Ada banyak tradisi kiai kuno yang kini terbukti bermanfaat bagi kesehatan masyarakat digital. Satu di antaranya Mlampah Lillah yang pernah didawamkan Kiai Mbarangan beserta para saudaranya.
Kiai Mbarangan merupakan kiai dari Dusun Mbarangan, Kuncen Padangan, Bojonegoro — sebuah dusun yang dikenal sebagai pemukiman di dalam pemakaman. Serupa banyak tokoh-tokoh kiai Padangan pada umumnya, Kiai Mbarangan lebih banyak diceritakan dari sisi keramat.
Di antara kerap diceritakan, adalah kisah nekuk bumi (teleportasi), berjalan di sungai, atau kisah tentang musala yang saat terjadi longsor bisa bergeser sendiri. Banyaknya kisah hiperbolis, justru menutup informasi yang punya relevansi metodologis dengan zaman ini.
Kiai Mbarangan bernama asli Sanusi bin Syahid bin Syihabuddin. Ia adalah putra Kiai Syahid Kembangan, dan cucu Kiai Syihabuddin Betet. Sejak kecil Kiai Sanusi belajar agama pada ayahnya, Kiai Syahid Kembangan. Ia juga belajar pada Kiai Syamsuddin Betet dan Kiai Murtadhlo Kuncen yang tak lain adalah pamannya sendiri.
Kiai Sanusi diperintah ayahnya mendirikan peguron di Dusun Mbarangan, sebuah dusun terpencil berpagar pemakaman yang menjorok kedalam, berada di sudut songapan, pertautan antara sungai Bengawan dan Kali Bluduk — sebuah lokasi tersembunyi, yang kala itu sangat sulit diakses manusia. Sejak saat itu dia dikenal Kiai Mbarangan.

Meski didirikan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran Islam, kelak Peguron Mbarangan lebih dikenal sebagai tempat ajaran kanuragan. Sama seperti Peguron Kembangan yang didirikan ayahnya, Peguron Mbarangan masyhur sebagai ruang penempaan jadug-kanuragan yang berorientasi pada tradisi suluk tarekat.
Dusun Mbarangan dikenal sebagai tempat para penyintas perbudakan Koeli Ordonanti (1881) yang kerap menebar perlawanan. Sepeninggal Kiai Sanusi, Peguron Mbarangan masih mengembangkan suwuk perlawanan hingga masa Romusha Jepang (1943), khususnya pada era putra-putra Kiai Sanusi, yakni Kiai Khosman Sanusi dan Kiai Warosyi Sanusi.
Sayangnya, selepas masa penjajahan Jepang, riwayat Peguron Mbarangan seperti tenggelam ditelan waktu. Hanya tersisa kisah dari ingatan orang-orang tua, serpihan suwuk mujarobat, serta musala kecil di tepi jurang — satu-satunya peninggalan fisik bekas peguron yang sampai kini masih bertahan, namun sudah direnovasi.
Laku Mlampah Lillah
Di balik cerita-cerita ajaib mengenai Kiai Sanusi, terdapat satu metode menarik tentang jalan kaki. Masyhur Kiai Sanusi dikenal sebagai Kiai yang memiliki lelaku keluyuran jalan kaki. Dalam konteks Peguron Mbarangan, jalan kaki bukan sekadar keluyuran tanpa tujuan, namun sebuah metode yang juga dikenal dengan Mlampah Lillah.
Kiai Sanusi mengimplementasikan ayat Afalam Yasiru fil-Ardhli (QS. Al Hajj, 46) sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia memaknai “jalan kaki” sebagai medium mempertajam hati serta menajamkan telinga untuk memahami dan mendengar ayat-ayat Allah.

Kiai Sanusi mendawamkan laku jalan kaki sebagai proses wirid. Istilah wira-wiri turut ndalan (wiridan) benar-benar dimaknai sebagai dzikir. Tiap Jumat sekali, masyhur Kiai Sanusi melakukan rihlah jalan kaki ke Jojogan Tuban, ke makam Syekh Abdul Jabbar Jojogan yang merupakan leluhurnya. Kebiasaan ini bahkan mentradisi.
Mlampah Lillah Kalimatillah — mlampah kerono Allah, mlampah nggembol kalimate Gusti Allah (berjalan kaki karena Allah, berjalan kaki dengan membawa kalimat Allah). Berjalan kaki jadi bagian tak terpisah dari proses merapal wirid. Tiap kaki kanan berada di depan, hati langsung mengucapkan: “Sallahu Ala Muhammad”.
Jalan kaki tak hanya dimaknai sebagai siasat atas tiadanya kendaraan. Namun memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam: ritus sunyi di tengah keramaian, di mana setiap langkah bukan sekadar perpindahan tubuh, melainkan gerak batin yang menyebut nama-Nya.
Mlampah Lillah bukan sekadar aktivitas berjalan. Di dalamnya, langkah kaki menyublim dalam irama zikir. Tanpa suara keras, tanpa gestur mencolok, tanpa ritual yang demonstratif. Ia hadir sebagai laku zikir batiniah— tenang, tersembunyi, dan tidak vulgar.
Sebuah fakta menarik karena metode Mlampah Lillah yang diterapkan Kiai Sanusi ini, ternyata juga diterapkan saudara-saudaranya yang lain. Di antaranya Kiai Yakub Trembes, Kiai Dullah Betet, Kiai Syarif Kedungkebo, dan Kiai Jenal Kedungkebo, yang tak lain adalah adik-adik kandung dari Kiai Sanusi Mbarangan.
Kiai Syarif Kedungkebo juga dikenal mendawamkan laku Mlampah Lillah ini. Kiai Syarif Kedungkebo bahkan kerap mengajak keluarganya untuk melakukan rihlah jalan kaki, tak hanya menuju Jojogan Singgahan, tapi juga jalan kaki dari Kedungkebo Senori menuju Padangan, untuk bersilaturahim dan menziarahi leluhur.
Masyhur setiap Jumat Pahing, Kiai Syarif Kedungkebo beserta keluarganya, berjalan kaki dari kawasan Senori menuju Padangan, untuk bersilaturahim kepada para saudaranya. Tradisi Mlampah Lillah ini kelak juga diteruskan adiknya, yaitu Kiai Jenal Kedungkebo.
Kiai Syarif Kedungkebo dan Kiai Jenal Kedungkebo merupakan ulama dari Kedungkebo, Senori, yang cukup masyhur pada masa penjajahan Jepang. Keduanya juga dikenal mendawamkan laku Mlampah Lillah sebagai bagian dari ritual muamalah rutin.

Kiai Qomari Kedungkebo, cucu Kiai Syarif Kedungkebo, masih mengingat secara jelas bagaimana laku Mlampah Lillah itu ditradisikan oleh kakeknya. Bahkan, ia juga masih menangi (menyaksikan) serta mengikuti bagaimana tradisi mlampah itu dijalankan.
Kiai Qomari bercerita, bahwa semasa kecil, dia sering diajak kakeknya untuk melakukan laku mlampah dari Kedungkebo Senori menuju Padangan. Menurut Kiai Qomari, kegiatan jalan kaki ini dilakukan dalam rangka rutinan silaturahim dan ziarah leluhur.
“Saya masih ingat, tiap Jumat Pahing, dulu saya diajak Mbah untuk laku mlampah” ucap kiai kelahiran 1940 yang hafalan dan ingatannya masih amat tajam tersebut.
Kiai Qomari masih ingat jelas ketika sang kakek mengajaknya mlampah. Bahkan, tempat-tempat yang disinggahi pun masih hafal sampai kini. Berangkat dari Senori, naik bukit berjalan ke arah selatan. Kemudian turun bukit menuju Trembes Malo, Panjunan Kalitidu, Kembangan Gayam, Petak Tobo, hingga Klotok Padangan.
Kiai Qomari menjelaskan, Mbah-mbah mbiyen (orang-orang terdahulu) memaknai mlampah sebagai lelaku istimewa. Ia bukan sekadar jalan kaki. Namun, ada kesadaran yang terus dijaga saat sedang berjalan. Ini alasan kiai-kiai kuno punya kekuatan fisik dan daya ingat atas hafalan yang amat tajam.
Jalan Kaki di Zaman Digital
Tradisi Mlampah Lillah yang pernah didawamkan Kiai Sanusi, Kiai Syarif, dan saudara-saudaranya puluhan tahun lalu, faktanya punya relevansi positif di zaman digital. World Health Organization (WHO) memandang jalan kaki sebagai olahraga istimewa. Jalan kaki disebut olahraga berkelanjutan yang menyehatkan tubuh dan pikiran.
Dokter sering mengistimewakan jalan kaki sebagai olahraga karena ia bekerja secara bersamaan pada dimensi fisik dan psikologis manusia. Secara fisik, jalan kaki menjaga kesehatan jantung, melatih otot, serta memperbaiki metabolisme dengan tekanan ringan pada sendi, sehingga aman dilakukan hampir oleh semua usia.
Namun yang membuatnya istimewa dibanding olahraga lain adalah efek psikologisnya: ritme langkah yang stabil membantu menenangkan sistem saraf, menurunkan hormon stres, serta merangsang pelepasan hormon suasana hati seperti endorfin dan serotonin. Karena gerakannya alami dan tidak kompetitif, jalan kaki memberi ruang bagi pikiran untuk lebih reflektif.
Tauladan bijak dari masa lalu, memang selalu hadir jika mau dipelajari. Ada banyak tradisi kiai kuno yang kini terbukti bermanfaat bagi kesehatan masyarakat di zaman digital. Satu di antaranya laku Mlampah Lillah yang pernah didawamkan Kiai Sanusi Mbarangan beserta para saudaranya.








