Dua hari lagi, Tahun Baru Islam 1448 H datang. Pertanyaannya kini: mengapa, setiap kali 1 Muharram datang, kaum Muslim di berbagai penjuru dunia tidak merayakannya dengan tabuhan genderang dan letusan kembang api yang memecah cakrawala. Namun, mereka merenung?
Ini karena Tahun Baru Islam-1 Muharram-bukanlah untuk berpesta. Ia adalah tangisan zaman yang terdengar tanpa suara, sebuah pukulan telak pada gendang waktu yang menggetarkan relung jiwa yang paling dalam.
Sejarah menuturkan, pada 1 Muharram 1 H Rasulullah Saw. dan para sahabatnya tidak duduk di atas permadani sutra sambil menyantap kurma paling lezat dan menyesap susu kambing paling segar.
Namun, mereka sedang berhijrah. Mereka meninggalkan rumah-rumah mereka di Makkah, harta benda yang dirampas, dan sanak saudara yang menangis, menuju Yatsrib yang kelak berganti nama menjadi Madinah Al-Munawwarah.
Kita tahu, kalender Islam yang kita kenal kini tidak diciptakan oleh Rasulullah Saw. Namun, oleh Umar bin Al-Khaththab sekitar tahun 638 M. Suatu hari, sebelum itu, Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Basrah, mengirim surat yang intinya mengeluh, “Amirul Mu’minin. Kami menerima surat-surat darimu yang tidak bertanggal.”
Umar terdiam. Lalu, ia memanggil para penasihatnya. Ada yang mengusulkan Tahun Gajah (tahun kelahiran Rasulullah Saw.). Ada yang mengusulkan tahun wafatnya beliau. Namun, Ali bin Abu Thalib menyodorkan gagasan brilian, “Mulailah dari tahun hijrah. Karena itu adalah titik pisah antara kebenaran dan kebatilan. Antara penindasan dan kebebasan.”

Maka disepakati, Tahun 1 Hijriah dimulai pada 1 Muharram yang bertepatan dengan 16 Juli 622 M. Sebuah keputusan politik yang mengubah cara satu peradaban mencatat sejarah selamanya.
Inilah yang membuat peradaban Islam berbeda: mereka memilih bulan, bukan matahari. Tidak seperti Kalender Masehi yang mengikuti revolusi Bumi mengitari matahari (solar calendar), Kalendar Hijriah berpegang pada siklus rembulan (lunar calendar).
Para astronom Muslim di era keemasan-dari Al-Battani hingga Al-Biruni-telah mengukur bahwa satu tahun lunar hanya 354,367 hari. Dampaknya, setiap tahun hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dari tahun Masehi.
Akibatnya? Bulan Ramadhan, misalnya, bisa bergeser dari musim dingin ke musim panas dalam rentang satu dasawarsa. Puasa yang semula terasa ringan, karena siang pendek, tiga puluh tahun kemudian bisa membakar tenggorokan di bawah terik gurun pasir.
Namun, ini bukan kelemahan. Ini adalah disiplin kosmik. Kalendar lunar mengajarkan kepada umat Islam untuk tidak menganggap musim sebagai teman tetap. Namun, sebagai ujian yang terus berputar. “Hijrah mengajarkan kepada kita bahwa waktu bukanlah garis lurus di mana kita berjalan pasif. Waktu adalah lompatan iman,” tulis Thaha Husain, seorang pemikir kondang Mesir.
Kemudian, kita memasuki fase yang paling getir. Ketika mesin-mesin pabrik-pabrik di Manchester dan Liverpool, Inggris, menderu pada abad ke-19 M, dan Greenwich Mean Time dipaksakan sebagai poros dunia melalui Konferensi Meridian Internasional 1884, kalender Hijriah pun mulai tersudut.
Di negeri-negeri Muslim yang terjajah-dari Aljazair di bawah Prancis hingga Indonesia di bawah Belanda-kaum kolonialis secara sistematis menggusur kalender Hijriah dari ranah sipil. Gaji dihitung dengan kalender Masehi. Kontrak tanah menggunakan kalender Masehi. Sekolah-sekolah mengajarkan bahwa “tahun baru” adalah 1 Januari.
Kini, sebuah pertanyaan menggantung di udara, “Apakah kalender Hijriah kini mati?”
Tidak! Kalender Hijriah hanya mundur ke ruang-ruang yang lebih sakral. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, waktu masih diatur oleh bulan sabit. Para petani di pedalaman Maroko dan para nelayan di Aceh masih menabur benih dan melaut berdasarkan fase-fase bulan Hijriah. Ibn Khaldun, dalam Muqaddimahnya, sudah meramalkan keganjilan ini, “Setiap umat memiliki zamannya sendiri. Namun, ketika dua sistem waktu bertabrakan, yang lebih kuat bukanlah yang paling akurat secara ilmiah, namun yang paling berkuasa secara politik!”
Pada akhirnya, peringatan Tahun Baru Islam bukan sekadar tentang pawai obor atau menyanyikan lagu-lagu. Namun, ia tentang: kini, di dunia yang mabuk oleh angka, di mana manusia lebih peduli pada like di Instagram dan berapa followers di Tiktok, 1 Muharram membisikkan pertanyaan sederhana, “Sejauh mana engkau telah berhijrah hari ini?”
Hijrah kini bukan lagi perpindahan dari Makkah ke Madinah. Kini, hijrah adalah perpindahan dari kebohongan menuju kejujuran, dari ketamakan menuju kecukupan, dari kebencian menuju maaf. Dan, setiap 1 Muharram, sejatinya Allah Swt. tidak menuntut kita untuk menyalakan kembang api. Dia hanya menuntut kita untuk menyalakan kesadaran. Ya, kesadaran bahwa waktu adalah rahmat bagi yang terus berhijrah untuk kian dekat dengan Sang Pencipta.
Selamat Tahun Baru 1 Muharram. Semoga kita semua menjadi lebih baik dari setitik debu yang tertiup angin kemarin.







