Profesi adalah jodoh. Profesi idaman adalah jodoh idaman. Dan hakikat idaman adalah rasa syukur pada Tuhan.
Seorang profesional adalah seorang yang menguasai suatu profesi. Apapun latar belakang pendidikanmu, jika kamu mampu menjalankan profesi dengan baik maka fayakun. Kamu seorang pro. Namun, hal ini tak berlaku bagi mayoritas society of Indonesia.
Sebab, untuk mengukur profesionalitas seseorang, diperlukan dasar pendidikan formal. Dan bukti bahwa kamu pernah menempuh pendidikan formal adalah dengan adanya ijab-sah, eh, ijazah!
Ijazah adalah selembar kertas linen yang biasanya berukuran folio atau F4 dengan beberapa tulisan dan bubuhan tanda tangan juga stempel di atasnya.
Walaupun terasa sepele, selembar ijazah adalah kitab suci bagi para pencari kerja. Tanpa selembar kertas ini, sehebat apapun skill-mu dalam bekerja, hanya akan berhenti di pujian para tetangga.
Padahal ada pepatah mengatakan bahwa : Ijazah membuktikan bahwa kamu pernah sekolah, namun tidak membuktikan bahwa kamu bisa bekerja.
Lha ngene, jadi serba salah kan?
Jadi gini, Nabs. Dunia karir itu memang serba kontradiktif. Kamu punya ijazah tapi nggak punya pengalaman: ditolak. Kamu punya pengalaman tapi ndak punya ijazah: pun ditolak. Jadi kalau ditolak terus, kapan rabine, heee
Sistem adminitrasi yang semacam ini memang membingungkan. Alhasil memunculkan ketidakpercayaan terhadap sistem penerimaan kerja yang menggunakan jalur seleksi.
Mereka yang mempunyai relasi, lebih memilih memanfaatkan relasi tersebut untuk memperoleh pekerjaan. Dari sinilah budaya kolusi dan nepotisme lahir. Kalau kerjanya bener dan nggak cuma ngurusin proyek sih gapapa. Hmmm
Yang jadi masalah, bagaimana nasib kamu? Kamu itu sudah pendiem, nggak punya banyak temen, apalagi urusan lobi-lobi?
Akhirnya kamu hanya bisa nganggur di rumah. Trus iseng-iseng bikin startup sama temen-temen. Eh, ternyata di dalam prosesnya kamu sadar. Ternyata kamu j̶a̶g̶o̶ bisa desain grafis.
Nah, dari sini kamu mulai giat berlatih desain grafis di ruang gravitasi yang dijaga Mister Popo. Hingga berhasil menjadi profesional dalam urusan gegrafisan.
Idealnya sih masalah selesai sampai di sini. Tapi kata orang; hidup tanpa masalah bagai sayur tanpa (ada) yang masakin.
Saat reuni kampus, pertanyaan yang kerap ditanyakan selain “kapan nikah?” adalah “kerja di mana?”. Nah, disinilah letak masalahnya. Ketika kamu jawab ; “kerja di startup sebagai desainer grafis.” Maka akan muncul lagi pertanyaan; “lho!? gak eman ijazah perminyakanmu to?” dan yang bikin tambah jengkel adalah pernyataan tambahan seperti; “emane wes kuliah larang-larang.”
Duh Gusti.
Nabs, kita semua tentu mendambakan kehidupan yang ideal. Sekolah tinggi, lulus kuliah tepat waktu, kerja sesuai ijazah, nikah nggak telat. Namun, sebagai makhluk yang legowo kita juga harus belajar bersyukur.
Untuk meraih suatu tujuan, toh kamu sudah difasilitasi Tuhan jalan-jalan alternatif. Bahkan jika kamu benar-benar melihat, jalan yang kamu anggap sebagai alternatif, itulah jalan utama dalam hidupmu.
Sehingga kamu tak mudah terjebak dalam urusan permukaan seperti ijazah atau jenis pekerjaan. Asal kamu pandai bersyukur menekuni apa yang ada di hadapanmu, maka itulah yang akan menjadi profesi hidupmu.








