Ada kisah-kisah yang tidak dibuat untuk dipercaya secara harfiah. Ia diceritakan agar manusia belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda. Salah satunya adalah kisah Buluqiya.
Buluqiya adalah seorang pencari. Ia meninggalkan tanah asalnya setelah menemukan kabar tentang seorang nabi yang kelak datang membawa risalah terakhir: Nabi Muhammad SAW. Dari pengetahuan yang diwariskan ayahnya, ia berangkat mencari jejak nabi yang bahkan belum lahir pada zamannya. Perjalanan itu membawanya ke Jerusalem.
Di sana ia bertemu seorang ahli hikmah bernama Affan. Dari lelaki inilah Buluqiya mendengar kisah tentang Nabi Sulaiman: seorang nabi sekaligus raja yang kekuasaannya tidak hanya mencakup manusia, tetapi juga jin, burung, angin, dan makhluk-makhluk yang tidak terlihat.
Affan kemudian menunjukkan arah lain. Jika ingin memahami rahasia Sulaiman, kata Affan, mereka harus mencari makamnya dan menelusuri jejak cincin yang pernah menjadi lambang kekuasaannya. Maka keduanya berangkat. Namun jalan menuju makam Sulaiman bukan jalan biasa. Mereka harus menyeberangi tujuh lautan. Setiap laut membawa mereka semakin jauh dari dunia manusia.
Di balik lautan-lautan itu terbentang kerajaan jin. Ada bangsa-bangsa ular yang memiliki kerajaan sendiri. Ada Ratu Ular yang menyimpan pengetahuan tentang alam gaib. Ada tumbuhan ajaib, sumber kehidupan, malaikat, dan berbagai makhluk yang dalam imajinasi hikayat menghuni lapisan-lapisan dunia.
Perjalanan itu akhirnya membawa mereka menuju Gunung Qaf—gunung yang dalam kosmologi lama dipercaya berada di batas dunia manusia. Di sana, dunia seakan berhenti menjadi peta. Gunung bukan lagi sekadar gunung. Laut bukan lagi sekadar laut. Setiap tempat adalah pintu menuju alam lain. Setiap makhluk menjadi penjaga sebuah rahasia.
Menariknya, Buluqiya berangkat untuk mencari Nabi Muhammad SAW. Tetapi semakin jauh ia berjalan, semakin banyak hal lain yang ditemukannya: makam nabi, kerajaan jin, sumber kehidupan, malaikat, hingga batas kosmos. Barangkali memang demikian cara hikayat bekerja.
Manusia berangkat mencari sesuatu yang ia kenal, tetapi perjalanan membuatnya berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari apa yang semula ia cari. Buluqiya mencari seorang nabi. Namun di sepanjang jalan, ia justru diperlihatkan betapa luasnya alam Tuhan.
Tujuh lautan itu, pada akhirnya, bukan hanya jarak yang harus ditempuh. Ia adalah tujuh lapis ketidaktahuan yang harus diseberangi seorang pencari. Sebab semakin jauh manusia berjalan menuju rahasia dunia, semakin ia menyadari satu perkara sederhana: yang paling luas bukanlah dunia yang sedang ia jelajahi, melainkan rahasia Tuhan yang tidak pernah selesai ia pahami.








