Jadilah seperti sapi yang sabar, maka bumi akan menumbuhkan bagimu rerumputan kasih sayang (Rumi dalam Matsnawi buku V, Bait 300)
Malam telah mendekati titik sunyinya. Gelap pekat mulai merambati turun, dan suara serangga mendominasi udara. Di tengah suasana yang demikian, Rsi Rudraprasad tampak sangat kelelahan. Ia baru saja menempuh perjalanan cukup jauh—dari Haridwar ke Saharanpur. Di Haridwar, Sang Rsi mengikuti ritus suci Kumbha Mela yang diadakan setiap 12 tahun sekali.
Dalam perjalanan pulang, secara tak sengaja ia bertemu Vishnuprasad—salah satu muridnya yang menjadi saudagar kaya raya di Bhagwanpur. Sang Rsi diberi hadiah seekor sapi betina berwarna merah. Sesampainya di rumah, hari menunjukkan tengah malam. Rsi Rudraprasad menambatkan sapi tersebut di sudut rumah. Ia lantas mengambil posisi teratai diatas ranjang kayu. Sejurus kemudian bibirnya komat-kamit merapalkan sebaris mantra,
Om asato ma sat gamaya
Tamaso ma jyotir gamaya
Mrtyor ma’mritam gamaya
Itulah doa menjelang tidur: pavamana mantra. Usai berdoa, Sang Maha Rsi merebahkan tubuhnya. Tak lama, kedua matanya terpejam. Ia tidur—menyelami dunia imajinasi. Dalam rasa kantuk, dunia selalu lebih jinak dari kenyataan.
Namun, malam tak selalu membawa tenang. Tanpa sepengetahuan Sang Rsi—di halaman rumah —dua pencuri mengendap-endap dan telah siap mengambil sapi betina miliknya. Yang pertama, lelaki kurus berpakaian compang-camping bersembunyi di semak-semak, di sisi kanan rumah Sang Rsi. Lelaki itu bernama Chora Lal.
Sementara satunya lagi, Asurendra, golongan Jin yang menyamar dalam wujud manusia dengan wajah menyeramkan. Matanya merah sementara kulitnya pucat kebiruan. Asurendra bersembunyi dibawah pohon yang terletak di sisi kiri rumah Sang Rsi. Baginya, mengambil sesuatu dari manusia merupakan sesuatu yang menyenangkan. Ketika hendak melancarkan aksi—tak sengaja—kedua pencuri itu berpapasan.
“Hai manusia laknat! Siapakah kamu?” tanya Asurendra.
“Aku Chora Lal, hendak mengambil sapi milik Sang Rsi. Wahai mahluk terkutuk, siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu disini?”, tanya balik Chora Lal.
“Akulah Asurendra, pemimpin para Jin yang menguasai Kalnath (kegelapan) di bukit Tamoghana. Aku menginginkan sapi betina milik Rsi Rudraprasad untuk santapan teman-temanku”
Mendengar pengakuan Asurendra, tanpa perlu berpikir panjang, Chora Lal bergegas menuju sudut rumah Rsi Rudraprasad. Ia takut kedahuluan Asurendra dengan segala kekeuatan adikrodatinya.
“Berhenti! Bedebah! Jika kamu memaksakan diri hendak mengambil Sapi itu, aku takut Sang Rsi akan terbangun. Lantas ia akan berteriak, memanggil orang-orang di sekitar sini. Dan usaha kita akan berakhir sia-sia! Karena itu, biarkan aku masuk rumah, sementara kau tunggu saja disini.” Sergah Asurendra.
“Kau kira akau bodoh wahai makhluk laknat? Justru jika kamu yang masuk, Rsi Rudraprasad akan terbangun. Seorang Rsi akan sangat sensitif dengan kedatangan makhluk keparat semacam kamu. Karena itu, sebaiknya kamu saja yang menunggu diluar.”
“Tidak! Kamulah yang harus diluar” jawab Asurendra keras.
“Tidak!!!”
Asurendra terus berdebat dengan Chora Lal. Pertengkaran keduanya tidak menemukan titik temu, saling tarik menarik. Seperti benang kusut antara dunia tampak dan alam metafisika. Hingga, Chora Lal dan Asurendra melakukan hal terkonyol yang membubarkan semua rencana mereka. Berteriak.
“Wahai Sang Rsi, bangunlah! Ada golongan Jin hendak mencuri sapi milikmu” teriak Chora Lal lantang.
Sebaliknya, Asurendra juga berteriak tak kalah kerasnya, “Wahai Sang Rsi, bagunlah! Ada pencuri bodoh hendak mengambil sapi betina milikmu!”
Keduanya saling sahut-menyahuti. Malam itu sungguh gaduh. Dua pencuri tidak kunjung sepakat. Demi mendengar keributan, Sang Rsi dan beberapa tetangganya terbangun. Sementara Sapi meraung-raungntak karuan. Mereka keluar rata-rata sambil membawa tongkat kayu. Dan segera menyergap Chora Lal dan Asurendra, mengikatnya untuk ditonton beramai-ramai. Dihadapan massa, manusia dan jin sama saja—keduanya ingin mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Sapi milik Sang Rsi kembali diam, sembari mengunyah rumput kering. Seolah keributan tadi merupakan mimpi buruk yang teramat singkat.
-0-
Pada cerita ini, absurditas muncul dalam bentuk klaim-klaim yang absurd: manusia vis-à-vis jin berebut sapi. Sebuah peristiwa yang ironis, tragis, atau malah menjadi sebuah lulucon. Kita seakan disodori sebuah pertanyaan: mengapa sapi milik sang Rsi malah menjadi objek pertarungan antara manusia dan jin? Disinilah keserakahan bermanifestasi menjadi entitas yang tak mengenal kata kompromi. Ia bisa hinggap dimana saja: jin maupun manusia. Dalam konteks cerita ini, dua-duanya ingin mengambil yang bukan haknya. Dan dua-duanya tumbang oleh keserakahan masing-masing. Mereka gagal karena tidak menemukan kata sepakat.
Sementara dalam perspektif sufi, pencuri manusia bisa jadi merupakan simbol nafsu jasmani, hasrat duniawi yang nyata, dan bisa dipahami—bahkan diamati dalam perilaku sehari-hari.
Sebaliknya pencuri jin, bisa jadi merupakan simbol bisikan halus (khatir). Ia bukan sekadar nafsu, melainkan keraguan, rasa putus asa, ketakutan, ilusi, was-was, dan bayangan gelap yang menyaru sebagai kebenaran.
Alih-alih bekerja sama, keduanya malah berebut dan terjebak dalam kebingungan klaim. Ini menunjukkan bahwa dalam jiwa manusia sering terjadi perebutan, pergulatan, dan pertarungan. Lantas kita bertanya pada diri sendiri: apakah yang menguasai kita selama ini adalah dorongan jasmani atau bisikan halus yang acapkali menipu?
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ اَلَّلهُمَّ أَسْأَلُكَ أَنْ تطهِرَ قَلْبِي وَتُحْفَظَ فَرْجِي للَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَن زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar Ya Allah, aku meminta kepadamu untuk menyucikan hatiku, serta menjaga kemaluanku Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku ketakwaaan jiwa, dan sucikanlah ia karena Engkau-lah sebaik-baik Rabb yang menyucikannya, Engkau Pelindung dan Pemeliharanya. Wallahu a’lam.








