“Our protests were inspired by Indonesian unrest”
Nepal, sebuah republik federal yang berdiri setelah penghapusan monarki pada 2008 sudah lama dihantui ketidakstabilan politik. Dalam 17 tahun, negara kecil di kaki Himalaya ini mengalami 14 kali pergantian pemerintahan. Korupsi, nepotisme, dan minimnya peluang kerja bagi kaum muda membuat kepercayaan publik terhadap elite semakin terkikis.
Ketegangan memuncak ketika pemerintah memblokir platform media sosial besar seperti Facebook, YouTube, dan X (Twitter) pada awal September 2025. Alasan resminya adalah soal regulasi digital. Namun bagi publik, langkah ini dianggap sebagai bentuk pembungkaman suara.
Pemblokiran media sosial langsung menyulut kemarahan generasi muda Nepal. Ribuan orang turun ke jalan dalam aksi yang kemudian dikenal sebagai Gen Z Protests. Tuntutan mereka bukan hanya agar blokir dicabut, tetapi juga agar pemerintah bertanggung jawab atas praktik korupsi dan nepotisme yang sudah lama mengakar.
Menurut laporan Reuters dan AP News, protes meluas di Kathmandu dan kota-kota lain. Aparat menembakkan gas air mata, peluru karet hingga peluru tajam. Bentrokan menelan korban jiwa lebih dari 50 orang dan melukai lebih dari 1.300 lainnya. Parlemen bahkan sempat dibakar dan menjadi simbol kemarahan rakyat terhadap elite politik.
Menariknya, aksi besar di Nepal ini tidak lahir dari ruang hampa. Sejumlah pemimpin protes secara terbuka mengakui bahwa mereka terinspirasi dari demonstrasi di Indonesia. Kritik terhadap “nepo kids” (anak-anak pejabat dan elit politik yang mendapat hak istimewa) diimpor langsung dari narasi yang ramai di Indonesia.
Bahkan, seorang tokoh protes Nepal menyebut “Our protests were inspired by Indonesian unrest. We just went after nepo kids, like in Indonesia.”
Tak hanya itu, simbol budaya pop seperti bendera “Straw Hat Pirates’ Jolly Roger” dari anime One Piece juga berkibar di jalanan Nepal. Simbol ini sebelumnya juga muncul di aksi-aksi protes Indonesia. Dari sini tampak jelas bahwa generasi muda Asia saling terhubung, saling menginspirasi, dan berbagi simbol perlawanan lintas batas negara.
Krisis politik ini memaksa Perdana Menteri K. P. Sharma Oli mengundurkan diri. Presiden Ram Chandra Paudel kemudian membubarkan parlemen dan menjadwalkan pemilu baru pada 5 Maret 2026. Untuk sementara, Sushila Karki (mantan Ketua Mahkamah Agung) ditunjuk sebagai Perdana Menteri interim sekaligus menjadi perempuan pertama dalam sejarah Nepal yang menduduki posisi tersebut.
Namun, transisi ini jauh dari kata selesai. Luka fisik dan trauma akibat kekerasan aparat masih membekas sementara ketidakpercayaan publik terhadap elite politik makin mendalam.
Aksi pemuda Nepal membuktikan bahwa inspirasi politik kini tidak mengenal batas negara. Dari Jakarta hingga Kathmandu, suara generasi muda bergema, menolak nepotisme, menuntut transparansi, dan melawan praktik kekuasaan yang usang. Nepal hari ini sedang menulis ulang sejarahnya. Sebuah revolusi yang dipantik oleh generasi Z dengan jejak inspirasi yang sampai ke Indonesia
Sumber Data: ndtv.com, AP News, Politico, Reuters, Al Jazeera, the-independent, cbsnews, The Guardian, The Straits News, The Washington Post, TIME, Republic World, Indiatimes, CNA, bloomberg








