Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mengamati Petroleum System: Membaca Rembesan Minyak Bumi di Kedung Lantung

Bakti Suryo by Bakti Suryo
22/07/2026
in JURNAKOLOGI
Mengamati Petroleum System: Membaca Rembesan Minyak Bumi di Kedung Lantung

Mengamati Petroleum System di Kedung Lantung (Jurnaba)

Bagi sebagian orang, rembesan minyak di Kedung Lantung mungkin hanya tampak sebagai genangan hitam yang bercampur air. Namun, bagi para peserta Ekspedisi Naga Api VI, rembesan itu adalah halaman terbuka yang menyimpan kisah panjang perjalanan bumi selama jutaan tahun.

Pada Sabtu (19/7/2026), Komunitas Bojonegoro History kembali menggelar Ekspedisi Naga Api VI di kawasan geosite Kedung Lantung, Desa Drenges, Kabupaten Bojonegoro. Di lokasi yang diusulkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGGp) bertema Petroleum System itu, peserta tidak sekadar melakukan pengamatan lapangan. Mereka mencatat, berdiskusi, sekaligus belajar membaca jejak geologi yang masih bekerja hingga hari ini.

Ketua Komunitas Bojonegoro History, M. Andre, mengatakan ekspedisi tersebut dirancang sebagai ruang belajar terbuka agar masyarakat tak hanya mendengar gema wisata geopark. Namun dapat memahami secara langsung, nilai sebuah geosite yang selama ini mereka dengar.

“Ekspedisi ini memang untuk belajar. Sehingga masyarakat tahu secara langsung apa itu geopark dan apa nilai pentingnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Andre, Kedung Lantung tidak hanya menyimpan potensi wisata, tetapi juga menyimpan kekayaan pengetahuan yang selama ini lebih banyak berada di ruang-ruang akademik. Melalui kegiatan lapangan seperti ini, ilmu geologi diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat.

“Ketika masyarakat melihat langsung fenomenanya, mereka akan memahami bahwa setiap bentang alam memiliki cerita dan nilai ilmiah yang penting untuk dijaga,” katanya.

Sementara itu, geolog dari UPN Veteran Yogyakarta yang mendampingi ekspedisi, Burhanuddin Arrriza, menjelaskan bahwa rembesan minyak di Kedung Lantung merupakan manifestasi alami dari sistem petroleum yang masih aktif di bawah permukaan bumi.

Ia menjelaskan, minyak bumi di lokasi tersebut berasal dari batuan induk (source rock) Formasi Klitik yang kaya material organik. Selama jutaan tahun, material organik itu mengalami proses pematangan akibat peningkatan suhu dan tekanan sehingga berubah menjadi hidrokarbon.

Tim Ekspedisi Naga Api melakukan observasi di lapangan (Jurnaba)

Setelah terbentuk, hidrokarbon bermigrasi menuju batuan reservoir Formasi Sonde yang memiliki porositas dan permeabilitas baik sehingga mampu menyimpan sekaligus mengalirkan minyak. Di atasnya terdapat lapisan batulempung yang berfungsi sebagai batuan penutup (cap rock) sehingga hidrokarbon dapat terperangkap dan terakumulasi.

Namun, aktivitas tektonik yang berlangsung kemudian membentuk rekahan pada lapisan penutup tersebut. Rekahan inilah yang menjadi jalur migrasi sekunder sehingga sebagian minyak bergerak naik hingga mencapai permukaan.

“Akibatnya, terbentuklah rembesan minyak alami yang hingga kini masih dapat diamati di Kedung Lantung,” jelas Arrriza.

Fenomena itu, lanjutnya, memperlihatkan keterkaitan utuh antara batuan induk, batuan reservoir, batuan penutup, serta struktur geologi yang mengontrol perjalanan hidrokarbon dari kedalaman bumi hingga muncul sebagai rembesan alami.

Lebih jauh ia menjelaskan, kehadiran rembesan minyak ini menjadi bukti bahwa sistem petroleum di kawasan Bojonegoro pernah berkembang dengan sangat baik, bahkan sebagian proses geologinya masih dapat diamati hingga sekarang.

Di Kedung Lantung, bumi seolah membuka sedikit rahasianya. Dari celah-celah batuan yang mengeluarkan minyak, masyarakat diajak memahami bahwa bentang alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan arsip geologi yang merekam sejarah panjang pembentukan wilayah Bojonegoro.

Ekspedisi Naga Api merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas. Program ini mendukung upaya Pemkab Bojonegoro dalam mengembangkan geopark sebagai identitas daerah sekaligus sarana pendidikan kebumian yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Tags: Ekspedisi Naga ApiGeopark BojonegoroMakin Tahu IndonesiaSerial Literasi Geopark
Previous Post

Masyarakat Desa Sudu Bidik Pengelolaan Sampah Tingkat Kecamatan Gayam

Next Post

KKN Unigoro dan Pokdarwis Hijaukan Geosite Kedung Lantung Lewat Program Konservasi Tanaman

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika Ilmu Lebih Berharga Dari Sebutir Nangka: Humor dan Hikmah Pencurian (1)
JURNAKOLOGI

Ketika Ilmu Lebih Berharga Dari Sebutir Nangka: Humor dan Hikmah Pencurian (1)

18/07/2025
Batuan Karst: Pilar Ekologi Lembah Kendeng
JURNAKOLOGI

Batuan Karst: Pilar Ekologi Lembah Kendeng

05/06/2025
Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati
JURNAKOLOGI

Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati

19/03/2025

Anyar Nabs

KKN Unigoro dan Pokdarwis Hijaukan Geosite Kedung Lantung Lewat Program Konservasi Tanaman

KKN Unigoro dan Pokdarwis Hijaukan Geosite Kedung Lantung Lewat Program Konservasi Tanaman

22/07/2026
Mengamati Petroleum System: Membaca Rembesan Minyak Bumi di Kedung Lantung

Mengamati Petroleum System: Membaca Rembesan Minyak Bumi di Kedung Lantung

22/07/2026
Masyarakat Desa Sudu Bidik Pengelolaan Sampah Tingkat Kecamatan Gayam

Masyarakat Desa Sudu Bidik Pengelolaan Sampah Tingkat Kecamatan Gayam

21/07/2026
Menyusuri Jejak Alam: Mahasiswa KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Soko

Menyusuri Jejak Alam: Mahasiswa KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Soko

21/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: