Tanah tidak pernah butuh kita. Ia sudah lebih tua. Lebih arif. Lebih sabar. Yang butuh adalah kita—manusia yang sibuk mencatat kata pembangunan di papan tulis, lalu melupakan satu nama yang seharusnya ditulis lebih dulu: BUMI.
Di abad lalu, para teknokrat menulis proyek-proyek raksasa di peta. Bendungan, jalan tol, pabrik baja. Nama-nama mereka dipuji seperti nabi modern.Tapi di baliknya, tanah tetap bernafas tanpa tepuk tangan. Ia menerima hujan, menumbuhkan akar, menyimpan fosil waktu—tanpa mengeluh, tanpa merayakan.
Hari ini, kita mewarisi papan tulis yang sama, hanya spidolnya berganti warna. Kita menulis “ekonomi hijau,” “sustainability,” “ekonomi biru.” Kata-kata indah. Namun huruf-huruf itu sering melayang di udara—tak menyentuh lumpur, tak menyentuh tanah yang diam-diam melipat sejarahnya sendiri.
Tanah adalah arsip. Ia merekam air mata petani yang gagal panen. Ia menyimpan darah tentara yang gugur di sawah. Ia menahan jejak sepatu investor yang hanya singgah sebentar. Tapi kita terlalu sibuk menulis laporan pertumbuhan, hingga lupa membaca prasasti yang tersembunyi di lapisan tanah itu sendiri.
Apakah kita, sebenarnya, sedang membangun? Atau sekadar menghapus papan tulis berkali-kali, hingga tak lagi terbaca: BUMI?
Petani menemukan BIOSAKA. Bukan laboratorium canggih, bukan riset bertahun-tahun dengan dana miliaran. Hanya cairan sederhana: rerumputan, pelepah, dedaunan. Seolah ramuan rahasia—yang sesungguhnya tidak pernah rahasia.
Alam selalu memberi. Manusia sekadar meracik ulang. Tapi dalam catatan negara, yang tercatat justru kebalikannya: manusia disebut “penemu,” bumi dilupakan sebagai penulis pertama.
Barangkali BIOSAKA bukan sekadar pupuk cair. Ia semacam pengingat. Bahwa pengetahuan tak selalu lahir di ruang ber-AC, melainkan di sawah yang lengket lumpur, di tangan petani yang sabar, di percakapan sunyi antara manusia dan rerumputan.
Ada yang menyebutnya inovasi. Ada yang menertawakannya sebagai klenik. Padahal mungkin BIOSAKA hanya menyingkap kebenaran sederhana: tanah tak butuh kita—kitalah yang berulang kali butuh tanah, dan butuh cara baru untuk merasa rendah hati di hadapannya.
Tapi apakah ini sekadar pupuk? Atau tanda lain: bahwa bahasa kita mulai kehabisan kosakata untuk menyebut “kesuburan”? Dulu, nenek moyang menaruh sesajen di tepi pematang. Bukan untuk memberi makan dewa. Melainkan menjaga relasi: sawah adalah tubuh bersama, yang harus dirawat seperti merawat diri.
Hari ini kita menyebut BIOSAKA: organik, murah meriah, ramah lingkungan. Nama baru bagi ritual lama. Sesajen yang kembali kita taruh ke tanah—setelah bertahun-tahun kita merampasnya dengan pupuk kimia, dengan angka-angka revolusi hijau, dengan grafik produksi. Sesajen ini bukan mitologi.
Ia bukan doa yang terhenti di langit. Ia justru koreksi diam-diam: bahwa tubuh bersama itu masih terluka, dan kita sedang belajar—lagi—bagaimana meminta maaf pada tanah.
Mungkin BIOSAKA bukan jawaban. Ia hanya tanda baca, koma yang singkat. Tapi dalam koma itu terselip pertanyaan: apakah pembangunan kita, yang pongah dan bising, diam-diam sedang mencari cara untuk kembali berlutut di hadapan bumi?
Memang ada ironi. Di negeri yang tanahnya subur, kita justru tergoda menjadi buruh perusahaan pupuk. Panen digadaikan pada harga gas alam, pada kuota impor amonia, pada mesin-mesin pabrik BUMN yang berdiri seperti kuil baru. Subsidi jadi mantra. Tapi mantranya membuat petani tak lagi menanam padi, melainkan menanam ketergantungan.
Dulu, tanah adalah sumber. Sekarang, tanah sekadar media, yang harus dicampur formula kimia agar dianggap produktif. Seolah bumi tak lagi dipercaya memberi hidup, kecuali setelah direstui pabrik.
Ironinya, negeri ini dipuji “gemah ripah loh jinawi.” Tapi setiap musim tanam, kita menengok bukan pada awan dan air, melainkan pada kilang pupuk dan harga gas global.
Petani tetap menunduk di sawah. Namun tubuhnya kini terikat rantai pasok, yang ujungnya entah di Singapura, entah di Wall Street. Sawah tetap hijau, tapi akarnya merambat ke rekening korporasi.
BIOSAKA bisa kita baca sebagai tanda pemberontakan kecil. Bukan demo besar dengan spanduk, bukan kerusuhan di jalan. Ia bergerak pelan—seperti air yang meresap ke tanah, seperti bisik-bisik petani di pematang sawah.
Seperti tubuh yang menolak obat dokter kota, lalu kembali meneguk jamu pahit dari desa. Tubuh yang ingin ingat asalnya. Bahwa kesembuhan tak selalu datang dari pil putih dalam botol, melainkan dari daun, akar, dan kesabaran.
Mungkin BIOSAKA hanyalah eksperimen sederhana. Tapi di dalamnya ada rasa muak pada ketergantungan. Ada ingatan samar bahwa tanah pernah subur tanpa subsidi, dan petani pernah berdaulat tanpa menjadi akuntan pupuk kimia.
Pemberontakan kecil ini tidak menggelegar. Tapi justru karena kecil, ia sulit ditangkap. Ia menyelinap lewat tangan-tangan yang meracik rumput dan dedaunan, lalu mengembalikannya ke bumi. Bukan sekadar pupuk—melainkan sebuah isyarat: kita masih mungkin merawat tanah dengan rendah hati, bukan dengan kesombongan industri.
Tapi jangan lupa bahwa ingatan itu selalu rapuh. Kita sering mengulang nasib yang sama: teknologi lokal diglorifikasi sebentar, lalu ditelan pasar seperti cemilan murahan. BIOSAKA bisa jadi hanyalah mode sesaat. Hari ini dipuji—besok dilupakan.
Ia akan tergeser oleh jargon baru: biochar, nano-fertilizer, smart-agriculture. Kata-kata yang terdengar canggih, dilafalkan di seminar ber-AC, ditulis di slide Power Point dengan font modern.
Tapi semakin canggih kata-kata itu, semakin jauh petani dari tubuh tanahnya sendiri. Seolah kesuburan bisa dipatenkan. Seolah bumi hanya perlu kita dekati lewat algoritma dan sensor, bukan lewat tangan yang kotor oleh lumpur.
Ingatan soal kerapuhan. Dan yang paling kita takutkan adalah lupa—bahwa kesuburan tidak pernah tinggal di laboratorium tidak pula di kementerian, melainkan di tubuh tanah itu sendiri.
Bukankah sejarah pangan kita adalah sejarah kehilangan kedaulatan? Sejak zaman tanam paksa, ketika tebu menggantikan padi, dan sawah bukan lagi sawah, melainkan ladang gula untuk kapal dagang Eropa. Lalu datang Revolusi Hijau.Traktor, pestisida, urea.
Kompos yang sabar digantikan pupuk kimia yang rakus. Panen memang meningkat, tapi tanah diam-diam kehilangan napasnya. Petani pun kehilangan hak untuk memilih cara bercocok tanam—yang tersisa hanya resep dari brosur kementerian dan iklan perusahaan. Sejarahnya selalu sama: tanah menjadi korban, petani menjadi penonton.
Yang berperan utama justru pasar dan negara, bergantian menulis naskah tentang “ketahanan pangan” yang tak pernah betul-betul menenangkan perut rakyatnya sendiri. Dan kini BIOSAKA hadir, seperti interupsi kecil dalam drama panjang itu. Apakah ia bernasib bisa mengubah alur.
Maka BIOSAKA, dalam fragmen kecilnya, bisa juga dibaca sebagai doa. Doa yang tidak diucapkan di masjid atau gereja, melainkan di sawah yang basah, dengan kaki terbenam lumpur, dengan tangan yang berbau rerumputan. Sebuah doa agar tanah mau memaafkan manusia.
Memaafkan pupuk kimia yang dulu kita tabur tanpa pikir panjang. Memaafkan keserakahan yang menukar kesuburan dengan kuota impor. Memaafkan generasi yang sibuk menulis angka produksi,sambil lupa menulis kata: BUMI.
Doa ini tidak lantang. Ia tak tercatat dalam statistik nasional. Tapi mungkin justru karena lirih, ia lebih jujur. Karena hanya mereka yang masih menunduk di sawah yang tahu bagaimana tanah bisa mendengar.
Apakah tanah akan memaafkan kita?
Atau ia hanya menunggu waktu untuk menelan semuanya—dengan banjir, longsor, kekeringan—sebagai bentuk penghakiman tanpa kata? Pertanyaan itu menggantung. BIOSAKA mungkin bukan jawaban.
Ia hanyalah ingatan yang cair—sebotol kecil, berisi sisa-sisa kesetiaan manusia pada tanah. Kesetiaan yang kerap kita khianati, namun tak pernah sepenuhnya hilang.
Mungkin kita harus membaca BIOSAKA bukan sebagai pupuk, bukan pestisida, bukan sekadar ramuan organik. Melainkan sebagai tubuh politik itu sendiri: sebuah perlawanan kecil terhadap logika pasar, sebuah doa terselubung di tengah industri yang pongah, sebuah isyarat bahwa kedaulatan bisa lahir lagi—bukan dari pidato pejabat.
Tanah adalah rakyat. Ia menampung segalanya: keringat, air mata, darah, juga janji-janji yang tak ditepati. Bahan organik adalah pengalaman sehari-hari: sisa luka yang tak sembuh, sisa ketakutan yang diwariskan, sisa cinta yang tetap bertahan meski terinjak.
Lalu BIOSAKA hadir. Ramuan sederhana, lahir dari tubuh rakyat untuk menghidupi dirinya sendiri. Bukan formula universitas, bukan paten korporasi. Ia lebih mirip catatan harian yang ditulis dengan lumpur. Fragmen ingatan bahwa rakyat selalu punya cara untuk bertahan ketika negara dan pasar sibuk memperdagangkan kesuburan.
Mungkin BIOSAKA hanyalah cairan di dalam botol. Tapi di balik cairan itu tersimpan satu kebenaran getir: jika tanah adalah rakyat, maka rakyatlah yang pada akhirnya harus merawat dirinya sendiri—sekalipun dengan sisa-sisa.
Berbeda dengan pupuk kimia—produk industri, modal, birokrasi—BIOSAKA lahir dari bawah. Dari rerumputan yang diinjak, dari tangan petani yang tak menunggu regulasi. Ia anti-formula, anti-resep resmi. Tak ada brosur kementerian, tak ada izin edar. Ia lahir sebagaimana rerumputan tumbuh: liar, tak patuh, kadang dianggap gulma.
Persis seperti politik yang otonom. Bukan politik yang menunggu “subsidi,” bukan politik yang sibuk merawat meja kekuasaan. Tapi politik yang tumbuh liar di jalanan, politik yang tahu bahwa “subsidi” tak lain adalah cara menjinakkan.
BIOSAKA, dalam arti ini, bukan pupuk. Ia metafora. Ia tubuh politik yang menolak diatur, yang memilih setia pada tanah—bukan pada birokrasi pupuk bersubsidi. Maka pertanyaannya: apakah mungkin sebuah bangsa belajar berpolitik seperti meramu BIOSAKA? Mengumpulkan sisa-sisa tubuh: luka sejarah, ketakutan kolektif, cinta yang tercecer.
Menggilingnya, memerasnya, mengudaknya, lalu membiarkannya bekerja sendiri— tanpa formula resmi, tanpa sertifikasi, tanpa komando. Politik yang bukan proyek pabrik. Bukan pula perintah dari menara negara. Melainkan cairan kehidupan: lahir dari bawah, dari rerumputan, dari tangan yang kotor lumpur.
Barangkali politik seperti itu justru lebih jujur. Ia tak menjanjikan panen melimpah, tapi menjaga kesuburan yang rapuh. Ia tidak memuja slogan, melainkan memberi tubuh rakyat kesempatanuntuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Pertanyaan itu tetap menggantung. Apakah kita berani menukar politik beton dan baja, dengan politik cair yang meresap ke tanah? Atau kita akan terus menulis di papan tulis: “pembangunan,” sambil lupa menulis satu kata yang lebih tua, lebih arif, lebih sabar: bumi?
Atau, jangan-jangan BIOSAKA akan bernasib sama. Diambil alih, dipatenkan, diproduksi massal oleh korporasi.
Dari botol plastik murahan, menjadi label glossy di rak toko pertanian, dengan harga berlipat, dengan iklan di televisi. Doa sawah pun berubah jadi komoditas. Seperti tubuh rakyat: selalu dijanjikan kesuburan, tapi akhirnya hanya dijadikan pasar.
Petani membeli kembali apa yang dulu lahir dari tangannya sendiri. Rakyat membayar mahal untuk sesuatuyang semula lahir dari rerumputan gratis di halaman rumah. Ironinya tak asing. Kita pernah mengalaminya: padi jadi beras plastik impor, jamu jadi suplemen dalam kapsul, air jadi merek dagang. Mengapa BIOSAKA harus berbeda?








