Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
10/05/2026
in Cecurhatan
Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

Makrifat Sengkuni

Kenangan itu masih terlintas jelas di benak saya, terasa baru kemarin, saat Bapak mengajak saya menonton wayang kulit di pelataran Balai Kota Malang pada suatu malam Minggu. Sang maestro, Ki Enthus Susmono, bertindak sebagai dalangnya.

Di Tengah-tengah pertunjukan, ‘Dalang Edan’ dari Tegal itu melakukan aksi yang membuat penonton terkejut sebentar. Terhenyak.

Secara spontan, ia membanting wayang Sengkuni tepat ke samping kirinya. Belum sempat penonton mencerna apa yang terjadi, Ki Enthus segera menarik sebilah golok, menebaskannya ke arah Sengkuni, dan mencabik cabiknya hingga menjadi beberapa bagian.

Dalam benak saya, mungkin, apa yang dilakukan Ki Enthus hanyalah sekadar improvisasi artistik untuk menciptakan pertunjukan yang lebih spektakuler. Wah. Membuat efek ‘nyeleneh’, yang berujung pada kepopulerannya sebagai dalang.

Mungkin juga Ki Enthus tengah sewot, bahkan marah dengan elite picik yang disimbolkan dengan karakter Sengkuni. Lantas dengan sengaja ia masuk ke dalam peran untuk merasakan konflik secara intens. Dan karakter Sengkuni menjadi pelampiasan.

Dus, terlepas dari itu semua, yang pasti, sejak saat itu nama Sengkuni masuk dalam catatan saya: sebagai karakter populer dalam jagad pewayangan.

Sengkuni: Sekadar Riwayat

Sengkuni atau dalam Bahasa Dewanagari bernama Shakuni dikenal sebagai tokoh antagonis dalam ephos Mahabharata. Ia merupakan putra sulung Subala, Raja Gandhara. Dalam versi India, kekecewaan terbesar Sengkuni ketika adiknya (Gandhari) di persunting oleh Pandhu, putra mahkota Hastinapura.

Ketika diboyong ke Hastinapura, Gandhari bukan dinikahi Pandhu yang rupawan, melainkan dipersembahkan kepada Destarata, Sang Kakak yang buta sejak lahir. Disitulah Gandhari mengalami frustasi berat, semacam cognitive dissonance dalam istilah psikologi. Lantas ia bersumpah akan menutup mata seumur hidup, menghormati Destarata. Demi berempati terhadap penderitaan adik tercinta, Sengkuni berniat balas dendam terhadap keluarga Kuru, terutama Pandhu beserta keturunannya yang dianggapnya biang kerok atas kejadian ini.

Semua orang bebas memperdebatkan hitam putih Sengkuni sejauh yang ia mampu. Bisa dengan perspektif psikologis-politik India, dengan memandang Sengkuni sebagai ksatria agung Gandhara. Ksatria yang menuntuk haknya terhadap Dinasti Kuru.

Pada posisi ini, Sengkuni adalah bagian dari narasi besar tentang Dharma (kebenaran) dan Karma (akibat perbuatan). Ia strategis, dingin, dan penuh perhitungan. Sengkuni menjadi aktor penting dalam perang besar di Kurushetra melalui beberapa skenario yang ia rencanakan.

Bisa juga memandang Sengkuni sebagai jenis karakter ala simbolisme Jawa, yang selaras dengan pandangan Umberto Eco, bahwa tanda tidak lagi sekadar merepresentasikan realitas, tapi bisa menggantikan realitas itu sendiri.

Pada posisi ini, Sengkuni sebagai tokoh yang memang licik sejak awal. Taken for granted. Dalam memahami karakter, fokusnya bukan ‘kenapa dia jahat’, tapi ‘bagaimana kelicikan itu bekerja’. Mirip adagium populer Thomas Hobbes, Homo homini lupus est (bahwa manusia bisa menjadi serigala bagi sesamanya).

Dalam paradigma ini Sengkuni lebih dekat kepada realitas sosial, sebagai kritik terhadap perilaku politik licik sekaligus gambaran elite yang manipulatif. Alhasil, Sengkuni menjadi ‘arketipe’ yang terus hidup, bukan sekadar tokoh cerita, tapi gambaran pola perilaku yang bisa muncul dalam politik, organisasi, bahkan di lingkungan sehari-hari.

Sengkuni: Tentang Kebiasaan Lupa Menggosok Gigi

Selain Ki Enthus, yang membangun persepsi saya tentang Sengkuni adalah serial Mahabarata yang tayang di stasiun televisi swasta. Serial tersebut diproduksi oleh Swastik Productions Pvt. Ltd. Yang unik, muncul tokoh Sengkuni yang diperankan dengan baik oleh Praneet Bhat. Dengan ciri khas, gigi dengan bercak hitam memanjang, serta mata sebelah kanan yang acapkali menutup.

Persepsi saya pun terbentuk, khususnya, dengan guratan hitam pada giginya. Lantas imajinasi menyimpulkan, bahwa Sengkuni lupa menggosok gigi. Sehingga mulutnya menyemburkan bau yang tidak sedap. Dengan memberi tanda visual tersebut, produser telah sukses memberikan simulasi pada pemirsa, terutama saya, tanpa perlu memahami karakter secara mendalam. Cukup melihat tanda visual langsung tahu ‘bahwa orang ini licik’.

Gigi dengan guratan hitam yang menimbulkan bau tidak sedap itu adalah tanda (sign). Tanda menjadi simulasi karakter. Simulasi itu terasa lebih nyata secara emosional daripada kompleksitas asli.

Dengan mereduksi ‘lupa menggosok gigi’, secara tidak langsung sedang membalik hierarki makna, dari yang kompleks menjadi sepele. Dalam permukaan seperti humor, namun lapisan terdalamnya merupakan kritik terhadap simplifikasi moral.

Dari penampilan, maka kita dorong logika itu sampai batasnya, bahwa seluruh kejahatan bisa dijelaskan oleh kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti lupa menggosok gigi. Tentu ini tidak masuk akal. Dan justru tidak masuk akal, ia membuka ruang refleksi; mungkin cara kita membaca tanda selama ini juga tidak sepenuhnya masuk akal.

Makrifat Sengkuni

Kalau dilihat dari sudut pandang tasawuf, pendekatannya memang jauh dari pembacaan biasa. Tokoh semacam Sengkuni tidak langsung dilabeli ‘jahat’, tapi bisa dibaca sebagai bagian dari tatanan peran dalam kehendak Ilahi. Menjadi tajalli (penampakan sifat-sifat Tuhan). Karena setiap makhluk membawa peran tertentu. Begitu juga Sengkuni, ia hanya memantulkan tipu daya, kecerdikan, dan manipulasi.

Terkait pandangan ini, Beberapa ayat Al-Qur’an telah menyebutkan. Maka, bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka dan bukan engkau yang melempar ketika melempar, melainkan Allah yang melempar (Al-Anfal: 17).

Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu (Ash-Shaffat : 96). Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia (Shad: 37) Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main (Al-Anbiya: 16-17).

Tasawuf memandang sesuatu yang tampak sebagai jahat pada level lahir belum tentu jahat secara mutlak pada level batin. Karena hal tersebut, bisa jadi mempunyai fungsi menguji kesabaran, memunculkan kebenaran, menggerakkan peristiwa menuju hikmah yang lebih besar. Tanpa figur seperti Sengkuni, bisa jadi, konflik tidak terjadi dan kualitas moral tokoh lain tidak akan teruji. Justru dengan itu, kebenaran akan terlihat, kepalsuan jadi terbongkar

Dari sini, timbul pertanyaan: kalau semua hanyalah peran, berarti tidak ada yang salah? Ini Adalah pemahaman yang keliru. Dalam Tasawuf, pemahaman semacam ini untuk kesadaran batin, bukan pembenaran tindakan.

Artinya, kita memahami peran Sengkuni tapi tidak meniru dan membenarkannya. Ia hanya menjalankan peran, tapi peran itu tetap memiliki konsekuensi di hadapan Tuhan maupun pada manusia. Wallahu alam.

Tags: Makrifat SengkuniPermenungan Budaya
Previous Post

Waspada 'Kubu-kubuan' di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi 'Anak Kemarin Sore' yang Songong

BERITA MENARIK LAINNYA

Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong
Cecurhatan

Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong

10/05/2026
Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 
Cecurhatan

Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

09/05/2026
Subjek Wisata, bukan Objek Wisata
Cecurhatan

Subjek Wisata, bukan Objek Wisata

08/05/2026

Anyar Nabs

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

10/05/2026
Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong

Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong

10/05/2026
Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

09/05/2026
Subjek Wisata, bukan Objek Wisata

Subjek Wisata, bukan Objek Wisata

08/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: