Di tengah bau tanah basah yang belum sempat kering, kita mendengar suara Chay Asdak (Pakar hidrologi dari Universitas Padjadjaran) berbicara—pelan, tapi tajam seperti seseorang yang sudah terlalu sering menyaksikan manusia mengulangi kesalahan yang sama. Ia menyebut dua penyebab bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh. Namun sebenarnya, yang ia bicarakan bukan sekadar air yang turun dari langit atau angin yang memutar nasib.
Ia sedang memotret sebuah negeri yang terus membuat perjanjian rahasia dengan malapetaka. Yang pertama, katanya, adalah faktor alam: siklon yang berputar jauh di lautan namun berekor panjang hingga menusuk bukit-bukit di pedalaman. Topografi yang berpihak pada keindahan, tapi tidak pada keselamatan. Di lereng-lereng itu, hujan selalu datang sebagai tamu yang lembut lalu berubah menjadi algojo. Siklon tropis Senyar hanyalah nama kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar dan purba—kemurkaan bumi yang kita anggap sebagai dekorasi hidup kita.
Namun, bencana tidak pernah datang sendirian. Ada tangan manusia yang diam-diam ikut menandatangani kontraknya. Chay menyebutnya antropogenik—kata yang terdengar ilmiah, tetapi sesungguhnya berarti: kita sendiri yang menggeser batu terakhir hingga longsor itu terjadi. Tata guna lahan yang tak kunjung menemukan akal sehatnya.
Hutan yang ditebang seolah pohon-pohon itu hanya aksara yang bisa dihapus dan ditulis ulang semaunya. Sawit yang tumbuh seperti sebuah doa yang dipaksakan—subur, tapi tak pernah benar-benar berpihak pada rakyat. Food estate yang dijanjikan sebagai penyelamat, tapi sering kali hanya menambah babak baru ketimpangan.
Di antara fakta-fakta itu, ada imajinasi yang menolak diam: barangkali bukit-bukit di Sumatra pernah berbisik, “Peliharalah aku sebelum aku runtuh.” Namun siapa yang mau mendengar ketika bising mesin lebih memerintah daripada suara bumi?
Demokrasi yang kita banggakan pun sering kali hanya berdiri di pinggir sungai sambil memegang payung berlubang. Ia hadir, tapi tak cukup melindungi. Kita memilih, tapi tak benar-benar punya kuasa atas bagaimana tanah di bawah kaki kita diperlakukan. Ketidakadilan itu merayap, bukan hanya dalam bentuk proyek-proyek besar yang menyisakan lubang, tetapi juga dalam kematian yang datang tanpa peringatan bagi warga yang tak pernah ikut menandatangani izin penebangan pohon.
Pada akhirnya, bencana ini bukan lagi tentang alam versus manusia. Ini tentang manusia melawan akal sehatnya sendiri. Tentang negara yang terus menunda keberanian untuk mengatakan bahwa pembangunan tanpa empati adalah cara paling elegan menuju kehancuran.
Dan mungkin, seperti dalam cerita-cerita lama yang dikisahkan para ibu di malam yang gelap, bumi sebenarnya hanya sedang menunggu kita belajar sesuatu yang sederhana: bahwa keadilan bagi tanah adalah keadilan bagi manusia. Bahwa siklon hanya menjadi bencana ketika kita sendiri telah mengosongkan segala penyangganya.
Sampai hari itu tiba, Sumatra akan terus menjadi panggung di mana air dan tanah saling berpelukan dengan cara paling menyakitkan—sementara kita, penontonnya, masih berdebat tentang siapa yang patut disalahkan.
Hujan yang turun sejak pertengahan November terasa seperti sebuah kisah yang enggan selesai. Ia mengetuk atap-atap rumah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan ritme murung, seolah membawa sebuah kabar yang tak ingin kita dengar.
Di balik tirai air itu, tersembunyi satu penggerak sunyi: bibit siklon tropis 95B yang tumbuh diam-diam di Selat Malaka, di wilayah yang selama ini kita kira terlalu dekat dengan garis khatulistiwa untuk melahirkan angin sebesar itu. Namun nyatanya, bibit kecil itu menguat, mengembang, dan akhirnya diberi nama—Siklon Tropis Senyar. Sebuah nama yang terdengar indah, tapi menyimpan cerita luka.
Fenomena ini jarang, kata para ahli. Langka, seperti sesuatu yang seharusnya menjadi anomali. Tapi mungkin alam sudah lama memberi pertanda bahwa “kelangkaan” bukan lagi kata yang bisa kita jadikan tameng. Bahwa kejadian yang dulu hanya muncul sekali dalam puluhan tahun kini mengetuk pintu kita dengan frekuensi yang lebih gelisah.
Di tengah riuh banjir dan longsor, terselip suara Direktur Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, yang berkata, “Fenomena seperti Senyar mungkin langka, tetapi bukan tidak mungkin terulang. Kesiapsiagaan adalah kunci.” Kata-katanya seperti sebuah peringatan dari seseorang yang telah lama berdiri di tepi jurang dan melihat dasar gelapnya. Bahwa masa depan tidak menunggu kita siap—ia bergerak, dengan atau tanpa kemampuan kita menghadapinya.
Namun di balik pernyataan itu, ada ironi besar yang menyentuh urat paling sensitif dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Kita berbicara tentang mitigasi seolah sedang membicarakan sesuatu yang teknis: sistem peringatan dini, kanal-kanal air, peta risiko, simulasi bencana. Padahal, mitigasi bukan hanya soal alat dan teknologi. Ia adalah cermin dari keberpihakan. Sejauh apa kita menilai nyawa manusia? Sejauh apa negara memberikan ruang bagi ilmu pengetahuan untuk menentukan arah pembangunan, bukan sekadar menjadi catatan kaki dalam dokumen proyek?
Ketika bencana datang, yang tenggelam bukan hanya rumah-rumah—melainkan juga harapan orang-orang yang selama ini hidup di daerah yang disebut rawan, padahal sebenarnya mereka hanya rawan dilupakan. Demokrasi selalu menjanjikan kesetaraan, tetapi air bah berkali-kali membuktikan bahwa tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk selamat.
Siklon Senyar mungkin tercatat sebagai fenomena atmosfer. Tetapi jika kita membaca lebih dalam, ia juga adalah metafora tentang hubungan kita dengan bumi, dengan negara, dan dengan masa depan. Kita sering berpikir bahwa alam yang berubah-lah yang mengancam kita. Padahal barangkali, ketidakmampuan kita berubah jauh lebih berbahaya.
Dan sampai hari ketika kita benar-benar mengakui itu—bahwa mitigasi bukan hanya urusan teknokrat, tetapi urusan moral—hujan akan terus jatuh seperti pengingat yang sabar, namun tak kenal lelah.
Ketika hujan ekstrem dan siklon yang “seharusnya tak mungkin” terjadi kini mulai menyentuh wilayah yang dulu aman. Jawabannya: bukan mustahil peristiwa serupa sampai di tempat kita — jika “tempat kita” adalah bagian dari Indonesia yang berada dalam selimut perubahan iklim yang sama.
Fenomena seperti Siklon Senyar pada dasarnya bukan sekadar kejadian meteorologis. Ia adalah pesan terbungkus angin tentang bagaimana iklim global telah berubah, dan bagaimana batas-batas geografis yang dulu kita anggap sebagai perlindungan—garis khatulistiwa, suhu laut, pola musim—mulai kehilangan kekuatannya.
Kita hidup di zaman ketika langit tak lagi menepati janji-janji lamanya. Dulu, cuaca datang seperti tamu yang sopan—dapat ditebak, membawa pola yang kita kenal sejak kecil. Namun kini, atmosfer terasa lebih hangat, lebih basah, seperti seseorang yang menyimpan kegelisahan dalam dada.
Dan kegelisahan itu selalu menemukan jalan keluar: dalam hujan yang jatuh tanpa jeda di tempat-tempat yang selama ini jarang disapa badai, atau dalam angin yang tiba-tiba tumbuh menjadi ancaman di wilayah yang dulu dianggap “aman”.
Perubahan iklim tak hanya mengubah suhu; ia mengubah kosakata alam. Apa yang dulu disebut anomali, kini hanya satu bab dalam buku harian bumi. Kita pernah percaya bahwa daerah dekat khatulistiwa terlalu stabil untuk melahirkan siklon. Bahwa ada hukum alam yang melindungi kita dari badai berputar.
Namun Senyar datang—seperti seorang tamu yang melanggar semua etika kunjungan. Ia membuktikan bahwa laut yang lebih hangat dan angin yang condong sedikit saja bisa melahirkan pusaran besar di perairan kita. Masih jarang, ya. Tetapi jarang tak lagi berarti mustahil. Dalam 10 atau 20 tahun terakhir, garis antara “tak mungkin” dan “bisa terjadi” telah memudar.
Dan ketika badai seperti Senyar bertumbuh di kejauhan, ia tak harus datang mengetuk pintu kita secara langsung untuk meninggalkan jejak. Sama seperti seseorang yang membanting pintu di rumah sebelah—kita tetap merasakan dentuman itu pada dinding, pada lantai, bahkan pada dada kita sendiri.
Hujan ekstrem, angin yang menjerit melewati celah jendela, gelombang yang meninggi, banjir dan longsor: itulah gema dari badai yang tak singgah, tetapi cukup dekat untuk membuat tanah kita retak oleh kecemasan.
Namun sesungguhnya, ancaman terbesar bukan datang dari langit. Ia lahir dari apa yang kita lakukan pada bumi di bawah kaki kita. Dari drainase yang tersumbat sampah, dari hutan yang disobek habis seperti kertas lusuh, dari lahan yang dipaksa menjadi perkebunan atau perumahan tanpa jeda untuk bernapas.
Dari rumah-rumah yang berdiri rapuh di bantaran sungai—tempat yang sebenarnya sudah lama memberi isyarat agar tidak didiami, tetapi tetap kita paksakan dalam nama kebutuhan hidup.
Di daerah seperti itu, bencana tidak perlu alasan besar. Cukup setetes hujan tambahan, cukup satu malam yang terlalu basah. Maka, ketika ditanya apakah peristiwa semacam ini bisa terjadi di tempat kita, jawabannya sederhana namun berat: bisa.
Bukan karena kita berada dalam jalur siklon, tetapi karena cuaca ekstrem telah kehilangan sopan santunnya. Batas-batas geografis, yang dulu kita banggakan sebagai perlindungan alamiah, kini tak lagi cukup menghentikan perubahan yang melaju.
Tapi ini bukan undangan untuk panik. Ini undangan untuk waras. Untuk mulai menata ruang dengan keberanian yang selama ini kita tunda. Untuk menguatkan peringatan dini sebelum kita kembali dikejutkan oleh suara air di tengah malam.
Untuk memulihkan hutan dan tanah, sebelum keduanya memutuskan meninggalkan kita. Karena pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan sekadar tindakan teknis—ia adalah bentuk cinta paling sederhana kepada kehidupan yang ingin terus kita jalani.[]








