Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
16/02/2026
in Cecurhatan
Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw

Ilustrasi: Ziarat Madinah

MADINAH, Sya‘ban Tahun Ke-2 H. Hari itu, angin gurun berhembus pelan di lorong-lorong Madinah. Bulan Sya‘ban hampir usai. Di Masjid Nabawi, Rasulullah Saw. sedang duduk bersandar di tiang kurma, dikitari para sahabat yang wajah-wajah mereka telah diukir oleh cahaya iman. Di antara mereka ada Abu Bakar Al-Shiddiq yang berwajah teduh, Umar bin Al-Khaththab yang tegas, Ali bin Abu Thalib yang masih muda usia, dan Bilal bin Rabbah yang suaranya telah melangit. Juga, ada Qais bin Sirmah Al-Anshari: seorang petani yang tangannya kapalan dan punggungnya membungkuk, karena setiap hari membelah tanah di bawah terik matahari.

Kala itu, mereka belum tahu bahwa bulan yang akan datang-Ramadhan 2 H-akan menjadi saksi bagi transformasi terbesar dalam sejarah ibadah kaum Muslim: dalam hitungan hari sebuah kewajiban baru akan turun. Sehingga, di antara mereka yang duduk di majelis itu ada yang akan jatuh pingsan karena menahan lapar dan lelah, ada yang akan menangis karena tidak dapat menyempurnakan ibadahnya, dan ada pula yang akan bersujud syukur ketika pintu rahmat terbuka lebar.

Ilustrasi: Ziarat Madinah

Rasulullah Saw. lantas menatap mereka. Satu demi satu. Mungkin, beliau telah diberi kabar Jibril tentang apa yang akan datang. Mungkin pula, beliau hanya merasakan getar di hati beliau bahwa sesuatu yang agung sedang menanti. Beliau kemudian memberikan arahan, dengan suara yang pelan namun menembus kalbu, “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Di bulan itu, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak mendapatkan kebaikannya, maka ia tidak mendapatkan kebaikan apa pun.”

Mendengar arahan demikian, para sahabat diam. Mereka tidak tahu bahwa perjalanan menuju kesempurnaan ibadah tersebut tidak akan mudah. Juga, mereka tidak tahu, di depan mereka terbentang sembilan puasa Ramadhan bersama Rasulullah: sembilan kali kesempatan untuk belajar, berbuat kesalahan, memperbaikinya, dan akhirnya mencapai puncak kedewasaan spiritual.

Inilah kisah tentang sembilan tahun itu. Tentang suka dan duka yang mewarnai awal mula sebuah kewajiban yang kini kita jalani dengan begitu mudah, tanpa pernah tahu betapa beratnya para pendahulu kita meraihnya.

Sebelum Puasa Ramadhan Menjadi Wajib

Untuk memahami sukanya, kita harus memahami dulunya.
Puasa bukanlah hal yang asing bagi bangsa Arab sebelum Islam. Kaum musyrik Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura-10 Muharram-sebagai bentuk penghormatan kepada Ka‘bah. bahkan mereka memasang kiswah (kain penutup) baru pada hari itu . Ketika Rasulullah Saw. tiba di Yatsrib dan mendapati kaum Yahudi juga berpuasa pada hari yang sama untuk memperingati keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir‘aun, beliau bersabda, “Kita lebih berhak meneladani (Nabi) Musa daripada mereka.”

Maka, Rasulullah Saw. pun beliau melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pula. Selain itu, beliau juga terbiasa berpuasa tiga hari setiap bulannya-pada tanggal 13, 14, dan 15-mengikuti jejak para nabi sebelum beliau . Puasa-puasa sunnah ini menjadi latihan spiritual sebelum kewajiban besar datang.

Ketika itu, puasa Ramadhan sebagaimana yang kita kenal hari ini belum ada. Belum ada perintah. Belum ada aturan. Belum ada ganjaran khusus. Sampai suatu ketika, di penghujung Sya‘ban tahun ke-2 H, ayat-ayat itu turun. Surah Al-Baqarah turun dengan irama yang menggetarkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Para sahabat menyambut turunnya ayat tersebut dengan campuran antara suka cita dan kegelisahan. Suka, karena perintah tersebut adalah undangan langsung dari Tuhan: sebuah kesempatan untuk mendekatkan diri. Gelisah, karena mereka belum tahu bagaimana cara melaksanakannya. Namun, tahap pertama pensyariatan ini masih memberikan pilihan.

Pada fase pertama ini, para sahabat boleh memilih: berpuasa atau membayar fidyah. Mereka yang mampu dan memilih berpuasa mendapatkan keutamaan. Mereka yang merasa berat-karena usia tua, karena sakit yang tak kunjung sembuh, atau karena pekerjaan berat-boleh membayar fidyah dan tidak berpuasa.

Ini adalah kasih sayang Allah yang begitu nyata. Belum ada kewajiban mutlak. Belum ada sanksi bagi yang tidak mampu. Yang ada hanyalah ajakan dan pilihan. Namun, para sahabat tidak puas dengan pilihan itu. Mereka ingin lebih. Mereka ingin perintah yang tegas, karena cinta mereka kepada Allah tidak mengenal kompromi. Dan Allah mendengar.

Saat Tidur Menjadi Penjara

Turunlah kemudian tahap kedua pensyariatan. Kini, puasa menjadi wajib bagi yang mampu. Tidak ada lagi pilihan antara puasa dan fidyah . Namun, aturannya masih sangat ketat. Jauh lebih ketat dari yang kita jalani kini.

Pada masa itu, selepas berbuka puasa di waktu Maghrib, para sahabat hanya diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami-istri sampai waktu Isya atau sampai mereka tertidur. Mana yang lebih dulu terjadi, itulah batasnya. Jika seseorang tertidur sebelum sempat makan malam, maka ia tidak boleh lagi makan atau minum hingga waktu berbuka keesokan harinya. Ia harus lanjut berpuasa tanpa sahur. Ia harus menahan lapar dan haus selama lebih dari 24 jam.

Inilah puncak duka puasa Ramadhan pertama. Bayangkan seorang petani seperti Qais bin Sirmah Al-Anshari. Ia bekerja keras di kebunnya sepanjang hari. Ketika waktu Maghrib tiba, ia pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan lapar. Ia meminta istrinya menyiapkan makanan. Jawab istrinya, “Tunggu sebentar. Aku akan memasak untukmu.” Qais menunggu. Namun, karena kelelahan, tanpa sadar ia tertidur. Ketika terbangun, fajar telah hampir tiba. Istrinya menangis, “Kasihan engkau! Engkau tertidur!”

Maka, Qais menjalani hari berikutnya dengan perut kosong: tanpa sahur, tanpa makan malam sebelumnya. Di tengah hari, karena kerja keras dan lapar yang tak tertahankan, ia jatuh pingsan. Kisah ini kemudian sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau diam. Menunggu. Para sahabat lain juga mengalami kesulitan serupa. Umar bin Al-Khaththab-yang biasanya tegar-mengaku pernah pulang larut malam. Lalu, ia tidur sebelum maka. Dan, keesokan harinya, ia merasakan beratnya puasa dua hari berturut-turut.

Inilah masa-masa tersulit dalam sejarah puasa Ramadhan. Para sahabat menjalani ibadah ini dengan penuh perjuangan. Kadang, sampai batas kemampuan manusia. Namun, mereka tidak pernah mengeluh. Mereka tidak pernah meminta keringanan. Akan tetapi, Allah Maha Melihat.

Di saat para sahabat paling membutuhkan uluran rahmat, langit kembali bicara. Surah Al-Baqarah ayat 187 turun, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsu, karena itu Allah menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…”

Lewat ayat tersebut, tiga keringanan besar turun sekaligus: Pertama, dihalalkannya hubungan suami-istri sepanjang malam Ramadhan, bukan hanya sampai Isya. Kedua, diihalalkannya makan dan minum hingga terbit fajar. Tanpa batasan tidur. Ketiga, penegasan waktu mulai dan berakhirnya puasa: dari fajar hingga malam (Maghrib). Para sahabat bergembira. Salah satu riwayat mencatat, “Mereka tidak pernah bergembira seperti kegembiraan mereka ketika ayat itu turun.”

Qais bin Sirmah Al-Anshari yang pernah pingsan karena kelelahan kini bisa tersenyum. Umar bin Al-Khaththab bersujud syukur. Abu Bakar Al-Shiddiq terdiam dan meneteskan air mata. Inilah puncak suka dalam sejarah Ramadhan. Sebuah keringanan yang turun bukan karena para sahabat memintanya. Namun, karena Allah mengetahui bahwa mereka tidak mampu bertahan dengan aturan yang terlalu keras. Kasih sayang Allah Swt. mendahului kesadaran hamba.

Sejak saat itulah puasa Ramadhan disempurnakan. Aturan yang kita jalani hari ini—sahur hingga fajar, berbuka di Maghrib, makan minum di malam hari—adalah bentuk final dari proses pensyariatan yang penuh perjuangan itu.

Berpuasa Ramadhan Bersama Rasulullah Saw.

Sejak Ramadhan 2 Hijriah hingga kepulangan Rasulullah Saw. pada Rabiul Awwal 11 H, beliau menjalani sembilan kali puasa Ramadhan bersama para sahabat. Sembilan tahun yang menjadi teladan sempurna bagi umat Islam sepanjang zaman:

Pertama, Persiapan di Bulan Sya‘ban. Setiap menjelang Ramadhan, Rasulullah Saw. memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Aisyah r.a. mengemukakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Dan, aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya‘ban.” Para ulama menyebut hal ini sebagai pemanasan ruhani: latihan fisik dan mental sebelum memasuki bulan kewajiban. Dengan berpuasa di bulan Sya‘ban, tubuh terbiasa menahan lapar. Sehingga, ketika Ramadhan tiba, ibadah dapat dijalani dengan lebih ringan.

Kedua, Di Malam-Malam Ramadhan. Di malam hari Ramadhan, selepas berbuka, Rasulullah Saw. tidak beristirahat. Beliau justru semakin giat beribadah. Aisyah r.a. menuturkan,
“Apabila sepuluh malam terakhir Ramadhan tiba, Rasulullah Saw. menghidupkan malam-malam itu, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikatan pinggangnya (menjauhi istri untuk fokus beribadah).” Beliau juga memperbanyak doa di malam-malam ganjil. Kepada Aisyah, beliau mengajarkan doa yang tak pernah lekang oleh waktu, “Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbu al-‘afwa fa‘fu ‘annî (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku).”

Ketiga, Sahur yang Sarat Berkah. Rasulullah Saw. sangat menganjurkan sahur. Beliau berpesan, “Sahur adalah makanan yang sarat berkah. Janganlah kalian meninggalkannya, meski hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.” Beliau sendiri mengakhirkan sahur hingga mendekati fajar.

Keempat, Berbuka dengan Kurma dan Doa. Ketika Maghrib tiba, Rasulullah Saw. bersegera berbuka dengan kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, dengan kurma kering (tamar). Jika tidak ada, dengan beberapa teguk air. Kemudian, beliau membaca doa yang diajarkan kepada generasi demi generasi, “Dzahaba al-zhama’ wabtallat al-‘uruqu wa tsabata al-ajru insya Allah (Hilang sudah rasa haus, urat-urat telah basah sudah urat-urat, dan pahala pun tetap, insya Allah.”

Kelima, Menjaga Lisan dan Perilaku. Rasulullah Saw. tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan haus. Beliau mengajarkan puasa hati. Beliau berpesan, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak mengharapkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” Dalam sebuah hadis lain, beliau berpesan, “Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum. Namun, (puasa) juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan kotor. Jika ada seseorang yang mencelamu atau berbuat bodoh kepadamu, katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa.’”

Keenam, Kedermawanan Tanpa Batas. Abdullah bin Abbas r.a. mengemukakan, “Rasulullah Saw. adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, ketika Jibril menemuinya setiap malam untuk membacakan Al-Quran. Sungguh, Rasulullah Saw. lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” Kedermawanan beliau tidak hanya dalam harta. Namun, juga dalam ilmu, dalam senyum, dalam maaf. Ramadhan adalah bulan berbagi dan beliau adalah teladan utamanya.

Pelajaran untuk Kita yang Hidup Serba Mudah

Sembilan kali berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw. telah berlalu 14 abad silam. Kini, kita melaksanakan puasa Ramadhan dengan begitu mudah. Makan sahur tersedia dalam hitungan menit. Berbuka dengan aneka hidangan. Masjid-masjid terang benderang. Tilawah Al-Quran bisa diakses melalui genggaman.

Kini, kita tidak pernah mengalami masa ketika tidur sebelum Isya berarti puasa dua hari. Kita tidak pernah jatuh pingsan karena kelelahan dan kelaparan. Kita tidak pernah merasakan bagaimana aturan berubah di tengah jalan dan kita harus beradaptasi dengan cepat.

Maka. mungkin, yang paling hilang dari Ramadhan kita adalah rasa perjuangan. Kita menjalani puasa sebagai rutinitas. Bukan sebagai petualangan spiritual. Kita menahan lapar, namun tidak menahan lisan. Kita bangun sahur, namun tidak bangun dengan doa yang menggetarkan. Kita berbuka dengan kurma, namun lupa membaca doa yang diajarkan Rasulullah Saw. Beliau pernah berpesan dengan nada peringatan, “Rubba shâimin laisa lahû min shîyâmihi illâ al-jû‘ wa al-‘athasy (Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga).”

Ini adalah duka yang lebih dalam dari duka apapun yang dialami para sahabat. Ini karena lapar dan dahaga para sahabat berbuah surga. Sedangkan lapar dan dahaga kita, jika tidak dibarengi iman dan adab, bisa saja hanya menjadi sia-sia belaka. Semoga tidak terjadi!

Tags: Berpuasa bersama RasulullahCatatan Rofi' UsmaniMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Sregep: Resep Menulis ala Emha

Next Post

‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: