Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pelangi di Ujung Senja

Roy Burhanuddin by Roy Burhanuddin
26/09/2025
in Cecurhatan
Pelangi di Ujung Senja

Hidup, pada hakikatnya, adalah perjalanan panjang menuju keabadian. Namanya juga
perjalanan, tentu tak selalu mulus. Ada kalanya kita berjalan di atas jalan rigit beton seperti ruas-ruas kota minyak Bojonegoro, tetapi kerap pula harus menikung tajam, terpeleset di batu, atau terperosok ke dalam lumpur yang membuat langkah terseok.

Namun, menjadi manusia berarti satu, tetap berjalan. Sebab berhenti hanya akan membuat kita digilas waktu. Buya Hamka pernah berpesan untuk melewati badai, kita perlu terus melangkah, bukan berhenti Dan benar, untuk terus melangkah hanya ada dua bekal yang mesti kita genggam
erat yaitu keyakinan dan cinta.

Motor Supra 125 butut yang saya tunggangi mungkin tak seberapa nilainya, tetapi di atas jok tuanya banyak cerita tergores. Sampai suatu hari, sebuah paras teduh dengan selendang pelangi melintas di atas motor Beat berlogo organisasi mahasiswa, masuk begitu saja ke dalam kisah perjalanan saya.

Saya yang selama ini bahkan tak berani menyapa seorang gadis, apalagi memahami apa itu mencinta, tiba-tiba dipaksa berani. Gadis ini berbeda ia pernah patah, pernah terluka, dan menutup pintu hatinya rapat-rapat.

Namun entah bagaimana, Supra butut berhasil membuka gerbang yang ia kira takkan pernah berderit lagi. Sejak itu kami berjalan beriringan. Ia sembuh bersama saya, dan saya belajar mencinta bersamanya. Ada komitmen yang sederhana sekaligus agung di antara kami: saling menjaga, saling mengasihi, menemani ritme hidup. Hingga setiap fajar, saya merasa bukan alarm yang membangunkan, melainkan panggilan cinta.

Rilke pernah menulis, “Love consists of this: two solitudes that meet, protect, and greet each other” Cinta adalah dua kesendirian yang bertemu, lalu saling melindungi, saling menyapa. Dan benar, hidup saya mendadak penuh pelangi.

Bukan pelangi di langit, melainkan pelangi di dada warna-warni kebersamaan, tawa, bahkan air mata yang membuat dewasa. Gadis ini cantik tanpa perlu hiasan berlebih, baik tanpa harus menyombongkan, dan nriman dalam kesederhanaan yang justru membuatnya agung.

Kata Mahbub Djunaidi, hanya kejujuran, kepolosan, dan apa adanya yang mampu memikat hati. Bukan kosmetik sosial, bukan kilau palsu, bukan pula gemerincing harta. Dan di situlah saya menyerah—bukan karena kalah, melainkan karena akhirnya saya sadar cinta sejati bukanlah soal siapa yang paling indah, tetapi siapa yang paling sederhana, dan dalam kesederhanaannya, membuat hati ini enggan berpaling.
Jam dinding tak pernah lalai menagih usia. Detiknya menggilas dengan dingin, mengiris lapis demi lapis kenangan tanpa rasa iba. Empat tahun berjalan bersama, suka dan duka tak lagi bisa dihitung dengan jari.

Kadang kami tertawa sampai lupa dunia, kadang kami membisu dalam jarak yang tak bisa dijembatani kata. Pernah ada masa kami terpisah, entah karena alasan nyata atau sekadar kebodohan manusia.
Rasanya seperti menonton pertunjukan sulap murahan tiba-tiba bim salabim kami tidak lagi saling menyapa.

Diam panjang itu lebih menyakitkan daripada seribu pertengkaran. Sebab, di dalam diam, ada rindu yang dipenjara. Namun rumah tetaplah rumah. Sejauh kaki mencoba mengembara, pada akhirnya hanya pulang ke tempat yang paling mengenal dirinya.

Di sanalah segala keresahan menemukan teduh, segala kerikil kehidupan menjadi ringan. Bersamanya, senja terasa hangat, dan pelangi bukan lagi ilusi setelah hujan. Hari berganti, bulan berjalan, tahun berpacu. Hidup kami terasa seperti secangkir kopi: getirnya tak bisa dihindari, manisnya tak bisa dipaksa, dan justru perpaduan keduanya yang membuat rasa menjadi utuh.

Bukankah cinta tanpa luka hanyalah dongeng? Dan luka tanpa cinta hanyalah kehampaan? Tetapi, begitulah hukum alam: tidak semua yang kita genggam bisa kita miliki selamanya. Sekuat apa pun menahan, yang ditakdirkan lepas akan meluncur pergi seperti pasir di sela jari.

Supra tua dan Beat sederhana, dua kendaraan yang dulu setia mengiringi langkah akhirnya tiba juga di persimpangan jalan. Tanpa drama, tanpa tangis, kami memilih arah yang berbeda. Dan berpisah.

Ia kini memasuki senja: babak baru kehidupan yang segera dimulai. Dari jauh aku melihat langkahnya semakin dekat ke pintu masa depan. Senja, memang selalu indah. Tetapi keindahannya tak bisa dipisahkan dari getirnya indah karena warnanya, getir karena akhirnya.

Kini yang tersisa hanyalah simpul-simpul kenangan. Ada senyum di dalamnya, ada luka yang tak kunjung sembuh. Ia berhasil menemukan penawar pada seseorang yang baru, sementara aku masih terbata- bata, belajar mengobati diri sendiri. Luka ini bukan sekadar goresan melainkan retakan dalam, butuh waktu, keberanian, dan ketulusan untuk perlahan menyembuhkannya.

Tahukah kalian, kapan saat paling berat dalam melupakan? Bukan ketika aku menatap fotonya, bukan pula ketika telinga mendengar namanya disebut orang lain. Saat terberat adalah ketika aku berusaha keras melupakannya, namun ia justru hadir begitu nyata dalam mimpi.

Di sana, ia masih tersenyum, masih menggenggam tanganku, masih seolah tak pernah pergi. Lalu aku terbangun dan kenyataan menampar, ia bukan lagi milikku. Itulah luka paling sunyi. Luka yang tak terlihat darahnya, tetapi perihnya menembus hingga ke dasar jiwa.

Sakit, bahkan lebih sakit daripada yang sanggup dijelaskan kata. Kini aku duduk di tepi malam, menyaksikan hari berganti pelan, bertanya dalam hati apakah di ujung senja pelangi yang indah akan kembali datang? Ataukah senja hanya menutup lembaran lama tanpa janji?

Aku tak tahu. Yang kutahu hanyalah satu: cinta bukan soal siapa yang menggenggam paling erat, melainkan siapa yang berani merelakan dengan lapang. Dan untuk semua yang pernah ada, aku menyimpan doa.

Tags: PelangiRedupSenja
Previous Post

Hari Tani, Enam Dekade Janji

Next Post

Prabowo akan Akui Israel Sebagai Negara Hanya Jika.....

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: