bisa dijawab tuntas. Tapi justru di situlah letak keasyikannya, kita akan terus diajak berpikir, merenung, dan tentu saja akan terus diajak untuk membaca.

Sebagai bagian dari refleksi dalam tulisan ini, saya harus mengakui, memilih media baca terbaik di zaman sekarang bukan perkara mudah. Kertas atau layar? Buku cetak atau digital? Pertanyaan itu tampak sederhana, tapi jawabannya rumit. Sebab keduanya punya keunggulan yang luar biasa di satu sisi, namun juga menyimpan kekurangan yang tak bisa diabaikan di sisi lainnya.

Kebingungan ini makin terasa karena kita sedang berada di fase transisi, di tengah-tengah kebangkitan digital yang wajah akhirnya belum sepenuhnya terbentuk. Kita seperti berdiri di peron antara dua dunia, dunia buku cetak klasik yang akrab dan menenangkan, dan dunia buku digital yang dinamis serta menjanjikan efisiensi.

Lalu, di tengah pusaran ini, mana yang harus kita pilih?

Mungkin bukan soal memilih yang satu dan menyingkirkan yang lain. Mungkin, yang paling penting adalah bagaimana kita tetap membaca apa pun medianya. Untuk menjawab pertanyaan besar, mana yang lebih baik layar atau kertas? barangkali kita perlu melangkah sedikit ke belakang. Menoleh ke sejarah, dan merenungkan kembali dari mana semua ini bermula.

Apakah buku memang sudah ada sejak awal peradaban manusia? Jika belum, bagaimana pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? Sebelum kenangan tentang zaman pra-komputer benar-benar terkikis oleh derasnya arus revolusi digital, mari kita luangkan waktu sejenak untuk kembali ke awal kisah.

Menelusuri jejak-jejak awal manusia menyimpan dan menyampaikan ilmu, bukan lewat layar, bukan pula lewat cetakan, tapi lewat lisan, simbol, dan ingatan. Sebab kadang, untuk memahami masa kini dan menebak masa depan, kita justru perlu belajar dari masa lalu.

Awal Mula Buku

Semua bermula ketika manusia merasa perlu menyimpan informasi yang mereka tukarkan setiap hari, entah itu catatan utang, hasil panen, peristiwa penting, atau pesan-pesan sederhana yang tak ingin dilupakan. Dari kebutuhan itulah, tulisan lahir.

Namun, menciptakan tulisan saja tak cukup. Manusia kemudian mulai mencari media untuk mencatat. Di titik inilah daun, kulit kayu, batu, dan bahan-bahan alami lainnya menjadi saksi bisu dari upaya manusia mengabadikan pengetahuan.

Perjalanan terus berlanjut. Kertas, dalam bentuk yang mendekati seperti yang kita kenal hari ini, akhirnya digunakan. Tapi jauh sebelum tinta menari di atas kertas, informasi diwariskan secara lisan, dihafal, diceritakan ulang, dan dijaga dalam ingatan kolektif.

Barulah kemudian kata-kata mulai ditulis, dan untuk mendapatkan satu salinan buku, seseorang harus menyalinnya secara manual, dengan ketekunan, kesabaran, dan mungkin juga keheningan yang kini makin langka kita jumpai.
Keterbatasan Penyalinan Manual

Proses penyalinan manual ini memang lambat. Ia membuat penyebaran ilmu menjadi sangat terbatas. Tak jarang, banyak pengetahuan penting yang lenyap begitu saja, karena belum sempat disalin sebelum sang pemilik wafat, atau karena manuskripnya hilang ditelan zaman.

Bahkan hingga hari ini, masih ada banyak naskah kuno yang belum pernah tersentuh cahaya layar mana pun. Ia hanya beredar di tangan segelintir orang yang mewarisinya secara turun-temurun.

Sebagiannya terkunci dalam lemari museum, sebagian lagi tersembunyi di balik tirai peradaban yang nyaris terlupakan. Fakta-fakta ini diangkat bukan sekadar untuk bernostalgia. Tapi agar kita menyadari betapa luar biasanya lompatan yang dicapai umat manusia ketika mesin cetak ditemukan. Sebuah temuan revolusioner yang tak hanya mempercepat penyebaran ilmu, tapi juga menandai awal kebangkitan pengetahuan di berbagai belahan dunia.

Dari Revolusi Cetak ke Revolusi Digital

Penemuan mesin cetak memang monumental. Ia memungkinkan ribuan buku disalin dan tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tapi sejarah tak berhenti di situ. Setelah revolusi cetak, dunia memasuki fase berikutnya yang tak kalah mengguncang yaitu revolusi digital.

Internet hadir sebagai jembatan baru yang menghubungkan miliaran pikiran. Informasi yang dulu tersimpan dalam rak dan lemari, kini mengalir deras dalam jaringan virtual. Jutaan orang berbagi gagasan, berbagi tulisan, dan konten lewat medium ini, dan semuanya kita akses melalui layar.

Kemajuan teknologi menjawab kebutuhan zaman dengan menyajikan informasi secara lebih cepat, efisien, dan portabel. Komputer pribadi hadir, dilengkapi layar, speaker, dan fitur pencarian yang canggih.

Lalu lahirlah tablet dan ponsel pintar yang bisa masuk saku, namun memuat seluruh perpustakaan dunia di dalamnya. Dari sinilah kita sampai pada bentuk baru dari buku masa kini yaitu buku elektronik.

Dalam beberapa klik dan menit saja, kita bisa menelusuri samudra ilmu mulai dari Muqaddimah Ibn Khaldun hingga edisi terbaru dari penerbit-penerbit besar dunia. Semua hadir di layar, senyap tapi padat, seperti perpustakaan tanpa batas.

Masalah Kita Dengan Layar

Sejarah buku mengajarkan kita satu hal penting bahwa membaca bukanlah kemampuan alami seperti berbicara. Ia bukan bawaan sejak lahir, melainkan kebiasaan yang dipelajari. Maka, wajar jika membaca butuh latihan terutama bagi mereka yang baru memulai, atau yang masih bergulat dengan kesabaran dan fokus.

Tapi, bukankah kita semua pembaca? Kita terpapar ribuan kata setiap hari, bahkan tanpa kita sadari, hanya dari membuka media sosial. Jika media sosial kita ibarat lembaran-lembaran buku yang berserakan, maka satu guliran layar (scroll) bisa jadi setara dengan satu halaman buku. Lalu, kenapa kita bisa betah membaca ratusan halaman di media sosial, tapi merasa berat membuka satu bab dari sebuah buku?

Mungkin jawabannya terletak pada perbedaan antara menelusuri, membaca, dan menyimak. Saat berselancar di media sosial, kita cenderung berhenti pada yang ringan, lucu, dan cepat dinikmati. Konten yang panjang, reflektif, atau menantang pikiran sering kali langsung kita lewati begitu saja.

Yang lebih pelik lagi, algoritma media sosial bekerja seperti pelayan pribadi yang hanya menyajikan apa yang kita suka, yang paling menghibur, paling viral, paling mudah dicerna. Lama-lama, kita kehilangan daya tahan terhadap rasa bosan, dan itu menggerus kemampuan kita untuk membaca secara mendalam.

Maka mungkin, tantangan kita hari ini bukan lagi sekadar menemukan waktu membaca, tapi bagaimana berdamai dengan kebosanan. Melatih ulang kesabaran, agar tetap bisa fokus di tengah dunia yang riuh dan tak pernah diam.

Ironi Informasi Cepat

Banyak anak muda hari ini membaca hanya karena tuntutan tugas sekolah atau tugas kuliah. Bahkan, tak sedikit yang nyaris tak membaca sama sekali. Di balik layar yang terus menyala, konsentrasi kita pelan-pelan terkikis. Perangkat digital memang memudahkan banyak hal, tapi diam-diam juga menggerus daya tahan kita untuk fokus.

Ironisnya, kita begitu selektif dalam memilih makanan, menghindari yang cepat saji dan tak jelas isi. Tapi di saat yang sama, kita justru menelan informasi cepat saji tanpa pikir panjang, tanpa tahu dari mana asalnya. Padahal, dampaknya bisa sama berbahayanya.

Banyak sudah tokoh yang telah mengajak kita kembali ke buku cetak. Bukan karena buku cetak sedang sekarat, tapi karena kita para pembaca sedang kehilangan ruang dan waktu untuk benar-benar menikmati aktivitas membaca. Semua riuh, semua terburu-buru, semua terdistraksi notifikasi.

Pernahkah kita merasakan keheningan yang tiba-tiba menenangkan setelah suara bising berlalu? Atau hangatnya percakapan saat listrik padam sejenak? Begitulah rasanya saat kita membuka buku cetak, setelah seharian dikepung kebisingan digital. Hening, lambat, dan justru karena itu menyelamatkan.

Keindahan Buku

Bagi pelajar pemula, membaca buku cetak mungkin adalah pengalaman belajar yang paling ideal. Sebab mereka butuh ketenangan, fokus, dan kedalaman untuk menumbuhkan kebiasaan membaca yang kuat. Sementara bagi pembaca yang sudah terbiasa, tantangan digitalisasi mungkin tidak terlalu berdampak. Mereka sudah punya daya tahan sendiri terhadap gangguan.

Membaca buku cetak bukan sekadar aktivitas kognitif. Ia adalah pengalaman yang melibatkan seluruh indra yang dimulai dengan menyentuh tekstur kertas, mencium aroma khas tinta dan halaman tua, merasakan bobot buku di tangan, hingga melihat langsung seberapa tebal halaman yang sudah ditaklukkan.

Semua itu memberi kepuasan yang tak tergantikan. Hal-hal semacam itu sulit dirasakan lewat layar yang meski praktis, sering kali melelahkan mata dan penuh distraksi. Namun tentu, ini bukan ajakan untuk menafikan manfaat revolusi digital.

Justru digitalisasi telah membawa banyak kebaikan seperti mempercepat pencarian referensi, membuka akses ke literatur langka, hingga menyelamatkan warisan literasi dari kepunahan. Lihat saja aplikasi seperti Maktabah Syamilah. Ia jadi semacam museum bergerak menyelamatkan ribuan karya klasik Islam dan Arab, lalu membawanya ke saku para pembaca abad ini.

Tinta di Luar Kertas

So, last but not least, persaingan teknologi ternyata tak selalu membawa kabar buruk. Justru di tengah meningkatnya kebutuhan membaca dari layar, lahir inovasi-inovasi yang patut disambut, salah satunya adalah layar tinta elektronik (e-ink) seperti yang digunakan dalam perangkat Kindle.

Tak seperti layar ponsel atau laptop, layar jenis ini tidak menyinari mata secara langsung. Ia lebih bersahabat untuk dibaca dalam jangka panjang, nyaris menyerupai pengalaman membaca buku cetak. Namun pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana kita membaca, melainkan mengapa kita membaca.

Bukan soal layar atau kertas, tapi soal kemauan untuk belajar, bersabar, dan sungguh-sungguh mencari ilmu. Di tengah dunia yang makin cepat, makin ringkas, dan makin bising, barangkali sudah waktunya kita menghidupkan kembali semangat belajar yang tenang dan dalam.

Bentuk ketekunan yang dulu jadi ciri para pencari ilmu sejati. Sebab hikmah adalah harta yang hilang milik setiap pencari kebenaran, dan di mana pun ia ditemukan, entah dalam lembaran buku, guliran layar, atau percakapan sunyi, merekalah yang paling berhak memilikinya.

Penulis adalah Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Adab Unugiri Bojonegoro.

Tags: Buku KertasKelas Literasi Jurnaba (Kelir)
Previous Post

Forum Rembug Desa: BI Gelar Pemetaan Penghidupan Berkelanjutan di Desa Sendangharjo Ngasem

Next Post

Forum MSP: Perkuat Pengarusutamaan GEDSI Dalam Pengentasan Kemiskinan

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: