Desa Mori merupakan kelokan kecil yang menjadi bagian dari jaringan besar peradaban sungai terpanjang di Jawa. Lintasan jalur ekonomi yang menyimpan jejak kultur Tionghoa.
Desa Mori Kecamatan Trucuk Bojonegoro memang tak banyak diperbincangkan dalam diskursus kebudayaan. Namun, kami meyakini bahwa tak ada desa yang tak memiliki aset budaya. Sebab selama masih dihuni manusia dalam lapis generasi yang berlipat-ganda, sebuah desa pasti menyimpan kearifan budayanya sendiri. Begitupun di Desa Mori ini.
Seperti mayoritas desa di kawasan lembah Kendeng Utara, tak banyak objek studi masa silam yang masih tersisa di Desa Mori. Kalaupun ada hanya sejumlah punden yang diyakini sebagai Danyang Desa. Satu di antaranya Punden Mbok Rondo Mori, yang terletak di tengah sawah dan amat jauh dari pemukiman warga.
Punden Mbok Rondo Mori dibangun dengan cungkup motif arsitektur Cina. Bangunan punden ini memang baru dibangun belum lama. Sehingga terkesan tidak kontekstual terhadap lokasi keberadaannya. Meski begitu, bukan berarti tidak bisa dibaca. Sebab, komponen utama pembentuk budaya desa, adalah bentang alamnya.
Dalam konteks penyusunan dan pendokumentasian narasi budaya desa, Jurnaba menggunakan framework yang berlapis. Baik itu melalui pembacaan folklore dan jejak legenda, maupun analisa literatur dan historiografi ilmiah yang memiliki relasi kuat terhadap kawasan tersebut.
Jejak Legenda
Dalam konteks legenda rakyat, Desa Mori terdapat tokoh bernama Mbok Rondo Mori, sosok perempuan yang menjadi danyang (leluhur) Desa Mori. Mbok Rondo Mori juga dikenal dengan sebutan lain seperti Dewi Nawang Wulan atau Dewi Ulan Sari. Nama-nama ini kerap dikaitkan dengan masa ketika Islam mulai masuk di kawasan tersebut.

Diceritakan bahwa setiap musim paceklik, Mbok Rondo Mori akan membasahi selendangnya, dan mengibaskan selendang itu ke area pertanian, sehingga paceklik tidak terjadi. Dalam narasi yang sama, Mbok Rondo Mori juga diceritakan menggali tanah, hingga galian itu menjadi sumber mata air yang menyuplai irigasi pertanian warga hingga saat ini.
Seperti desa-desa lain di kawasan Bukit Kapur Utara Jawa, legenda Mbok Rondo Mori identik produk budaya abad 19 M yang berfokus pada penggambaran makna “kesuburan” melalui kisah legenda. Konstruksinya bertumpu pada bias ingatan masa lampau yang tak mampu ditangkap secara utuh oleh generasi setelahnya. Ini alasan utama abad 19 M dikenal sebagai masa pembuatan kisah babad dan cerita legenda.
Legenda Mbok Rondo Mori, sesungguhnya punya simpul makna yang jauh lebih tua, melebihi masa pembuatan cerita. Dalam konteks ini, figur Mbok Rondo Mori dapat dibaca sebagai “penghalusan makna” atas tradisi penghormatan pada Dewi Sri, personifikasi masyarakat Jawa Kuno atas tanah dan kesuburan padi.
Baca Juga: Wiku, Entitas Sosial Jawa sebelum Era Hindu-Budha
Dewi Sri dikenal sebagai Dewi Padi, kesuburan, dan sumber kehidupan—simbol dari hubungan sakral antara manusia, tanah, dan siklus panen. Dalam konteks legenda Mbok Rondo Mori, figur Dewi Sri mengalami “pembumian” naratif: dari dewi kosmis menjadi tokoh rakyat yang lebih dekat, seperti perempuan tua, janda, ataupun seorang penjaga lumbung.
Proses ini menunjukan bagaimana masyarakat mengolah simbol-simbol sakral lama menjadi cerita lokal yang tetap membawa inti penghormatan pada kesuburan dan kehidupan. Di sini, legenda berfungsi sebagai penerjemah keyakinan kuno tentang padi, tanah, dan kelangsungan hidup ke dalam narasi lokal yang mudah dipahami.
Historiografi Ilmiah
Secara topografi, Desa Mori merupakan lembah di antara perbukitan Kapur Kendeng dan lintasan sungai Bengawan, dua entitas alam yang jadi poros engkol penggerak peradaban Jawa. Lokasi Desa Mori juga berdekatan dengan Desa Padang, yang masyhur sebagai Laboratorium Kebengawanan Nusantara.

Data Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (Keriskeloka) menyebutkan, Desa Mori maupun Desa Padang, juga berdekatan dengan Desa Pagerwesi, yang tercatat sebagai bagian penting dari kawasan kuno Telang. Data ini, sesungguhnya sudah cukup menunjukan bahwa Desa Mori merupakan kawasan sungai yang punya peran penting sejak Peradaban Telang pada abad 10 M.
Kawasan Telang, secara empiris, merupakan peradaban sungai dan bukit kapur kuno yang membentang dari Jipangulu (Margomulyo) hingga Jipangilir (Baureno). Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) mengabadikan kawasan ini sebagai pusat ekonomi abad 10 M.
Baca Juga: Peradaban Telang, Bukit Kapur dan Sungai Bengawan
Di sepanjang sungai kuno Telang ini, terutama di kawasan Margomulyo, Ngraho, Padangan, Kasiman, hingga Malo, banyak ditemukan koin dan keramik peninggalan dari Dinasti Tang (610 – 970 M), dan Dinasti Song (970 – 1279 M). Ini alasan kawasan Telang sangat dimuliakan Penguasa Medang, Raja Dyah Baletung (898 – 910 M).
Raja Baletung sangat memuliakan wilayah sungai Telang, khususnya Sotasrungga, mandala perekonomian sungai dengan titik penting meliputi Pungpunan, Kalipan, hingga Pagerwesi.
Serupa Desa Padang, Desa Mori juga berdekatan dengan wilayah Sotasrungga. Artinya, Desa Mori punya peran penting sebagai lintasan ekonomi sungai sejak lama.

Di Dusun Gongseng Desa Mori, pernah ditemukan sejumlah koin Qianlong Tongbao Tiongkok dari Dinasti Qing (1636 – 1917 M). Koin Qianlong Tongbao yang beredar pada 1736 – 1795 M (abad 18 M) ini, tentu punya peran penting sebagai bukti perekonomian sungai. Penemuan di Desa Mori ini, seolah memastikan putaran ekonomi sungai Telang dari abad 10 M masih benar-benar terasa hingga abad 18 M.
Fakta di atas tidak berdiri sendiri. Seorang penulis Belanda bernama Van Der A, pada 1857 M, bercerita tentang kawasan Telang yang dipenuhi banyak Bale Kambang (Pasar Perahu) dan galangan kapal. Pasar-pasar di atas sungai ini, mayoritas dikenal dengan nama pasaran Jawa seperti Pasar Kliwon ataupun Pasar Pahing.
Kawasan Telang yang membentang dari Jipangulu (Margomulyo) hingga Jipangilir (Baureno), dikenal sebagai pusat perekonomian sungai sejak abad 10 M. Sementara aktivitas Bale Kambang atau pasar perahu yang keberadaannya dicatat para pelancong Belanda pada abad 19 M, seperti memastikan pesatnya perekonomian sungai itu tetap bertahan, hingga 9 abad kemudian.
Lintasan Ekonomi Desa Mori
Posisi Desa Mori sebagai salah satu kelokan sungai di dekat wilayah Sotasrungga Telang, punya peran penting sebagai lintasan perahu dan transaksi ekonomi. Terutama transaksi hasil bumi untuk dibawa keluar, atau komoditas luar yang dibawa ke dalam. Pada posisi ini, keberadaan koin Qianlong Tongbao dari Dinasti Qing yang ditemukan di Dusun Gongseng itu, sudah cukup menjadi bukti.
Penemuan koin Tiongkok di Dusun Gongseng, juga punya bias pengetahuan yang amat luas. Dalam kultur Tiongkok, dikenal istilah gōngshāng (工商). Istilah ini adalah gabungan dari dua kata: 工 (gōng) = kerja, keterampilan, produksi, atau kerajinan dan 商 (shāng) = perdagangan, niaga, dan pedagang. Secara harfiah, istilah gōngshāng 工商 dimaknai sebagai sebuah ekosistem perdagangan.
Istilah “gongseng” kemungkinan pelokalan fonetik dari konsep 工商 (gōngshāng), yakni ranah perdagangan dalam struktur ekonomi Tiongkok. Dalam konteks Jawa, istilah semacam ini kerap melekat pada aktivitas distribusi hasil bumi dan jaringan niaga di sepanjang sungai Bengawan.
Dalam konteks historiografi ilmiah, legenda Mbok Rondo Mori tentu perwujudan yang tak utuh atas bias-bias masa lalu mengenai penghormatan terhadap Dewi Sri, personifikasi atas makna “kesuburan” hasil bumi. Sementara nuansa Tionghoa yang masih tersisa, adalah representasi atas jaringan niaga sungai pada masa silam.
Seperti umumnya wilayah Telang (membentang dari Jipangulu hingga Jipangilir) yang dipenuhi banyak kelokan peradaban sungai, Desa Mori juga bagian dari kelokan kecil yang menyusun jaringan besar peradaban sungai Telang, sebuah lintasan jalur ekonomi yang menyimpan jejak kultur Tionghoa.
Bacaan Lanjutan: Peradaban Nggawan Bojonegoro (2025), A. Wahyu Rizkiawan, Penerbit Jurnaba.








