Lebaran bukan hanya kembali ke fitrah. Lebaran adalah momen melebarkan silaturahmi dan memperlebar keberkahan bagi sesama.
Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar mengatakan, Lebaran bukan sekadar penanda berakhirnya puasa. Ia adalah jeda yang penuh makna, ruang refleksi yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri—dan lebih jauh lagi, dengan sesamanya.
“Di momen inilah, silaturahmi menemukan bentuknya yang paling hangat: diperlebar, diperluas, dan diperdalam” ucap Abdulloh Umar pada Jurnaba (20/3/2026)
Alumni Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang itu menyatakan, kata Lebaran memang terasa sederhana, namun menyimpan daya hidup yang luas. Sebab silaturahmi dalam konteks Lebaran tidak berhenti pada saling berkunjung atau berjabat tangan. Ia bergerak lebih jauh, menembus sekat-sekat sosial, mengikis jarak emosional, bahkan meluruhkan ego yang selama ini mengendap dalam diam.
Di hari-hari biasa, kata Umar, relasi antar manusia berjalan dalam ritme kaku. Ada batasan-batasan tak kasat mata yang membentuk jarak: perbedaan status, latar belakang, hingga prasangka sosial yang kadang tak disadari. Namun Lebaran hadir sebagai momentum yang melenturkan semua itu.
”Kata ‘maaf’ yang diucapkan bukan hanya formalitas, melainkan kunci pembuka bagi ruang baru bernama keikhlasan”. ucap Umar penuh penghayatan.
Lebaran sebagai momen memperlebar silaturahmi, kata dia, berarti berani melangkah keluar dari lingkaran sempit. Tak hanya menyapa yang dekat, tapi juga merangkul yang sempat menjauh. Tak hanya mengunjungi yang akrab, tapi juga mengetuk pintu yang lama tertutup. Di sinilah Lebaran menemukan relevansinya sebagai peristiwa sosial yang hidup.

Lebih jauh lagi, Lebaran adalah momen melebarkan sayap keberkahan. Kebaikan dan keberkahan yang selama Ramadan dilatih melalui puasa, sedekah, dan pengendalian diri, kini menemukan ruang aktualisasinya di tengah masyarakat. Sayap-sayap keberkahan itu tidak lagi terlipat, melainkan mengembang, menjangkau lebih luas, menyentuh lebih banyak hati.
Kebaikan atau keberkahan dalam konteks ini, kata Umar, tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ia bisa sederhana: senyum yang tulus, sapaan yang hangat, atau sekadar kesediaan untuk mendengarkan. Namun justru dari hal-hal kecil inilah, jaringan kemanusiaan terajut kembali. Lebaran mengajarkan bahwa kebaikan tidak harus spektakuler untuk menjadi bermakna.
Di tengah dunia yang kian cepat dan individualistik, Lebaran menjadi pengingat bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk relasional. Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk saling terhubung. Silaturahmi adalah cara kita menjaga kemanusiaan itu tetap utuh.
”Lebaran mengajarkan, manusia bukan lagi sekadar makhluk sosial, tapi makhluk relasional yang saling terhubung” tegas bapak tiga anak tersebut.
Maka ketika Lebaran tiba, yang seharusnya diperlebar bukan hanya jalan-jalan yang dilalui saat mudik, tetapi juga ruang di dalam hati. Ruang untuk menerima, memaafkan, dan memahami. Ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang mungkin sempat redup di tengah kesibukan sehari-hari.
Pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang kembali ke fitrah, tetapi juga tentang memperluas makna menjadi manusia. Memperlebar silaturahmi dan melebarkan sayap keberkahan — menghadirkan kehangatan di tengah dunia yang seringkali terasa dingin. Dan dari sanalah, Lebaran menemukan maknanya yang paling dalam—bukan sekadar dirayakan, tetapi dihidupkan.








