Seperti yang selalu diajarkan sejarah kepada kita: malam yang paling gelap sering kali justru datang sebelum fajar.
Di sebuah malam yang terasa lebih panjang dari biasanya, saya membaca sebuah prediksi yang terasa seperti bisikan dari masa depan. Prediksi itu datang dari seorang analis bernama Jiang—seorang yang mungkin jauh dari hiruk-pikuk pasar tradisional di Yogyakarta, jauh dari aroma tempe goreng yang menguar dari dapur-dapur kampung.
Namun kata-katanya menyelinap masuk ke ruang batin saya seperti angin malam yang membawa kabar dari negeri jauh: perang antara Iran dan Israel tidak akan berhenti di satu garis front. Ia akan merembet. Seperti api yang menyentuh ladang kering. Api itu, kata Jiang, bisa menjalar ke mana-mana.
Sejarah memang selalu punya kebiasaan buruk: ia tidak pernah benar-benar selesai. Kita pernah menyaksikan bagaimana sebuah tembakan di Sarajevo pada tahun 1914 menjelma menjadi neraka bernama World War I. Sebuah peristiwa yang pada awalnya tampak lokal, hampir seperti pertikaian keluarga antar kerajaan Eropa, tiba-tiba berubah menjadi pusaran yang menyeret dunia. Jutaan manusia menjadi angka statistik. Kota-kota menjadi debu.
Begitulah perang bekerja: ia jarang tinggal di rumahnya sendiri. Ketika ketegangan antara Iran dan Israel meningkat, bayang-bayang negara lain ikut muncul di belakang panggung. United States, dengan armada militernya yang berlayar seperti kota-kota baja di laut, tak pernah benar-benar absen dalam drama Timur Tengah. Sejarah hubungan mereka panjang, berlapis kepentingan minyak, geopolitik, dan trauma sejarah yang belum selesai.
Di meja makan keluarga-keluarga di dunia yang jauh dari garis perang, konflik ini mungkin terasa seperti berita yang lewat begitu saja di layar ponsel. Tetapi bagi para analis geopolitik, setiap peluru yang ditembakkan di kawasan itu seperti batu kecil yang dilemparkan ke danau: gelombangnya bisa mencapai pantai yang jauh.
Saya teringat pada percakapan-percakapan tentang kebijakan negara kita sendiri. Kadang kebijakan pemerintah terasa kaku, bahkan terasa seperti langkah yang terlalu berhati-hati. Tetapi dalam bayangan kemungkinan perang berkepanjangan, ada kemungkinan bahwa sebagian kebijakan itu lahir dari kalkulasi yang tidak kita lihat. Sebuah upaya menyiapkan negeri ini menghadapi dunia yang tidak lagi stabil.
Barangkali kita memang hidup di zaman ketika para pemimpin dunia terlihat seperti tokoh-tokoh dalam novel absurd. Mereka berbicara tentang perdamaian sambil menambah anggaran militer. Mereka mengutuk kekerasan sambil mengirim senjata.

Ada sesuatu yang retak di dalam rasionalitas politik global. Sebagian orang menyebutnya kepentingan strategis. Sebagian lain menyebutnya hipokrisi. Ada juga yang menyebutnya—dengan kata yang lebih sederhana—delusi.
Namun di tengah semua itu, saya tetap ingin memelihara satu kemungkinan kecil: bahwa dunia suatu hari bisa terbebas dari logika kolonial lama, dari proyek dominasi yang dibungkus ideologi. Sebuah dunia di mana masa depan tidak lagi ditentukan oleh blok-blok kekuatan yang saling menakut-nakuti dengan misil dan kapal induk.
Harapan itu mungkin terdengar naif. Tapi sejarah juga menunjukkan sesuatu yang lain: sistem kekuasaan yang tampak abadi sering kali runtuh dengan cara yang tak terduga.
Imperium pernah terlihat tak terkalahkan. Sampai suatu hari ia tidak lagi ada. Mungkin masa depan tanpa dominasi ideologi kekuasaan tertentu memang masih jauh. Mungkin ia baru akan lahir setelah dunia melewati malam yang panjang. Tetapi seperti yang selalu diajarkan sejarah kepada kita: malam yang paling gelap sering kali justru datang sebelum fajar.







