Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
02/12/2025
in Figur
Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika

Muhammad Abdus Salam (1926-1966)

Penciptaan fisika merupakan warisan bersama seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan bersama-sama berpartisipasi di dalamnya — Prof. Abdus Salam (1926-1966) 

STOCKHOLM, Desember 1979.
Pada suatu hari di bulan itu, di salah satu kota di Swedia tersebut, sebuah nama seorang ilmuwan Muslim disebut sebagai penerima Hadiah Nobel di bidang fisika. Ilmuwan yang secara intelektual kerap kesepian di negaranya sendiri itu kerap mengutip ayat-ayat Alquran dalam tulisan-tulisannya.

Ia memimpikan Dunia Islam seperti halnya Baghdad Madinah Al-Salam dan Cordoba saat jaya: menjadi pusat ilmu pengetahuan. Baginya, fisika adalah doa. Kemudian, ketika dalam penerimaan hadiah yang sangat prestigius tersebut, sang ilmuwan menyampaikan pidatonya, antara lain, sebagai berikut:

“Paduka Raja, Paduka Yang Mulia dan Para Hadirin. Saya sangat terharu dan merasa terhormat oleh kata-kata penuh penghargaan dari juru bicara Anda, atas nama Nobel Foundation dan Royal Academy of Sciences, Swedia. Saya menerima penghargaan ini dengan rasa terima kasih dan kerendahan hati yang mendalam. Penghargaan ini bukan hanya kehormatan besar bagi saya pribadi. Namun, juga bagi negara saya dan rekan-rekan sebangsa, yang selalu mendorong saya dalam mengejar pengetahuan ilmiah.

Atas nama rekan-rekan saya, Profesor Glashow dan Profesor Weinberg, saya menghaturkan terima kasih kepada Nobel Foundation dan Royal Academy of Sciences, Swedia atas kehormatan besar dan penghargaan yang dianugerahkan kepada kami. Termasuk penghargaan kepada saya, karena sambutan ini saya sampaikan dalam bahasa saya, bahasa Urdu.

Pakistan sangat berutang budi kepada Paduka Yang Mulia untuk ini. Penciptaan fisika merupakan warisan bersama seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan bersama-sama berpartisipasi di dalamnya. Dalam Kitab Suci Islam, Allah berfirman, ‘Engkau tidak melihat, dalam penciptaan Yang Mahakuasa segala ketidaksempurnaan, Kembalikan pandanganmu, lihatlah setiap celah. Kemudian Kembalikan pandanganmu, lagi dan lagi. Tatapanmu, Kembali ke kamu terpesona, aweary.’

Ini pada dasarnya adalah keyakinan semua fisikawan: semakin dalam kita mencari, semakin menakjubkan keajaiban kita, semakin memesona pandangan kita. Saya mengatakan hal ini tidak hanya untuk mengingatkan orang-orang yang hadir di sini pada malam ini. Namun, juga bagi mereka di Dunia Ketiga, yang merasa kalah dalam mengejar pengetahuan ilmiah, karena kurangnya kesempatan dan sumber daya.

Alfred Nobel menekankan bahwa tiada perbedaan ras atau warna bagi siapa pun yang menerima hadiahnya. Pada kesempatan ini, izinkan saya mengatakan ini kepada mereka yang dianugerahi karunia Tuhan ini. Mari kita berusaha untuk memberikan kesempatan yang sama bagi semua, sehingga mereka dapat terlibat dalam penciptaan fisika dan sains untuk kepentingan semua umat manusia. Ini benar-benar merupakan semangat Alfred Nobel dan cita-cita yang mewarnai hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati kita!”

Ternyata, untuk meraih penghargaan luar biasa tingkat dunia itu, jalan panjang dan berliku harus dilewati pasangan suami-istri Chaudhry Muhammad Hussain dan Hajira Hussain yang lahir di Jhang, Pakistan pada 29 Januari 1926 M ini. Jalan keilmuan, sejatinya, telah terbentang baginya sejak kecil. Keluarganya memiliki tradisi panjang dalam kesalehan dan kegemaran belajar. Setiap pulang sekolah, ia menerima pertanyaan ayahnya, tentang apa yang ia pelajari. Juga, ia mendapat bantuan bahan pendidikan dari pamannya yang pernah menjadi pendakwah di Afrika Barat.

Meraih Predikat sebagai Wrangler

Ketika berusia 14 tahun, anak itu membuat “sensasi nasional”: ia berhasil mengukir prestasi tertinggi yang pernah tercatat dalam ujian matrikulasi di Punjab University. Jhang, kota kecil yang menjadi tempat kelahirannya, bersuka cita atas prestasi itu. Sepanjang jalan, penduduk kota yang terbelakang tradisi keilmuannya itu berjejer panjang menyambutnya. Anak itu tidak lain adalah Abdus Salam, Muslim pertama yang menerima Hadiah Nobel. Di bidang fisika.

Abdus Salam dilahirkan di lingkungan keluarga menengah bawah. Ayahnya seorang pegawai negeri di kota kecil itu. Meski dihadapkan pada kesulitan finansial, sejak kecil ia telah menunjukkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Juga, ia telah mempelajari buku-buku tentang matematika dan fisika dengan tekun. Sehingga, akhirnya setelah lulus sekolah menengah, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas Punjab.

Ternyata, ketika menimba ilmu di Universitas Punjab, meski memiliki bakat dan semangat belajar yang kuat, Abdus Salam menghadapi banyak hambatan dalam pendidikan. Meski menghadapi tantangan yang demikian, ia tetap belajar dengan tekun dan berhasil meraih gelar sarjana di bidang matematika dan fisika dengan nilai yang sangat baik.

Ia bahkan berhasil meraih penghargaan medali emas universitas. Lantas, pada 1946, Abdus Salam melanjutkan pendidikan pascasarjana di St. John’s College, Universitas Cambridge di Inggris. Universitas Cambridge pada masa itu merupakan salah satu universitas terkemuka di dunia di bidang sains dan menjadi pusat bagi banyak ilmuwan dan peneliti terkemuka.

Berkaitan dengan beasiswa yang ia terima untuk menimba ilmu di universitas kondang di seluruh dunia itu, ia mengemukakan, “Tidak perlu ditanyakan, saya sangat beruntung. Tanpa beasiswa itu, mustahil saya mampu membiayai diri kuliah di Universitas Cambridge.”

Sebelumnya, ayahnya senantiasa berdoa agar anaknya dapat melanjutkan menimba ilmu hingga tahap paling tinggi. Ia yakin, beasiswa tersebut merupakan jawaban Tuhan atas doa ayahnya. Belakangan ia pindah dari St. John’s College ke Trinity College di universitas yang sama.

Di lingkungan baru itu, ia meraih predikat wrangler (ahli matematika jempolan dalam tradisi Universitas Cambridge). Kemudian, pada usia 24 tahun, ia menerima Smith’s Prize, sebagai penghargaan atas kontribusinya di bidang fisika.

Meski memperoleh beasiswa, namun kehidupan Abdus Salam di Inggris tidak selalu mudah. Meski memiliki bakat luar biasa, ia menghadapi beberapa tantangan selama studinya di Universitas Cambridge. Seperti halnya kebanyakan mahasiswa asing yang belajar di Inggris pada masa itu mengalami kesulitan finansial, Abdus Salam juga menghadapi hal yang sama.

Ia terpaksa bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa dan mencari sumber penghasilan tambahan untuk membiayai studinya. Tantangan lain yang ia hadapi selama studinya di Inggris adalah masalah diskriminasi rasial. Sebagai seorang Muslim dari Pakistan, ia kerap mengalami diskriminasi dan dianggap sebagai orang asing oleh beberapa orang. Namun, ia tidak pernah menyerah. Ia terus bekerja keras dan berusaha menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya.

Selama belajar di Universitas Cambridge, Abdus Salam belajar fisika teoretis di bawah bimbingan ilmuwan terkemuka seperti Paul Dirac, Nevill Francis Mott, John Cockcroft dan William Lawrence Bragg. Ia juga bergabung dengan kelompok riset teoretis yang dipimpin beberapa ilmuwan terkemuka seperti Freeman Dyson dan John Polkinghorne. Selain itu, selama di Universitas Cambridge, ia terus menunjukkan bakatnya di bidang fisika teoretis.

Ia memenangkan beberapa penghargaan dan hadiah. Akhirnya, selepas “berjuang” selama beberapa tahun, pada 1951 ia berhasil meraih gelar PhD dengan disertasi berjudul “Developments in Quantum Theory of Fields”. Disertasi ini membahas tentang pengembangan teori kuantum bidang. Utamanya dalam kaitannya dengan interaksi elektromagnetik. Disertasi ini juga membahas tentang konsep fisika partikel dan teori gauge yang sangat penting dalam fisika modern.

Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Cambridge, di bawah bimbingan Nicholas Kemmer, suami Amtul Hafeez Begum dan Louise Johnson ini kembali ke Pakistan, menjadi profesor di Government College University Lahore. Namun, ia merasa, lingkungan akademik di Pakistan ternyata tidak cukup memadai untuk mengejar kariernya sebagai seorang fisikawan.

Abdus Salam kemudian, pada 1954, memutuskan kembali ke Inggris dan bergabung dengan Atomic Energy Research Establishment di Harwell. Pada awalnya, ia berharap dapat membantu memperbaiki pendidikan ilmiah di Pakistan dari Inggris.

Namun, setelah beberapa waktu, ia mulai merasa bahwa ia dapat memberikan lebih banyak kontribusi dengan mengejar kariernya sebagai seorang fisikawan di Inggris. Hal ini juga diperkuat oleh kenyataan bahwa saat itu Inggris merupakan tempat yang paling ideal untuk mengejar bidang fisika, dengan banyaknya ilmuwan terkenal yang berkumpul di sana.

Sejatinya, keputusan ini sangat berat bagi Abdus Salam. Terutama karena ia merasa bertanggung jawab untuk membangun pendidikan ilmiah yang lebih baik di Pakistan. Namun, ia juga sadar, keputusannya akan membuka jalan bagi banyak ilmuwan dan mahasiswa di Pakistan untuk mengejar karier di bidang fisika.

Dengan demikian, Abdus Salam menambah jumlah brain drainer di Asia yang amat memerlukan pribadi-pribadi berbakat. Ia merasakan, betapa menderitanya terkucil dari lingkungan ilmiahnya sendiri. Ia sadar, masih banyak ilmuwan yang senasib dengannya: merasa kesepian di negara mereka yang belum maju.

Dengan kata lain, menjadi ilmuwan yang hidup tanpa jurnal ilmiah, tiada kompensasi, tiada kritik dan tiada sentuhan ide-ide baru. Sejatinya, ia tidak ingin daftar migrasi orang-orang pintar dari negara belum maju ke negara-negara maju kian meningkat. Brain-drain cukup sampai pada dirinya saja.

Mengakhiri Kesepian di Italia

Di Inggris, ayah enam anak ini menduduki jabatan yang mantap. Di negeri itu, ia diangkat sebagai profesor di Imperial College, salah satu universitas riset terbaik di dunia dan memiliki reputasi yang sangat baik dalam hal riset ilmiah dan pengembangan teknologi, untuk memulai Departemen Fisika Teori. Tahun itu pula, ia terpilih sebagai peserta termuda The Royal Society of London for Improving Natural Knowledge, yang biasa disebut sebagai Royal Society, sebuah organisasi ilmiah yang didirikan di Inggris pada 1660 dan bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan. Termasuk matematika, fisika, kimia, biologi dan ilmu-ilmu lainnya.

Meski kini berada di Inggris, namun Abdus Salam tetap tidak pernah kehilangan kedekatan pribadi dan profesionalnya dengan negaranya: Pakistan. Juga, meski tidak lagi memiliki jadwal akademisnya di negaranya, namun selama delapan tahun ia menjadi penasihat keilmuan bagi presiden Pakistan kala itu: Ayub Khan. Hubungan di antara keduanya pun segera menjadi informal.

Berkaitan dengan peran Abdus Salam di Pakistan, salah seorang teman sejawatnya, Ishrat Usmani, yang menjabat Ketua Komisi Energi Atom Pakistan kala itu, menyatakan, “Kebanyakan upaya ilmiah di Pakistan dipengaruhi imajinasi Abdus Salam dan bobot kepribadiannya. Salam adalah simbol kebanggaan dan prestise bangsa kami, di dunia ilmu pengetahuan.”

Di sisi lain, jejak langkah Abdus Salam sebagai warga dunia kian berpendar cemerlang. Ketika berusia 29 tahun, ia menjadi scientific secretary Konferensi Atom untuk Perdamaian yang pertama kali diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Ia pun jatuh cinta pada lembaga dunia itu. Selain itu, ia membantu pendirian United Nations Advisory Committee for Science and Technology dan menjadi anggota aktif komite itu sejak 1963 M.

Dalam perjalanan hidup Abdus Salam selanjutnya, ketika berusia sekitar 34 tahun, ia mengusulkan pembentukan International Centre for Theoritical Physics (ICTP) kepada Badan Tenaga Atom International (International Atomic Energy Agency). Namun, gagasannya tersebut disambut dingin oleh negara-negara maju.

Namun, negara-negara maju itu tidak dapat menolak dukungan penuh semangat dari negara-negara berkembang. Beda dengan negara-negara maju lainnya, Italia ternyata memilih berdiri di belakang Abdus Salam. Negara itu bersedia memberikan dukungan keuangan yang paling besar selama empat tahun pertama pusat itu beroperasi dan secara berkala memberikan sumbangan.

Dukungan dana juga datang dari Badan Tenaga Atom Internasional dan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization), sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didirikan untuk mempromosikan kerjasama internasional di bidang pendidikan, sains dan kebudayaan.

Berikut, Swedish International Development dan Ford Foundation juga memberikan dukungan dana.
Pada 1964, lembaga yang didam-idamkan Abdus Salam pun berdiri di Trieste, Italia. Segera, lembaga ini menjadi pusat pertemuan para teoretisi kondang fisika dari Barat dan Timur.

Di lembaga tersebut, para fisikawan dari negara-negara maju dan berkembang berkumpul. Mereka saling berdiskusi, berkomunikasi tentang kabar terakhir ilmu mereka, belajar tentang teknik paling baru, meningkatkan kemampuan mereka, mengkaji gagasan mutakhir, atau sekadar menimba ilmu di perpustakaan.

Lewat lembaga tersebut, Abdus Salam mengakhiri kesepian para ilmuwan yang bekerja di negara-negara berkembang. “Tak boleh lagi ada teoretisi yang menderita seperti saya saat di Lahore!” ucapnya tentang salah satu tujuan pendirian lembaga itu. Dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin, para fisikawan berdatangan untuk menghabiskan beberapa minggu atau bulan di Trieste. Yang menarik, pusat itu membiayai semua keperluan mereka di sana.

Segera, di bawah kepimpinanan Abdus Salam, ICTP mengalami pergeseran perhatian terhadap ilmu pengetahuan. Ia sangat menaruh perhatian atas nasib negara-negara berkembang yang dieksploitasi oleh negara-negara maju. Lembaga tersebut telah berusia dua belas tahun ketika perhatian lembaga itu beralih dari fisika dasar ke fisika yang lebih relevan dengan keperluan negara-negara berkembang.

“Kami mengerjakan karya-karya post-doct bukan dengan kaca mata laboratorium yang ada di kebanyakan negara. Namun, harapannya adalah jika Anda memiliki dosen-dosen yang telah bekerja, seperti dalam fisika zat padat, maka generasi berikutnya paling tidak akan memiliki orientasi yang sifatnya lebih industrial,” ucap Abdus Salam.

Seperti Melayang di Atas Awan

Selepas berada kembali di Inggris dan bergabung dengan Imperial College London, Abdus Salam terus meneliti tentang fenomena fisika teoretis. Ia juga memainkan peran penting dalam pengembangan teori elektrolemah, yang menggabungkan teori elektromagnetik dengan interaksi lemah. Dalam riset tersebut, ia bekerja sama dengan dua fisikawan lainnya, Sheldon Glashow dan Steven Weinberg.

Lantas, pada 1979, Abdus Salam menerima penghargaan Hadiah Nobel di bidang fisika, bersama Sheldon Lee Glashow dan Steven Weinberg, atas kontribusi mereka dalam pengembangan Teori Keterpaduan Elektrolemah. Riset mereka tentang teori ini memberikan kontribusi besar bagi fisika modern dan mengubah cara pandang tentang sifat dasar semesta alam.

Dalam riset mereka, Abdus Salam, Glashow dan Weinberg berhasil membangun teori tersebut dan mengidentifikasi partikel dasar baru yang disebut boson W dan boson Z yang bertanggung jawab atas interaksi lemah antara partikel.

Penemuan ini sangat penting bagi ilmu fisika dan digunakan untuk membangun Model Standar Fisika Partikel, yang merupakan kerangka kerja teoretis yang menyatukan tiga kekuatan dasar, yaitu elektromagnetik, lemah dan kuat. Dengan sumbangsih besar ini, ia dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah fisika modern dan diakui sebagai ahli fisika paling terkemuka di Pakistan.

Seperti diketahui, proses pemberian Hadiah Nobel pada umumnya dimulai pada bulan Oktober setiap tahun, ketika Royal Swedish Academy of Sciences mengumumkan para pemenang Hadiah Nobel di bidang Fisika, Kimia dan Ekonomi. Abdus Salam, bersama dengan Glashow dan Weinberg, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Fisika pada tanggal 16 Oktober 1979. Setelah pengumuman resmi dipublikasikan, para pemenang hadiah mulai dipersiapkan untuk menerima penghargaan mereka di apacara penganugerahan Hadiah Nobel pada bulan Desember 1979 di Stockholm, Swedia.

Acara penganugerahan Hadiah Nobel tersebut dapat dikatakan merupakan sebuah acara yang sangat penting dan dipandang sebagai salah satu acara paling bergengsi di dunia. Setiap tahun, para pemenang Hadiah Nobel dari berbagai bidang diberikan hadiah yang terdiri dari sebuah medali emas, sertifikat penghargaan dan hadiah uang sebesar delapan juta krona Swedia (setara dengan sekitar 1.1 juta dollar AS pada saat itu). Selain itu, mereka juga diundang untuk menghadiri acara makan malam mewah dengan keluarga kerajaan Swedia. Juga, mereka mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan para pemimpin dan ilmuwan terkemuka dari seluruh dunia.

Abdus Salam sendiri sangat terharu ketika ia mengetahui mendapat penghargaan Hadiah Nobel di bidang Fisika. Ia mengatakan bahwa ia merasa seperti sedang melayang di atas awan ketika ia menerima kabar tersebut. Baginya, penghargaan ini bukan hanya sebuah pengakuan terhadap karyanya. Namun, juga merupakan pengakuan terhadap Pakistan dan komunitas ilmiah Muslim di seluruh dunia.

Ketika menerima hadiah Nobel, Abdus Salam memberikan pidato yang berfokus pada pentingnya kebebasan ilmiah dan kolaborasi internasional dalam kemajuan pengetahuan dan teknologi. Pidatonya, yang berjudul “Ideals and Realities” (“Ideal dan Realitas”), ia sampaikan di Oslo, Norwegia pada 10 Desember 1979.

Dalam pidato tersebut, seperti dikemukakan di muka, Abdus Salam menekankan pentingnya mempromosikan kebebasan ilmiah dan menghargai hasil kerja para ilmuwan dari berbagai negara. Ia juga membahas peran masyarakat dunia dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan harapan bahwa hadiah Nobel dapat membantu memperkuat hubungan internasional dan menginspirasi generasi muda untuk mengejar ilmu pengetahuan dan inovasi.

Selain itu, ia juga mengucapkan terima kasih atas penghargaan tersebut dan menghargai kerja para ilmuwan lainnya dalam riset fisika. Ia juga mengemuakakan tentang pentingnya membangun hubungan yang baik antara negara-negara di dunia. Utamanya melalui kerjasama ilmiah.

Secara ringkas, Abdus Salam menggambarkan visinya tentang peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memajukan dunia serta harapannya untuk mengembangkan kolaborasi global dalam mempromosikan kebebasan ilmiah dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pidatonya merupakan inspirasi bagi para ilmuwan dan masyarakat di seluruh dunia, serta memperlihatkan betapa pentingnya kerjasama internasional dalam mencapai tujuan bersama.

Setelah menerima penghargaan Nobel, Abdus Salam kembali ke Pakistan dan terus bekerja keras untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di negaranya. Ia memimpin berbagai proyek riset dan pengembangan teknologi di Pakistan. Termasuk mendirikan Theoretical Physics Group di Pakistan Atomic Energy Commission dan International Nathiagali Summer College on Physics and Contemporary Needs.

Selain itu, ia juga terus bekerja sama dengan para ilmuwan internasional dalam meningkatkan kerja sama dan pertukaran ilmu pengetahuan antara Pakistan dan negara-negara lain. Ia juga menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Dunia Ketiga dan bekerja keras untuk memperkuat jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara berkembang.

Namun, karier dan karya Abdus Salam terhenti pada tahun 1974. Ini karena pemerintah Pakistan mengeluarkan undang-undang yang menyatakan bahwa Ahmadiyah, sebuah kelompok minoritas Muslim yang ia menjadi anggotanya, bukanlah Muslim. Hal ini membuat ia dinyatakan sebagai non-Muslim dan dilarang melakukan ibadah di negaranya sendiri.

Ia pun meninggalkan Pakistan dan mulai bekerja di luar negeri. Ia kemudian menjadi profesor di Imperial College London dan tetap aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Pakistan melalui yayasan yang didirikannya, yaitu The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics di Trieste, Italia.

Sepuluh Pesan untuk Para Ilmuwan Muda

Di samping menerima Hadiah Nobel, fisikawan yang berpendapat bahwa “fisika adalah suatu bentuk doa” ini juga mendapat berbagai penghargaan (awards) dan menjadi anggota kehormatan masyarakat akademis internasional. Antara lain Adam’s Prize (1378 H/1958 M), Atoms for Peace Medal and Award (1388 H/1968 M), J. Robert Oppenheimer Memorial Medal and Prize (1391 H/1971 M), Royal Medal (1398 H/1978 M), Einstein Medal (1399 H/1979 M) dan Peace Medal (1401 H/1981 M). Sedangkan karya-karya tulisnya yang telah diterbitkan lebih dari 200 buah.

Penerima 46 gelar doktor “honoris causa” ini, sejak 1957 M hingga 1993 M, berpulang di Inggris pada Kamis, 21 November 1996 M, selepas mengalami komplikasi kesehatan yang berkaitan dengannparkinson dan diabets. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman Bahisti Maqbara, Rabwah, Lahore.

Meski ia tidak lagi dianggap sebagai warga negara Pakistan karena keyakinannya, ia tetap dihormati di seluruh dunia sebagai ilmuwan terkemuka dan pejuang hak asasi manusia. Karya-karyanya telah menginspirasi banyak orang, terutama di negara-negara berkembang, untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi serta untuk mengatasi diskriminasi dan ketidakadilan.

Dalam sebuah wawancara sebelum kematiannya, Abdus Salam menyatakan harapannya bahwa ilmu pengetahuan dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi manusia di seluruh dunia dan membawa perdamaian dan kemakmuran bagi semua orang.

Pesan-pesan Prof. Abdus Salam

Baru dua tahun kematiannya, Pakistan secara resmi mengakui kontribusi besar yang diberikan Abdus Salam di bidang fisika dan memberikan penghargaan tertinggi negara tersebut, Nishan-e-Imtiaz, secara anumerta kepada ilmuwan kondang yang meninggalkan beberapa karya tulis tersebut. Antara lain adalah The Holy Quran and Science, The Golden Age of Science in Islam, Faith and Science, Renaissance of Sciences in Islamic Countries, From a Life of Physics, Unification of Fundamental Forces: The First of the 1988 Dirac Memorial Lectures, dan Poor As A Nation.

Di sisi lain, Abdus Salam tidak pernah jemu mengemukakan pesan-pesannya untuk para ilmuwan muda, utama-utamanya para ilmuwan muda dari negara-negara berkembang:

Pertama, memiliki semangat yang kuat dan tekad yang keras dalam mengejar cita-cita ilmu pengetahuan, meski dalam kondisi yang sulit dan minim dukungan.

Kedua, memiliki rasa kebanggaan dan cinta terhadap negara dan budaya masing-masing, di samping juga memahami pentingnya kerjasama internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiga, memiliki tekad dan semangat yang tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara berkembang, sehingga dapat mempercepat kemajuan dan kemakmuran di masa depan.

Keempat, terus belajar dan berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kelima, memiliki rasa tanggung jawab sosial dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umat manusia dan lingkungan hidup.

Keenam, tetap rendah hati dan terus belajar dari orang lain, tanpa mengurangi semangat dan kepercayaan diri dalam mencapai cita-cita ilmu pengetahuan.

Ketujuh, berani mengambil risiko dan berinovasi dalam menemukan solusi untuk masalah-masalah yang kompleks dan sulit di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kedelapan, menjaga hubungan yang baik dan saling mendukung dengan sesama ilmuwan dan profesional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kesembilan, mendorong kolaborasi antara ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dan negara, serta memperluas wawasan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman.

Kesepuluh, mengembangkan keterampilan sosial dan kepemimpinan yang kuat, sehingga dapat berkontribusi positif pada masyarakat dan membantu memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara yang bertanggung jawab dan beretika.

Lebih jauh, Abdus Salam berpesan:
“Masa depan adalah milik mereka yang kreatif, inovatif, dan dapat beradaptasi. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Oleh karena itu, para ilmuwan harus bersedia untuk terus belajar, melupakan pengetahuan yang sudah tidak relevan dan belajar kembali agar tetap berada di garis depan di bidangnya. Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, yang terus berubah dengan cepat, sangat penting bagi para ilmuwan untuk tetap fleksibel dan dapat beradaptasi serta mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain, untuk mengatasi masalah kompleks yang dihadapi masyarakat kita.”

Pesan-pesan yang menarik dan indah!@ru

 

Previous Post

Bumi Sudah Berteriak, Kita Masih Sibuk Berkebun Bencana

Next Post

Ketika Bukit Barisan Menjadi Luka yang Tak Kita Obati

BERITA MENARIK LAINNYA

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro
Figur

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro

13/12/2025
Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!
Figur

Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!

12/12/2025
Ummu Kultsum, Sang Bintang Timur dari Negeri Piramid
Figur

Ummu Kultsum, Sang Bintang Timur dari Negeri Piramid

11/11/2025

Anyar Nabs

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

19/01/2026
Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

18/01/2026
Pasar Kota sebagai Ruang Transaksi Modern yang Humanis

Pasar Kota sebagai Ruang Transaksi Modern yang Humanis

17/01/2026
Limolasan: Memahami Esensi Universitas Kuno Asram Bramacari

Limolasan: Memahami Esensi Universitas Kuno Asram Bramacari

16/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: