MESOPOTAMIA, tahun 762 M. Hari itu, sosok kurus, dengan janggut jarang dan mata yang tak pernah berhenti menghitung, berdiri di tepi Sungai Tigris. Di hadapannya terbentang dataran yang hanya dihuni beberapa biara Nestorian dan pasar kecil. Ia lantas menancapkan tongkat ke tanah. “Ini,” katanya, “adalah Madinah Al-Salam. Kota Damai.”
Sejarawan kelak mencatat, sosok itu, Abu Ja‘far Al-Manshur (penguasa ke-2 Dinasti Abbasiyah) memilih lokasi tersebut karena strategis. Ini, karena faktor perdagangan dan udara yang sejuk. Namun, orang-orang “bijak” di ring satu istana berbisik tentang mimpi: Al-Manshur bermimpi didatangi Nabi Muhammad Saw. yang menunjukkan persis di mana fondasi harus diletakkan.
Apakah mimpi itu benar?
Sulit diverifikasi, seperti kebanyakan hal indah dalam sejarah. Namun yang pasti, ketika arsitek pertama membentangkan benang pengukur, mereka tidak mendesain kota biasa. Mereka mendesain lingkaran. Ya, lingkaran berdiameter dua kilometer.
Tembok ganda setinggi dua puluh meter. Empat gerbang yang menghadap ke empat penjuru dunia: Kufah, Damaskus, Khurasan, dan Basrah: seperti kompas raksasa yang menunjuk ke seluruh wilayah kekuasaan Islam.
Di pusat lingkaran, tepat di titik porosnya, berdiri Istana Gerbang Emas dan masjid agung. Di sekitar pusat itulah, beberapa dasawarsa kemudian, tumbuh sesuatu yang akan membuat nama kota ini melegenda: “Bait Al-Hikmah” atau “Rumah Kebijaksanaan”.
Kota Bundar yang Tak Pernah Tidur
Kini, mari kita berhenti sejenak di Gerbang Khurasan, karena di sinilah semua dimulai. Tiada foto, tentu saja. Juga, tiada peninggalan arkeologis yang tersisa. Baghdad modern telah menelan habis kota bundar itu. Melapisinya dengan beton, jalan raya, dan kesibukan abad ke-21. Satu-satunya cara melihat Madinah Al-Salam adalah melalui kata-kata: manuskrip Ibn Serapion, sejarah Al-Khatib Al-Baghdadi, dan pemaparan Al-Ya‘qubi yang ditulis dengan tinta cepat dan kekaguman yang meluap-luap.

Juga, tentu saja, melalui imajinasi. Untuk itu, kini silakan bayangkan: Anda memasuki gerbang itu pada tahun 830 M. Dinding bata mentereng setinggi bangunan enam lantai. Pintu besi yang hanya dibuka saat fajar. Para penjaga dari Khurasan—berwajah Asia Tengah dan senjata berlapis perak—memeriksa setiap pengunjung.
Namun, jika Anda membawa gulungan papirus atau manuskrip kulit domba dari Constantinople (kini Istanbul), mereka akan memberi jalan kepada Anda dengan hormat. Di dalam, kota tersebut hidup dalam lingkaran-lingkaran konsentris. Lapisan terluar untuk pedagang, gudang, dan penginapan.
Lapisan berikutnya untuk perumahan para abnâ’: keturunan Persia yang datang bersama pasukan Abbasiyah dari Timur. Mereka membangun masjid kecil dengan arsitektur Samarkand, pasar yang menjual melon Bukhara, dan perkampungan bernama Harbiyah yang tak pernah benar-benar tidur.
Semakin ke dalam, semakin sunyi. Hingga di pusat lingkaran, Anda berdiri di halaman Istana Gerbang Emas. Di sebelah timur, kubah masjid menjulang tinggi. Di sebelah barat, sebuah bangunan tak terlalu megah, hanya dua lantai dengan halaman tengah berpohon kurma.
Tiada papan nama. Tiada prasasti. Namun, para utusan dari Cordoba hingga Cina tahu persis di mana harus mengetuk pintu. Itulah dia: Bait Al-Hikmah: pusat kegiatan ilmiah yang membuat perkembangan sains dan teknologi di Dunia Islam kala itu menggelinding sangat cepat.
Kini, perlu dikemukakan, selama satu abad lebih, tentang Bait Al-Hikmah kerap dipandang seakan ia adalah universitas modern dengan rektor, fakultas, kurikulum, dan ijazah. Sejarawan abad ke-19 dan awal abad ke-20 M —para orientalis Eropa yang terpesona oleh Timur— membangun narasi indah tentang “akademi agung Baghdad”, “pusat riset kerajaan”, “lembaga sains terbesar masa pertengahan”.
Padahal, lebih rumit. Bait Al-Hikmah, pada intinya, adalah perpustakaan. Nama awalnya malah lebih tepat: Khizânah Al-Hikmah (Balai Kebijaksanaan). Namun, balai ini istimewa. Ia bukan tempat buku mati. Ia adalah ruang hidup tempat para penerjemah duduk berjam-jam membandingkan manuskrip Yunani dengan versi Suryani dan tempat para astronom meminjam astrolab untuk observasi malam.
Juga, tempat para dokter mendebat teori Galen sambil membedah jantung domba. Sementara para juru tulis duduk bersila dengan tumpukan kertas di pangkuan mereka: kertas, benda ajaib yang baru tiga puluh tahun lalu sampai di Baghdad dari Tiongkok lewat tawanan perang Talas.
Harun Al-Rasyidlah yang mendirikan balai tersebut di akhir abad ke-8 M. Namun, figur sentral dalam kisah ini, seorang tokoh yang membuat para penulis biografi kesulitan memisahkan antara fakta dan legenda, adalah putranya: Abdullah Al-Ma’mun, seorang anak muda blasteran Arab dan Persia.
Mimpi Bertemu Aristoteles
Al-Ma’mun tidak seperti ayahnya. Harun Al-Rasyid, seorang penguasa flamboyant, seperti disajikan dalam dalam dongeng Seribu Satu Malam, lebih suka puisi daripada filsafat. Sedangkan Al-Ma’mun tumbuh di bawah asuhan Ja‘far Al-Barmaki, sosok Persia dari keluarga menteri cendekiawan yang memperkenalkannya pada logika Aristoteles.
Al-Ma’mun hafal Al-Quran dengan sempurna. Namun, ia juga menghafal Isagoge karya Porphyry. Ketika ia naik tahta pada tahun 813, setelah perang saudara yang panjang dan berdarah, ia membawa dua obsesi: menyatukan kekhalifahan dan menemukan semua buku di dunia.
Di sisi lain, beredar kisah terkenal tentang mimpinya. Dalam kisah tersebut dikemukakan bahwa Al-Ma’mun bercerita, “Malam itu, saya bermimpi melihat seorang lelaki duduk di singgasana, kulitnya putih, rambutnya kemerah-merahan, dahinya lebar, alis tebal dan kedua pelipisnya tebal. Kami berbincang tentang apa itu kebaikan. Dan ia menjawab dengan bahasa yang sempurna.” Sosok dalam mimpi itu itu, kata Al-Ma’mun, adalah Aristoteles.
Apakah mimpi ini benar-benar terjadi?
Sejarawan Abu Al-Faraj mencatatnya di abad ke-13, dua ratus tahun setelah Al-Ma’mun berpulang. Mungkin, ini propaganda untuk melegitimasi kecintaannya pada filsafat Yunani. Mungkin juga, ini hanyalah cara seorang penguasa menjelaskan kepada rakyatnya mengapa ia rela membayar emas seberat manuskrip untuk satu gulungan karya dari Constantinople.
Yang jelas, selepas mimpi itu tersebar, tiada lagi yang menahan laju proyek penerjemahan karya-karya ilmiah ke bahasa Arab. Nama pertama yang harus diingat, berkaitan dengan penerjemahan adalah Hunain bin Ishaq.
Dia lahir di Hira: kota Kristen Nestorian di selatan Irak. Bahasa ibunya adalah Bahasa Suryani, dialek Aram yang masih menyimpan kosakata Yesus. Ia belajar kedokteran di Baghdad, lalu pergi ke Constantinople untuk menguasai bahasa Yunani dengan aksen Attik murni.
Ketika Hunain datang ke Baghdad Madinah Al-Salam, Al-Ma’mun menunjuknya sebagai Kepala Penerjemah. Upahnya: emas seberat buku yang ia terjemahkan setiap halaman. Sebuah kebijakan yang membuat beberapa anggota istana berbisik tentang pemborosan, namun juga membuat Hunain mampu membeli semua manuskrip Galen yang ia temukan di biara-biara Anatolia.
Metode Hunain revolusioner. Ia tidak menerjemahkan kata demi kata seperti para pendahulunya. Ia membaca seluruh paragraf, memahami argumennya, lalu menulis ulang dalam bahasa Arab yang jernih dan presisi. Ketika ragu-misalnya tentang arti pneuma dalam tulisan Galen-ia tidak menerka.
Ia menulis surat ke sebuah biara di Sinai, meminta manuskrip lain untuk perbandingan. Jika masih ragu, ia akan mengadakan seminar dengan tiga penerjemah lain. Hasilnya: 116 karya utama. Termasuk seluruh korpus medis Galen dan Hippokrates, sebagian besar dialog Plato, dan hampir semua karya biologi Aristoteles.
Di ruang sebelah, duduk Tsabit bin Qurrah. Tsabit adalah seorang Sabian dari Harran: penyembah bintang, dalam istilah populer. Agamanya menganggap Hermes Trismegistus sebagai Nabi dan matematika sebagai ibadah. Al-Ma’mun tidak peduli. Yang ia lihat adalah seorang jenius yang mampu membaca Apollonius dalam bahasa aslinya .
Tsabit menerjemahkan Kronika: risalah tentang irisan kerucut yang sangat rumit sehingga di Perpustakaan Alexandria hanya tiga orang yang pernah meminjamnya. Ia mengoreksi terjemahan lama Euklides, menulis ulang bagian-bagian yang salah, menambahkan komentar yang kadang lebih panjang dari teks aslinya.
Ia juga menulis risalah sendiri: tentang bilangan sahabat, tentang keseimbangan, dan tentang pembuatan astrolab. Sedangkan di pojok lain, duduk tiga bersaudara: Muhammad, Ahmad, dan Hasan: putra Musa bin Syakir.
Musa bin Syakir asalnya seorang perampok yang kemudian menjadi astronom, teman main Al-Ma’un di masa kecil. Ketika Musa meninggal dunia, Al-Ma’mun mengadopsi anak-anaknya dan menitipkan mereka ke Bait Al-Hikmah. Tiga bocah yatim itu kemudian tumbuh menjadi tiga ilmuwan paling produktif di zamannya.
Bani Musa bersaudara tersebut tidak hanya menerjemahkan. Mereka merekayasa. Mereka membaca Pneumatika karya Hero dari Alexandria, lalu membangun alat-alat yang tidak pernah dibayangkan Hero: air mancur yang menyala, seruling otomatis yang dapat memainkan lagu berbeda setiap jam, “perempuan penari” yang bergerak dengan tekanan udara. Mereka juga menulis Kitâb Al-Hiyâl-Buku Mekanika-yang sembilan abad kemudian akan dibaca para insinyur Eropa dengan takjub.
Sains Besar di Kota Bundar
Kita kerap membayangkan ilmuwan abad ke-9 M sebagai penyendiri di ruang gelap. Itu gambaran romantis, namun tidak akurat. Al-Ma’mun adalah pelopor pendanaan “sains besar” (big science), istilah yang baru dikenal di abad ke-20. Ia tidak puas hanya menerjemahkan buku.
Ia ingin membuktikan apakah data di dalamnya benar. Ambil contoh Almagest karya Ptolemeus. Selama lima abad, astronom Yunani dan Persia menerima begitu saja bahwa keliling bumi adalah 180.000 stadia. Namun, dari mana angka ini berasal? Tidak ada yang tahu.

Al-Ma’mun memerintahkan timnya-terdiri dari astronom, surveyor, dan pembuat instrumen-untuk mengukurnya sendiri. Mereka pun pergi ke Gurun Sinjar, memilih dua titik pada meridian yang sama.
Di setiap titik, mereka mengamati ketinggian bintang yang sama pada waktu yang sama. Mereka mengukur jarak antara kedua titik dengan tali sepanjang satu mil, diulang ribuan kali. Mereka mencatat suhu udara, kelembaban, malah detak jantung para surveyor untuk memastikan tidak ada kesalahan karena kelelahan.
Hasilnya? 40.248 kilometer. Hanya 0,5 persen lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Ini bukan sekadar prestasi teknis. Ini pernyataan filosofis: bahwa otoritas kuno tidak suci, bahwa kebenaran harus diverifikasi, bahwa pengamatan langsung adalah saksi yang lebih terpercaya daripada manuskrip mana pun.
Di observatorium lain-didirikan di Syamasiyyah, di luar tembok Baghdad-para astronom Bait Al-Hikmah memetakan 1.029 bintang, mengoreksi posisi ribuan bintang dalam katalog Ptolemeus, dan menemukan bahwa matahari memiliki apsida yang bergerak. Al-Khawarizmi duduk di sini, di antara astrolab dan bola dunia. Kita mengenalnya sebagai “Bapak Aljabar”, namun ia juga ahli geografi.
Al-Ma’mun menugaskannya membuat peta dunia baru, menggabungkan data dari Ptolemeus, catatan pelaut India, dan laporan para pedagang yang berlayar hingga Tiongkok. Hasilnya adalah Kitâb Shûrah Al-Ardh (Gambar Bumi) yang mendefinisikan ulang letak Laut Kaspia, Sungai Nil, dan Pegunungan Kaukasus. Di ruang lain, Al-Kindi menulis 260 risalah.
Bayang-Bayang Panjang Kota Bundar
Namun, tiada peradaban yang abadi. Pada tahun 847 M, Al-Mutawakkil naik tahta. Ia tidak seperti Al-Ma’mun. Ia tidak percaya pada mimpi Aristoteles. Ia percaya pada teks suci yang harfiah, pada tradisi yang tidak berubah. Al-Mutawakkil tidak membakar Bait Al-Hikmah.
Setidaknya belum. Ia hanya membiarkannya layu. Dana penelitian dipotong. Para penerjemah beralih profesi menjadi pegawai administrasi. Observatorium di Syamasiyyah tidak pernah lagi merekam posisi bintang baru.
Bait Al-Hikmah masih bertahan, bak tanaman di gurun pasir yang mengurangi penguapan di musim kemarau. Para ilmuwan masih datang, namun tidak lagi dengan semangat ekspedisi ke Constantinople. Mereka menulis ulang karya lama, mengoreksi kesalahan minor, membuat ringkasan dari ringkasan.
Empat abad berlalu. Tahun 1258, seorang pangeran Mongol bernama Hulagu Khan menyeberangi Sungai Tigris. Ia membawa pasukan terbesar yang pernah dilihat Baghdad: seratus ribu penunggang kuda, insinyur Tiongkok dengan mesin kepung, dan ahli nujum yang membaca ramalan dari tulang domba.
Pada 10 Februari 1258, pasukan Mongol memasuki Kota Bundar. Istana Gerbang Emas dibakar. Masjid Agung dihancurkan. Dan Bait Al-Hikmah-balai kebijaksanaan yang menyimpan 400.000 manuskrip-menghadapi akhir yang telah ditakdirkan sejak Perpustakaan Alexandria dibakar.
Para penyerbu mengambil sampul-sampul kulit yang masih bagus untuk dibuat sandal. Lembaran-lembaran kertas dan perkamen dicabik, ditumpuk, dan dibakar. Yang tidak terbakar dibuang ke Sungai Tigris.
Konon, selama enam bulan, air sungai itu berwarna hitam. Bukan karena lumpur, namun karena tinta para ilmuwan yang larut dalam arus. Seorang sejarawan Persia yang menyaksikan kehancuran itu menulis, “Mereka membakar perpustakaan-perpustakaan Baghdad, dan buku-buku yang mereka bakar tidak akan pernah bisa ditulis ulang. Malah, jika pun semua pohon di surga dijadikan pena dan semua lautan dijadikan tinta.”
Namun, ini bukan akhir. Seperti jasad yang mati, namun ruhnya terus mengembara, Bait Al-Hikmah tidak pernah benar-benar sirna. Tiga puluh tahun sebelum invasi Mongol, seorang astronom bernama Nashiruddin Al-Thusi menyelamatkan 400.000 manuskrip. Ia membawa manuskrip-manuskrip itu ke Maragheh, ke observatorium baru yang didirikan di bawah perlindungan Mongol: ironisnya, cucu Hulagu-lah yang mendanainya.
Dari Maragheh, manuskrip-manuskrip ini menyebar ke Tabriz, ke Samarkand, dan ke Delhi. Salinan-salinan lain telah lebih dulu mencapai Andalusia. Di Cordoba dan Toledo, para ilmuwan Eropa mulai menerjemahkan karya-karya ini dari bahasa Arab ke bahasa Latin: teks-teks yang disalin dari Bait Al-Hikmah, yang diterjemahkan dari Yunani, yang dikomentari oleh Al-Khawarizmi dan Al-Kindi.
Selepas itu, Gerard dari Cremona datang ke Toledo tahun 1157, mencari satu buku: Almagest karya Ptolemeus. Ia menemukannya dalam bahasa Arab, terjemahan Hunain bin Ishaq yang telah dikoreksi oleh Tsabit bin Qurrah. Ia menghabiskan tiga puluh tahun berikutnya menerjemahkan 76 karya Arab ke Latin. Termasuk aljabar Al-Khawarizmi dan optik Al-Kindi.
Adelard dari Bath mengikuti jejak Gerard dari Cremona, dengan menyamar sebagai mahasiswa Muslim di Antiokhia untuk mendapatkan salinan Euklides versi Arab. Muncul kemudian Robert dari Ketton, untuk menerjemahkan Al-Quran atas permintaan biarawan Cluny. Dan kemudian muncul pula Michael Scot yang kemudian membawa risalah Aristoteles tentang hewan dari Palermo ke istana Friedrich II. Dari sinilah Renaisans Eropa lahir. Bukan dari ruang hampa. Juga, ukan dari berbincang dengan Aristoteles di alam bawah sadar.
Menemukan Kembali Lingkaran
Pada tahun 2003, perang lain datang ke Baghdad. Di antara bangunan-bangunan yang hancur, sebuah komplek penelitian bernama Bait Al-Hikmah-nama yang diambil dari pendahulunya yang legendaris-juga rusak terkena peluru. Ironi sejarah: pusat pengetahuan yang didirikan untuk mengenang Bait Al-Hikmah abad ke-9 M ikut hancur dalam invasi abad ke-21 M kemarin.
Namun, di Universitas Hamdard, Karachi, sebuah perpustakaan besar bernama Bait Al-Hikmat masih berdiri. Di Kairo, Universitas Al-Azhar Al-Syarif masih menyimpan manuskrip-manuskrip yang mungkin disalin dari manuskrip Baghdad. Di Eropa, para akademisi masih membaca terjemahan Gerard dari Cremona. Di Tokyo, para insinyur mempelajari algoritma yang disusun Al-Khawarizmi. Lingkaran itu tidak pernah benar-benar putus. Ia terus menggelinding. Bait Al-Hikmah dari Kota Bundar tetap akan dikenang. Selamanya!








