Malam telah mendekati titik nadir, titik kesunyiannya. Hanya sesekali terdengar desau angin—menyapu dedaunan di jalanan, mengenai dinding rumah kecil Nasruddin Hoja—sufi yang dipercaya hidup pada abad ke-13. Di rumah kecil itu, seorang Nasruddin tinggal.
Pada suatu malam, ia tengah duduk termenung di rumahnya. Perutnya keroncongan, tanda bahwa ia tengah lapar. Namun Nasruddin sudah terbiasa menahan rasa itu. Ia tahu, esok pagi pun tiada akan berubah. Dan akan berlalu begitu saja.
Tiba-tiba di tengah rasa laparnya yang mencekat, terdengar suara. Pintu rumah Nasruddin perlahan-lahan bergerak—ada yang berusaha membuka. Engselnya pun berdecit, membuat bulu kuduk berdiri. Ada seseorang yang masuk—ada seorang Pencuri.
Lelaki miskin itu tersentak, lalu berusaha secepat mungkin bersembunyi di sudut gelap rumahnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah hendak keluar—seolah meloncat dari dadanya.
Langkah pencuri tersebut tampak berat, penuh dengan kehati-hatian. Kedua matanya mengamati sekeliling rumah, tak ada lemari megah, tak ada barang berharga. Hanya tikar usang, ranjang kayu reot, dan meja kayu lapuk dengan tiga buah cangkir retak diatasnya.
Nasruddin menahan napas di balik tumpukan Jerami dan karung. Ia berharap si pencuri segera angkat kaki setelah menyadari bahwa di rumahnya tidak ada apa-apa. Tapi jalannya takdir berkata lain.
“Kenapa kau bersembunyi?”, tanya pencuri, suaranya memenuhi rumah kecil Nasruddin. Tatapannya tajam, menembus kegelapan—menemukan sosok Nasruddin yang gemetar.
Dengan suara lirih, gemetar, hampir tak terdengar, Nasruddin menjawab, “Aku… aku malu”
“Malu? Malu kenapa?”, tanya pencuri heran.
“Aku malu,” bisik Nasruddin, “Karena aku tak punya apapun yang bisa kau curi. Rumahku kosong.”
Pencuri itu terdiam. Kata-kata sederhana Nasruddin menghantam kesadarannya—memecahkan sisa-sisa akal sehat yang mungkin pernah ia miliki. Ia menoleh, melihat sekeliling: tikar usang, ranjang kayu reot, dan meja kayu lapuk dengan tiga buah cangkir retak. Dan untuk pertama kalinya, si Pencuri merasa seperti orang termiskin di ruangan itu—meski ia memiliki kekuatan untuk mengambil, merampas, bahkan melukai Nasruddin sekalipun. Pencuri itu merasa, ada hal yang lebih menyedihkan daripada kekosongan harta: kekosongan hati yang membuat seseorang tega mencuri.
Dan dengan langkah pelan, si pencuri berbalik pergi—tanpa menoleh sekalipun. Tanpa suara lain, kecuali suara pintu yang kembali berderit. Jejak pencuri itu menyisakan bau keringat, meninggalkan keputusasaan. Dan, dunia tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah.
—0—
Kisah Nasruddin Hoja ini mungkin telah sering kita dengar dari buku-buku atau cerita lisan. Ada yang menganggapnya sekadar kisah, humor, atau anekdot biasa. Namun, jika dicermati secara mendalam akan kita dapati sisi-sisi unik, tentang absurditas. Seseorang datang untuk mencuri. Seseorang bersembunyi karena malu tak ada yang bisa dicuri.
Coba bayangkan, peristiwa Nasruddin menimpa anda atau siapapun, tindakan apa yang pertama kali anda dilakukan? Mungkin, jawabannya adalah “lari, berteriak, melakukan perlawanan, atau bahkan malah menangis.” Tapi seorang Nasruddin justru bertindak sebaliknya. Ia melawan mainstream. Ia malu karena tidak punya apa-apa yang bisa di curi. Malu karena tak bisa memberi, bahkan hak untuk dirampok pun tak ia miliki. Nasruddin malu karena hanya bisa menerima, ia merasa tak berguna. Malu jenis ini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan tanda bahwa hati masih hidup. Sebuah rasa yang hanya bisa dipahami dalam sunyi, dalam percakapan lirih seperti peristiwa pencurian pada malam itu. Malu yang demikian, merupakan jenis entitas yang tidak bisa dirampas oleh siapapun, bahkan oleh seorang pencuri sekalipun.
Pada gilirannya, kisah ini telah mengajukan sebuah pertanyaan, “Mana yang lebih miskin? Seorang yang tak mempunyai apa-apa? Atau seorang yang ingin memiliki apa-apa? ” Nasruddin memilih tidak memiliki apa-apa, bahkan tak memiliki dirinya sendiri. Namun, justru karena itulah ia menjadi mulia. Dunia menertawakan kemiskinan, sementara langit justru merayakannya. Sebab, hanya dengan merasa tidak mempunyai apa-apa—hamba bisa benar-benar menerima hadiah dari Tuhan. Wallahu a’lam.








