Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Masjid Al-Haram dan Malam-Malam Ramadhan

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
20/02/2026
in Cecurhatan
Masjid Al-Haram dan Malam-Malam Ramadhan

Masjid al Haram, Makkah

Di rumah Allah, semua manusia adalah sama. Dan di malam-malam Ramadhan, semua zaman bertemu dalam satu detak jantung yang sama: detak jantung rindu kepada-Nya!

MAKKAH, 17 H/638 M.
Kala itu, enam tahun selepas Rasulullah Saw. berpulang, Masjid Al-Haram belum lagi memiliki menara-menara tinggi menjulang seperti kini. Tiada marmer berkilau. Juga, tiada pendingin udara yang mendesis lembut. Yang ada hanyalah sebuah bangunan persegi sederhana-Ka‘bah-berada di tengah lapangan terbuka, dikitari rumah-rumah penduduk Makkah yang masih sangat sederhana. Ya, masih sangat sederhana.

Kemudian, baru pada masa pemerintahan Umar bin Al-Khaththablah untuk pertama kalinya Masjid Al-Haram mengalami perluasan. Umar, ketika itu, melihat sendiri bagaimana jumlah kaum Muslim yang datang untuk beribadah kian bertambah. Ia pun memerintahkan untuk membeli rumah-rumah di sekitar Ka‘bah dan merobohkannya. Lalu, ia membangun dinding setinggi hampir dua meter mengitari area tersebut.

Malam-malam Ramadhan di masa itu masih begitu sunyi. Namun, justru dalam kesunyian itulah keagungan terasa begitu dekat. Seorang jamaah di abad ketujuh tidak akan mengenali Masjid Al-Haram seperti yang kita lihat kini. Mereka duduk bersila di atas tanah berdebu. Hanya dipendari cahaya rembulan dan beberapa lentera minyak sederhana yang digantung di tiang-tiang kayu. Angin gurun berhembus membawa pasir halus yang terasa di sela-sela jemari ketika mereka mengusap wajah seusai sujud.

Namun, ketika malam-malam Ramadhan tiba, tempat itu berubah menjadi lautan cahaya spiritual. Para sahabat Nabi Saw. yang masih hidup duduk bersimpuh di sudut-sudut, mengajarkan Al-Quran yang mereka hafal langsung dari Rasulullah. Di kejauhan, terdengar suara lantunan ayat yang sambung-menyambung dari satu kelompok ke kelompok lain, menciptakan simfoni merdu yang tidak pernah terdengar di masa jahiliah.

Ilustrasi: Makkah al Mukaramah

Sejarah menuturkan, pada masa itu, bulan Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ketika sepuluh malam terakhir bulan mulia itu, para sahabat duduk beriktikaf dengan hati mereka berkobar. Bukan hanya dengan kerinduan vertikal kepada Allah Swt. Namun, juga dengan semangat perjuangan horizontal untuk menegakkan kalimat-Nya. Di muka bumi.

Kemudian, pada malam-malam ganjil, ketika mereka sedang “memburu” Lailatul Qadar, tangisan mereka begitu dalam hingga terdengar oleh jamaah di seberang pelataran. Tangisan yang lahir dari kesadaran bahwa mereka adalah generasi pilihan dan hidup di masa pewahyuan masih berlangsung.

Taman Surga di Tengah Gurun Pasir

Setengah abad kemudian, Abdullah bin Zubair-cucu Abu Bakar Al-Shiddiq-membangun kembali Ka‘bah yang rusak akibat perang saudara. Ia mengembalikan Ka‘bah ke fondasi asli Nabi Ibrahim a.s. Termasuk menambahkan kembali area Hijir Ismail ke dalam bangunan utama.

Pada malam Ramadhan di era ini, para jamaah untuk pertama kalinya dapat melaksanakan tawaf di area yang lebih luas. Dinding-dinding yang sebelumnya hanya setinggi kepala orang dewasa, kini mulai ditinggikan dan diberi atap di sebagian area. Ketika mereka duduk di bawah naungan sederhana itu, sambil menanti sahur, mereka dapat melihat dengan lepas bintang-bintang melalui celah-celah atap: pengingat bahwa meski Dunia Islam telah membentang dari Spanyol hingga Persia, mereka tetaplah hamba yang kecil di bawah kolong langit yang sama.

Selepas itu, Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah datang dengan visi besar. Ia melihat para jamaah yang datang kian banyak. Tidak hanya dari Jazirah Arab. Namun, juga dari Persia, Afrika Utara, dan Andalusia. Maka, ia pun memerintahkan perluasan terbesar di masanya, membeli dan merobohkan rumah-rumah di sitar masjid hingga luasnya mencapai 27.850 meter persegi.

Tiang-tiang marmer mulai didatangkan dari Suriah dan Mesir. Kubah-kubah kecil mulai menghiasi atap. Dan, untuk pertama kalinya, menara dibangun di sisi timur masjid.

Kini, sejenak kita bayangkan malam-malam Ramadhan di penghujung abad ke-8 M. Seorang jamaah dari Andalusia yang berbulan-bulan menempuh perjalanan melalui darat dan laut, akhirnya tiba di Makkah tepat di malam ke-27 Ramadhan. Matanya basah bukan hanya karena rindu yang tercapai. Namun, juga karena takjub melihat kemegahan yang belum pernah ia bayangkan.

Di sepanjang malam, suara imam bergema di antara tiang-tiang marmer, menciptakan efek akustik alami yang membuat lantunan ayat-ayat Al-Quran terasa seolah datang dari segala arah. Ribuan lampu minyak digantung di setiap sudut, dipendari minyak zaitun yang dikirim khusus dari Palestina. Para peziarah kaya menyewa para penghafal Al-Quran untuk mengimami shalat di kelompok-kelompok kecil. Sementara para sufi duduk berzikir dalam lingkaran-lingkaran. Hingga fajar menyingsing.

Pada masa inilah tradisi Ramadhan mulai terbentuk dengan lebih terstruktur. Setiap malam, setelah shalat Tarawih, para ulama duduk di halaqah-halaqah-lingkaran belajar-mengajarkan tafsir, hadis, dan fikih. Cahaya ilmu membaur dengan cahaya lampu, menciptakan suasana yang digambarkan oleh sejarawan Fawaz Al-Dahas sebagai “taman surga di tengah gurun pasir”.

Tradisi Meriam Ramadhan

Ketika Turki Usmani mengambil alih tanggung jawab atas Dua Tanah Suci, mereka membawa tradisi arsitektur yang lebih megah, lebih monumental, dan ebih berani. Sultan Salim II dan putranya Murad III tidak hanya memperluas, namun juga memperindah. Mereka menambahkan elemen-elemen baru yang membentuk dasar bangunan Masjid Al-Haram seperti yang kita kenal hingga awal abad ke-20.

Dokumentasi visual tertua yang kita miliki tentang Masjid Al-Haram berasal dari era ini. Sebuah foto langka tahun 1297 H/1881 M menunjukkan pemandangan utuh Makkah dengan bangunan-bangunan tua dan lanskap pegunungan yang mengelilinginya: bukit-bukit gersang yang menjadi saksi bisu turunnya wahyu pertama di Gua Hira’. Di dalam masjid, kubah-kubah bergaya Turki Usmani yang khas berdiri kokoh, dan pintu-pintu kayu berukir menghiasi setiap sisi, diukir oleh tangan-tangan pengrajin terbaik dari Istanbul dan Damaskus.

Namun, yang paling unik dari malam-malam Ramadhan di era Turki Usmani adalah tradisi meriam Ramadhan. Tradisi ini pertama kali muncul di Kairo pada tahun 865 Hi secara tidak sengaja: konon ketika seorang prajurit Mamluk sedang membersihkan meriam, ia tidak sengaja menembakkannya tepat saat maghrib. Masyarakat Kairo mengira, itu adalah penanda resmi berbuka puasa. Sejak saat itu, tradisi itu menyebar ke seluruh Dunia Islam. Termasuk Makkah.

Sejak itu, setiap menjelang maghrib di bulan Ramadhan, seluruh penduduk Makkah menahan napas, menanti suara dentuman dari Bukit Meriam, sebuah bukit kecil di utara Masjid Al-Haram yang membentang hingga Jabal Quaiqian. Meriam kuno itu-yang mungkin sudah berusia puluhan tahun dan mungkin telah ditembakkan ribuan kali-selalu menembakkan amunisi kosong seberat hampir dua kilogram.

Suaranya menggelegar, mengguncang lembah-lembah, bergema di antara bukit-bukit, dan terdengar hingga ke seluruh penjuru kota. Dan ketika suara itu tiba, seketika itu juga ribuan kurma dimakan, ribuan teguk air Zamzam diminum, dan ribuan suara takbir bergemuruh memenuhi pelataran masjid.

Selama sebulan penuh, dari awal Ramadhan hingga pengumuman Idul Fitri, meriam itu ditembakkan sekitar 150 kali. Bayangkan sensasinya: di tengah kekhusyukan menanti azan yang akan dikumandangkan dari menara tertinggi, tiba-tiba langit bergemuruh seperti halilintar di siang bolong. Dan dalam sekejap, suasana berubah. Dari keheningan yang mencekam menjadi kegembiraan yang meluap-luap. Dari penantian yang panjang menjadi kebahagiaan yang terpenuhi.

Di dalam masjid, pemandangan tak kalah memukau. Para peziarah duduk di lantai yang masih berupa tanah dipadatkan bercampur kerikil halus: belum ada marmer, belum ada karpet mewah. Mereka hanya beralaskan tikar anyaman yang dibawa dari rumah atau dibeli dari pedagang kaki lima. Tenda-tenda besar didirikan di sebagian pelataran untuk melindungi jamaah dari terik matahari di siang hari. Sementara di malam hari tenda-tenda itu dibiarkan terbuka agar para peziarah dapat melihat bintang-bintang bertaburan di langit Makkah yang jernih.

Di sisi lain, jalur sa‘i antara Shafa dan Marwah saat itu masih berupa lorong sederhana dengan atap tenda. Ketika para jamaah berlari-lari kecil di antara kedua bukit itu, mengingat kembali perjuangan Hajar yang mencari air untuk putranya, Ismail, mereka dapat merasakan panasnya batu gurun di telapak kaki: sama persis seperti yang dirasakan Hajar ribuan tahun lalu. Tiada pendingin udara dan tiada marmer anti-panas. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah langkah yang diberkati.

Kemudian, ketika Raja Abdulaziz bin Saud memasuki Makkah, babak baru dalam sejarah Masjid Al-Haram terbuka. Dalam pidato pertamanya, ia berjanji, “Dengan kekuasaan dan kekuatan Allah, saya membawa kabar baik bahwa Masjid Al-Haram sedang menuju kemajuan, kebaikan, keamanan, dan kenyamanan. Saya akan melakukan yang terbaik untuk mengamankan Tanah Suci dan memberikan kenyamanan dan ketenangan kepadanya.”

Pada masa awal pemerintahan Raja Abdulaziz, jumlah jamaah haji tercatat sekitar 90.662 orang pada 1345 H. Masjid Al-Haram saat itu luasnya sekitar 28.000 meter persegi . Masih sangat jauh dari apa yang kita bayangkan kini. Namun, perubahan besar dimulai pada 1375 H/1955 M, ketika Raja Saud meluncurkan proyek perluasan pertama yang berlangsung hampir satu decade.

Menikmati Sentuhan Modern

Pada era ini, untuk pertama kalinya, Masjid Al-Haram memiliki tiga lantai: basemen, lantai dasar, dan lantai pertama. Area sa‘i (Mas‘a) dibangun dua lantai, area tawaf (Mathaf) diperluas, dan Sumur Zamzam yang sebelumnya terbuka, dipindahkan ke basemen.

Dokumentasi visual era ini sangat kaya. Foto dari tahun 1374 H/1955 M menunjukkan perluasan Mas‘a selama musim haji, dengan atap baru dipasang untuk melindungi jamaah dari sengatan matahari. Setahun kemudian, foto langka mengabadikan momen Raja Saud sedang memeriksa Hajar Aswad, ketika batu suci itu belum dipasangi cincin perak seperti kini.

Pada tahun 1376 H/1957 M, tangga-tangga marmer mulai dibangun untuk menghubungkan jalan sekitar dengan pelataran masjid, untuk memudahkan akses keluar-masuk jamaah. Di malam-malam Ramadhan di era ini, para jamaah mulai menikmati fasilitas yang sebelumnya tak terbayangkan: marmer anti-panas yang mulai diperkenalkan sejak 1950-an. Udara gurun pasir yang menyengat di siang hari, kini dapat sedikit diredam oleh teknologi. Namun di malam hari, ketika mereka duduk beribadah di lantai marmer yang dingin, mereka masih dapat merasakan sentuhan tradisi sama seperti yang dinikmati para pendahulu mereka berabad-abad lalu.

Ilustrasi: Perubahan Kota Makkah

Raja Faisal bin Abdulaziz, yang memerintah setelah Saud, melanjutkan proyek perluasan dengan fokus pada kenyamanan jamaah. Bangunan di sekitar Maqam Ibrahim dipindahkan untuk memberikan lebih banyak ruang bagi mereka yang sedang melaksanakan tawaf. Kemudian pada masa pemerintahan Raja Khalid bin Abdulaziz (1975-1982), area Mataf diperluas kembali. Yang paling revolusioner: trotoar batu di jalur sa‘i diganti dengan marmer Yunani tahan panas. Para jamaah yang sebelumnya harus merasakan panasnya batu gurun di telapak kaki, kini dapat berjalan lebih nyaman. Terutama di siang hari.

Pada tahun 1399 H/1979 M, sebuah peristiwa penting terjadi: pemasangan pintu baru Ka‘bah didokumentasikan dengan indah. Raja Khalid sendiri terlihat keluar dari dalam Ka‘bah setelah membuka tirai penutup pintu tersebut. Momen ini menunjukkan, betapa para pemimpin Saudi tidak hanya memperluas secara fisik. Namun, juga terlibat langsung dalam perawatan Baitullah.

Malam Ramadhan di era 70-an mulai memiliki wajah baru. Lampu-lampu listrik yang berpender benderang menggantikan lentera minyak. Pengeras suara mulai dipasang. Sehingga, suara imam dapat menjangkau jamaah hingga ke area perluasan. Namun, esensi yang sama tetap terjaga: di sepertiga malam terakhir, tangisan masih terdengar sama pilunya.

Era Ekspansi Raksasa

Pada 14 September 1988, Raja Fahd bin Abdulaziz meletakkan batu fondasi untuk perluasan Masjid Al-Haram yang saat itu disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah selama 14 abad. Proyek tersebut meningkatkan ukuran masjid menjadi 356.000 meter persegi: lebih dari sepuluh kali lipat dari luas awal di masa sahabat. Kapasitas meningkat drastic. Kini: mampu menampung 1,5 juta jamaah dengan nyaman. Dua menara baru ditambahkan, menjadikan totalnya tujuh menara yang menjulang tinggi.

Namun, yang paling menakjubkan adalah detail artistiknya. Pada perluasan fase kedua ini, para perancang menambahkan dekorasi dan ukiran artistik pada kubah, koridor, langit-langit, dinding, pintu, jendela, dan lengkungan. Pada tahun yang sama, 1407 H/1987 M, sebuah inovasi tak kasat mata namun sangat penting dimulai: pembentukan perpustakaan suara. Untuk pertama kalinya, lantunan ayat para imam, khotbah Jumat, dan pengajian-pengajian di Masjid Al-Haram mulai direkam dan disimpan. Koleksi ini terus dikumpulkan dan didigitalisasi hingga kini, menjadi harta berharga yang merekam bagaimana suara imam-imam besar menggema di pelataran masjid. Dari generasi ke generasi.

Memasuki milenium baru, fasilitas-fasilitas modern terus ditambahkan. Eskalator mulai dipasang sejak 1980-an dan terus disempurnakan di tahun 2000-an. Pendingin udara raksasa mulai mendinginkan area-area yang sebelumnya terpanggang matahari gurun. Pada era ini, malam-malam Ramadhan di Masjid Al-Haram mengalami transformasi paling signifikan dalam hal kenyamanan fisik. Jamaah tidak lagi harus memilih antara kepanasan atau kehujanan. Mereka dapat khusyuk beribadah dalam suhu yang nyaman, di bawah lampu yang terang, dengan fasilitas wudhu dan toilet yang memadai.

Seorang jamaah senior yang pertama kali datang di tahun 1970-an, jika kembali di tahun 2000-an, mungkin akan menangis. Bukan hanya karena rindu pada Ka‘bah, namun juga karena takjub melihat bagaimana Rumah Suci itu telah berkembang. Namun di sudut hatinya, mungkin ada sedikit kerinduan pada masa lalu yang lebih sederhana, ketika ibadah terasa lebih “liar” dan lebih “spiritual” karena harus berjuang melawan panas dan keterbatasan. Akan tetapi, apakah esensi spiritual berubah karena kenyamanan fisik?

Pada Juli 2010, Raja Abdullah bin Abdulaziz memprakarsai proyek perluasan ketiga yang baru dimulai setahun kemudian. Proyek ini adalah yang paling ambisius sepanjang sejarah. Area yang diperluas membentang dari 200 meter dari pusat Ka‘bah hingga 684 meter ke luar. Luas bangunan melonjak dari 414.000 meter persegi menjadi 1,5 juta meter persegi: hampir empat kali lipat. Area yang dapat digunakan untuk shalat bertambah dari 390.000 menjadi 912.000 meter persegi. Sehingga, sejak Ramadhan 1446 H Masjid Al-Haram dapat menampung 3 juta orang per hari .

Maka, jika Anda datang ke Masjid Al-Haram pada malam-malam Ramadhan tahun ini, inilah yang akan Anda saksikan: sejak sore hari, gelombang manusia putih mulai membanjiri setiap sudut. Mereka datang dari pintu-pintu raksasa: salah satunya pintu 100 di area perluasan yang menjadi ikon baru dengan desain megah. Begitu melangkah masuk, Anda akan disambut oleh lampu-lampu gantung berukuran super besar, berkilauan dengan ribuan kristal Swarovski yang memantulkan cahaya ke segala arah.

Di sisi lain, jendela-jendela kaca berwarna-warni menciptakan permainan cahaya magis di siang hari, sedangkan di malam hari diterangi dari dalam sehingga menyerupai permadani cahaya raksasa. Di dinding-dinding, prasasti Al-Quran membentang seluas 2.700 meter persegi: ayat-ayat suci yang diukir dengan indah, menjadi pengingat visual bagi setiap jamaah bahwa mereka berada di rumah Allah.

Antara yang Berubah dan yang Abadi

Setelah menelusuri lorong waktu lebih dari 14 abad, setelah menyaksikan bagaimana Masjid Al-Haram tumbuh dari lapangan berdebu menjadi kompleks raksasa berteknologi tinggi, kita sampai pada sebuah kesimpulan yang mungkin paradoks, namun sekaligus menenangkan: segalanya telah berubah, namun tidak ada yang berubah.

Luas Masjid Al-Haram kini 1,5 juta meter persegi: seribu kali lipat dari luas awalnya yang hanya 1.490 meter persegi di masa Umar bin Al-Khaththab. Kapasitasnya kini 3 juta orang per hari: dari yang awalnya hanya mampu menampung beberapa ribu sahabat dan tabiin. Fasilitasnya dilengkapi teknologi abad ke-21 yang tak terbayangkan oleh para pendahulu: pendingin udara, eskalator, lampu kristal, dan sistem keamanan digital. Namun, di malam-malam Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir, esensi yang dicari oleh setiap jamaah tetaplah sama: Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Yaitu, malam di mana Al-Quran pertama kali turun. Malam di mana para malaikat turun ke bumi mengatur segala urusan. Malam yang penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.

Para sahabat mencari Malam Agung itu dengan duduk di tanah berdebu di bawah rembulan, dengan tubuh yang lelah setelah seharian berpuasa di tengah panas gurun. Para tabiin mencarinya di antara tiang-tiang marmer era Abbasiyah, dengan suara imam yang bergema di antara kubah-kubah. Para jamaah era Turki Usmani mencarinya sambil menanti dentuman meriam yang menggelegar di ufuk barat. Dan para jamaah masa kini mencarinya di bawah lampu kristal Swarovski dengan pendingin udara yang menjaga suhu tetap nyaman.

Metodenya berbeda. Fasilitasnya berbeda. Pengalaman fisiknya berbeda. Namun, kalbu yang mencarinya-kalbu yang rindu, yang takut dan berharap-kalbu itu sama persis. Karena kalbu manusia tidak berubah selama 14 abad. Ia tetap merindukan Tuhan yang sama, di rumah yang sama, dan di malam-malam yang sama. Dan mungkin, di sinilah letak keajaiban Masjid Al-Haram yang sesungguhnya: ia bisa menjadi rumah bagi semua zaman. Juga, ia bisa menerima jutaan manusia dari berbagai abad dengan berbagai latar belakang, dengan berbagai bahasa, dengan berbagai warna kulit, dan menyatukan mereka semua dalam satu pengalaman spiritual yang abadi.

Andai seorang jamaah di tahun 2026 dapat bertemu dengan seorang sahabat di tahun 638 M, mungkin mereka tidak akan kuasa berkomunikasi karena perbedaan bahasa. Bahasa Arab mereka berbeda dialek. Cara berpakaian mereka berbeda. Juga, cara mereka datang ke masjid berbeda: yang satu berjalan kaki atau naik unta dari rumahnya di pinggir Makkah, yang satu naik pesawat dari Jakarta atau Kuala Lumpur. Namun, jika mereka duduk bersebelahan di pelataran Masjid Al-Haram pada malam-malam Ramadhan, mendengarkan lantunan ayat yang sama, menangis karena takut dan harap yang sama, bersujud di tempat yang sama: mereka akan mengerti satu sama lain. Tanpa perlu kata-kata.

Itu semua karena di rumah Allah, semua manusia adalah sama. Dan di malam-malam Ramadhan, semua zaman bertemu dalam satu detak jantung yang sama: detak jantung rindu kepada-Nya!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaMasjidil HaramTadarus Ranadhan
Previous Post

Bahas Jual Beli Tanah, Komisi A Dorong Transparansi

Next Post

PC PMII Bojonegoro Inisiasi Kolaborasi Internasional Bersama UMPSA Malaysia

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: