Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ekoteologi: Amanah Gunung Jali di Tengah Krisis Air Masa Kini

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
08/03/2026
in JURNAKULTURA
Ekoteologi: Amanah Gunung Jali di Tengah Krisis Air Masa Kini

Ekoteologi Pesantren Irsyaduth Thalabah

Perjalanan mengelola sumber mata air. Dari pengalaman kekeringan hingga Amanah Gunung Jali: metode hidrologi berbasis hubungan spiritual antara manusia, pohon, dan air.

Kemarau panjang pada 2015 silam, jadi pengingat keras bagi banyak pihak, khususnya masyarakat di Pulau Jawa, termasuk di Padangan Bojonegoro, bahwa air bukan sesuatu yang dengan mudah selalu tersedia — sumur mengering, mata air mati, dan teknologi modern kesulitan menanganinya.

Di tengah kemarau panjang yang berubah menjadi kekeringan masif pada 2015 itu, banyak pihak mulai menyadari bahwa krisis air bukan peristiwa musiman, tapi tanda atas rapuhnya hubungan antara manusia dengan lanskap alam di mana mereka hidup.

Dalam situasi kekeringan masif yang cukup genting itu, berbagai kalangan— baik itu pemerintah, pegiat lingkungan, hingga para tokoh masyarakat lokal— mulai mencari metode alternatif untuk menghidupkan ekosistem air tanah yang selama ini terabaikan.

Arya Sabiila Hayat Affandi (Gus Arya) bersama pesantren yang dia asuh, Pesantren Irsyaduth Thalabah Padangan, termasuk pihak yang terdampak kekeringan tersebut. Kekeringan pada 2015 kian memperpuruk kondisi pesantren yang, kala itu, memang sangat sulit dalam mencari sumber air.

Namun, bagi Pesantren Irsyaduth Tholabah, fenomena alam pada 2015 itu justru menjadi pijakan untuk melakukan pembelajaran, hingga menemukan metode kuno yang nyaris terlupakan: Amanah Gunung Jali, metode hidrologi berakar hubungan spiritual antara manusia, pohon, dan air.

Sanad Metode Gunung Jali

Zawiyah Gunung Jali merupakan pusat dakwah Islam yang dibangun Sidi Jamaluddin di bukit Gunung Jali Padangan, pada abad 14 M silam. Ada banyak ajaran Sidi Jamaluddin dalam menjaga keselarasan laku ubudiyah dan muamalah. Tak hanya tasamuh (toleransi) pada manusia, namun juga pada lingkungan alam.

Secara musalsal, ajaran-ajaran Sidi Jamaluddin yang pernah berkembang di Gunung Jali Padangan terus hidup dan diawetkan dari zaman ke zaman, melalui berbagai kaidah, prinsip, hingga bermacam hikayat yang tersimpan rapi dalam rantai pertarekatan Kasepuhan Padangan.

Sidi Jamaluddin mengajarkan alam bukan objek eksploitasi, melainkan subjek sosial. Merawat pohon dan menjaga sumber air dipandang sama pentingnya dengan ritual keagamaan. Dari Gunung Jali Padangan, ajaran ini diturunkan lintas generasi sebagai tanggung jawab, bukan sekadar romantisasi masa silam.

Baca Juga: Sidi Jamaluddin dan Ajaran Moderasi Gunung Jali 

Sampai pada abad 17 M, ajaran Sidi Jamaluddin ini dihidupkan para penerusnya seperti Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Singgahan. Tiga tokoh berafiliasi secara genealogis pada Sidi Jamaluddin itu, dikenal memiliki kedekatan dan penghargaan pada alam, terutama Sungai Bengawan, Pesisir Laut, dan Perbukitan Kendeng.

Ajaran-ajaran yang dihidupkan Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Singgahan pada abad 17 M itu, kelak melahirkan sejumlah tradisi ritual ekosufis dalam mengelola alam. Satu di antaranya adalah Wirid Wit, sebuah tradisi yang menjadikan dalil langit sebagai acuan dan instrumen dalam merawat bumi.

Wirid Wit bukan sekadar kegiatan menanam pohon sambil mewiridkan doa. Tapi sistem pengetahuan yang memadukan dalil Al-Quran pada kearifan alam. Melalui metode ini, para Masyayikh Padangan menganggap pohon adalah ciptaan Tuhan yang harus dihargai, karena punya peran penyeimbang alam.

Baca Juga: Wirid Wit, Tradisi Ekosufisme Padangan 

Pada abad 19 M, tradisi Wirid Wit kembali dipopulerkan para masyayikh Padangan sebagai bagian penting dari pemahaman Islam. Pesantren Klotok (Mbah Abdurrohman) dan Pesantren Betet (Mbah Syuhabuddin) cukup banyak mencatat literatur mengenai ekosufisme — metode Islam dalam memperlakukan lingkungan alam sebagai bagian dari kehidupan sosial.

Risalah Alfadangiyah: catatan masa silam tentang salam untuk laut, gunung, hutan, dan sungai (Pesantren Betet, 1840 M)

Dalam Risalah Alfadangiyah, tercatat metode para leluhur dalam memperlakukan alam. Bahwa sungai, hutan, gunung, dan lautan adalah wasilah penting dalam mendekatkan diri pada Tuhan. Karena itu keberadaan mereka harus dihargai sebagai subjek alam, bukan sekadar objek eksploitasi.

Untuk sekadar menebang pohon, misalnya, harus melewati pertimbangan manfaat dan mudharat yang ketat. Bukan karena takut pada entitas jin penjaga pohon, bukan. Tapi takut jika di dalam pohon terdapat wirid yang pernah disimpan para pendahulu. Sebab, jika pohon ditebang, wirid jariyah mereka pun tak akan mengalir lagi — inilah kode etik Pinisepuh Padangan dalam merawat pepohonan.

Di Padangan, sejumlah hikayat metaforis mengenai kedekatan manusia dengan alam juga bermunculan. Masyhur diceritakan, para Pinisepuh memiliki kemampuan interaksi dengan alam. Jika ingin mengambil buah, mereka tak pernah memanjat atau memetiknya. Namun cukup mengucap salam. Sebab, pohon akan menjawab salam itu dengan cara menjatuhkan buahnya.

Pada 1880 M, Mbah Kiai Ahmad Rowobayan mendirikan pesantren di wilayah rawa Desa Kuncen Padangan. Seperti para pendahulunya, Mbah Ahmad melakukan pembukaan lahan dengan kesadaran spiritual, bukan sekadar kegiatan fisik. Dari sini terlihat bahwa ajaran Sidi Jamaluddin terus hidup dengan bermacam tampilan. Bahwa alam adalah mitra manusia, dalam mengaransemen hidup yang berkelanjutan. Doa bukan hiasan, melainkan bagian dari proses merawat ekosistem alam.

Seiring waktu, tradisi kedekatan pada alam ini sempat meredup karena dianggap kalah telak dibanding metode modern. Namun, krisis air pada 2015 membuktikan bahwa solusi modern yang cenderung instan, faktanya sering rapuh di tengah jalan. Di sinilah peran generasi baru untuk memodifikasi, memunculkan, dan mengaransemen ulang ajaran luhur para Pinisepuh terdahulu.

Metode Gunung Jali Hari Ini 

Pada abad 21 ini, Gus Arya Padangan, pengasuh Ponpes Irsyaduth Thalabah berupaya membaca ulang tradisi lama itu dengan kacamata baru. Pengalaman spiritual merawat sumur tua di Pondok Sunan Drajat pada 2004, membuatnya memahami bahwa air memiliki dimensi yang tidak hanya teknis. Ketika krisis 2015 datang, pemahaman itu berubah menjadi dorongan untuk bertindak.

Gus Arya melakukan riset lapangan bertahun-tahun, mendatangi situs-situs kuno, mata air lama, dan hutan yang masih hidup. Ia mencatat pola dengan teliti, dari jenis pohon hingga cerita para sesepuh. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Bahwa sumber air yang bertahan, hampir selalu dikelilingi pohon dengan kecenderungan akar kuat seperti beringin, ara, bodhi, dan ipik.

Ekologi Gunung Jali: Mandala Pohon di kawasan Gunung Jali Padangan, pepohonan yang menjaga sumber mata air tetap hidup.

Dalam konteks hidrologi di kawasan Gunung Jali, keberadaan pohon bukan tentang seberapa tua usianya. Namun sebuah mekanisme, seberapa konsisten posisinya terus diperbaharui. Saat pohon mati, posisinya diganti. Sehingga di tiap zaman, pertautan antara akar dengan tanah tak pernah kosong.

Kaidah-kaidah tentang Gunung Jali tak hanya menyisakan cerita. Namun juga tauladan fisik berupa keberadaan pepohonan yang membentuk mandala penjaga mata air. Masyhur pepohonan berada di kawasan Gunung Jali mampu mengeluarkan rembesan air melalui celah-celah akarnya.

Menurut Gus Arya, pohon-pohon yang memiliki akar kuat ini, ternyata ditanam secara sengaja oleh generasi sebelumnya serta dirawat dengan wirid dalam waktu yang panjang. Hal ini menegaskan, Wirid Wit bukan sekadar simbol spiritual, tetapi laku yang berdampak nyata pada sistem air.

Replikasi Mandala Pohon: metode Pesantren Irsyaduth Thalabah Padangan dalam menghidupkan dan mengelola sumber mata air.

Pertemuannya dengan Mbah Sadiman di Wonogiri semakin memperkuat keyakinan itu. Dengan menanam ribuan pohon beringin selama puluhan tahun, Mbah Sadiman membuktikan bahwa kesabaran dan konsistensi mampu menghidupkan kembali wilayah kering, melalui memori ekologis, bahwa pohon membawa rekam jejak menjaga air, jika dirawat dengan benar.

Pengetahuan lapangan ini kemudian dipertemukan dengan literatur ilmiah modern. Konsep seperti hydraulic lift dan groundwater recharge memberi penjelasan ilmiah atas apa yang sudah lama dipraktikan leluhur. Sains tidak membantah tradisi, justru menjelaskan mekanisme mengapa tradisi itu bekerja. Di titik ini, spiritualitas dan ilmu pengetahuan saling menguatkan.

Pada 2019, riset dan penelitian itu diwujudkan dalam aksi nyata di belakang pesantren Irsyaduth Thalabah Kuncen Padangan. Pohon-pohon inti yang merupakan bibit-bibit dari situs berair kuno, ditanam dengan jarak terukur. Di mana, setiap pohon yang ditanam, diantar dan dipupuk dengan wirid ayat-ayat Quran.

Setahun kemudian, penggalian sumur dilakukan dengan pendekatan integratif antara mekanisme teknik dan spiritualitas wirid, memadukan dalil langit untuk merawat bumi: Metode Gunung Jali. Proses ini jadi sebuah sistem yang menuntut kesabaran dan keyakinan, bukan sekadar hasil instan.

Sistem itu kemudian berkembang menjadi Mandala Pohon, pola agroforestri yang menggabungkan resapan air, budidaya ikan, dan tanaman produktif. Semua dirancang untuk saling mendukung, menjaga air dan memberi manfaat nyata bagi santri. Yang dibangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Memasuki 2026, upaya Gus Arya mulai menuai hasil. Sumur mengalir stabil sepanjang musim, kolam berfungsi baik, dan santri belajar langsung tentang tanggung jawab terhadap alam. Pohon-pohon masih muda, namun sistem sudah bekerja. Ini adalah investasi lintas generasi, bukan solusi jangka pendek.

Realitas hari ini tak pernah berdiri sendiri. Ia hidup dalam dimensi ingatan yang tak selalu tampak, tapi terus bekerja di luar kesadaran manusia. Selama berabad-abad, Amanah Gunung Jali terus hidup sebagai kaidah sekaligus prinsip dalam mengelola alam, khususnya merawat sistem hidrologi air berbasis hubungan spiritual.

Amanah Gunung Jali memberi pesan penting bagi ribuan pesantren di Indonesia. Bahwa dalil langit harus digunakan untuk merawat bumi. Didekatkan pada alam, dengan cara mempelajari alam setempat, merawat pohon dengan sabar, dan membangun hubungan yang hormat pada air. Leluhur telah menunjukan bahwa alam adalah mitra, bukan sekadar objek.

Menanam pohon, menjaga sumber air, dan merawatnya dengan penuh kesabaran adalah bentuk ibadah muamalah yang nyata. Selama masih ada generasi penerus yang mau memikul amanah ini, metode Gunung Jali akan hidup dan relevan, bahkan di tengah krisis iklim zaman kini.

Tags: Amanah Gunung JaliEkoteologi KemenagMakin Tahu IndonesiaPesantren Irsyaduth ThalabahSidi Jamaluddin
Previous Post

Imam Sibawaih, Bapak Tata Bahasa Arab dari Iran

Next Post

Kota Bundar Baghdad, Sejarah Panjang Pusat Sains Islam

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: