Bagi sebagian orang, rembesan minyak di Kedung Lantung mungkin hanya tampak sebagai genangan hitam yang bercampur air. Namun, bagi para peserta Ekspedisi Naga Api VI, rembesan itu adalah halaman terbuka yang menyimpan kisah panjang perjalanan bumi selama jutaan tahun.
Pada Sabtu (19/7/2026), Komunitas Bojonegoro History kembali menggelar Ekspedisi Naga Api VI di kawasan geosite Kedung Lantung, Desa Drenges, Kabupaten Bojonegoro. Di lokasi yang diusulkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGGp) bertema Petroleum System itu, peserta tidak sekadar melakukan pengamatan lapangan. Mereka mencatat, berdiskusi, sekaligus belajar membaca jejak geologi yang masih bekerja hingga hari ini.
Ketua Komunitas Bojonegoro History, M. Andre, mengatakan ekspedisi tersebut dirancang sebagai ruang belajar terbuka agar masyarakat tak hanya mendengar gema wisata geopark. Namun dapat memahami secara langsung, nilai sebuah geosite yang selama ini mereka dengar.
“Ekspedisi ini memang untuk belajar. Sehingga masyarakat tahu secara langsung apa itu geopark dan apa nilai pentingnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Andre, Kedung Lantung tidak hanya menyimpan potensi wisata, tetapi juga menyimpan kekayaan pengetahuan yang selama ini lebih banyak berada di ruang-ruang akademik. Melalui kegiatan lapangan seperti ini, ilmu geologi diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat.
“Ketika masyarakat melihat langsung fenomenanya, mereka akan memahami bahwa setiap bentang alam memiliki cerita dan nilai ilmiah yang penting untuk dijaga,” katanya.
Sementara itu, geolog dari UPN Veteran Yogyakarta yang mendampingi ekspedisi, Burhanuddin Arrriza, menjelaskan bahwa rembesan minyak di Kedung Lantung merupakan manifestasi alami dari sistem petroleum yang masih aktif di bawah permukaan bumi.
Ia menjelaskan, minyak bumi di lokasi tersebut berasal dari batuan induk (source rock) Formasi Klitik yang kaya material organik. Selama jutaan tahun, material organik itu mengalami proses pematangan akibat peningkatan suhu dan tekanan sehingga berubah menjadi hidrokarbon.

Setelah terbentuk, hidrokarbon bermigrasi menuju batuan reservoir Formasi Sonde yang memiliki porositas dan permeabilitas baik sehingga mampu menyimpan sekaligus mengalirkan minyak. Di atasnya terdapat lapisan batulempung yang berfungsi sebagai batuan penutup (cap rock) sehingga hidrokarbon dapat terperangkap dan terakumulasi.
Namun, aktivitas tektonik yang berlangsung kemudian membentuk rekahan pada lapisan penutup tersebut. Rekahan inilah yang menjadi jalur migrasi sekunder sehingga sebagian minyak bergerak naik hingga mencapai permukaan.
“Akibatnya, terbentuklah rembesan minyak alami yang hingga kini masih dapat diamati di Kedung Lantung,” jelas Arrriza.
Fenomena itu, lanjutnya, memperlihatkan keterkaitan utuh antara batuan induk, batuan reservoir, batuan penutup, serta struktur geologi yang mengontrol perjalanan hidrokarbon dari kedalaman bumi hingga muncul sebagai rembesan alami.
Lebih jauh ia menjelaskan, kehadiran rembesan minyak ini menjadi bukti bahwa sistem petroleum di kawasan Bojonegoro pernah berkembang dengan sangat baik, bahkan sebagian proses geologinya masih dapat diamati hingga sekarang.
Di Kedung Lantung, bumi seolah membuka sedikit rahasianya. Dari celah-celah batuan yang mengeluarkan minyak, masyarakat diajak memahami bahwa bentang alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan arsip geologi yang merekam sejarah panjang pembentukan wilayah Bojonegoro.
Ekspedisi Naga Api merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas. Program ini mendukung upaya Pemkab Bojonegoro dalam mengembangkan geopark sebagai identitas daerah sekaligus sarana pendidikan kebumian yang dapat dinikmati masyarakat luas.








