Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mercon Bumbung, Tradisi Ngabuburit Unik di Pinggir Bengawan Bojonegoro

Bakti Suryo by Bakti Suryo
27/05/2019
in JURNAKULTURA
Mercon Bumbung, Tradisi Ngabuburit Unik di Pinggir Bengawan Bojonegoro

Merconan identik bulan puasa. Di Bojonegoro, tepatnya masyarakat bantaran Bengawan Solo, bermain mercon bumbung (bambu) sudah jadi tradisi. 

Dentuman keras mercon bumbung terdengar di sekitar sungai Bengawan Solo. Tepatnya di Desa Klangon, Bojonegoro. Sekitar 4 pemuda sedang bermain mercon bumbung di pinggiran Bengawan Solo. Suaranya keras, bergema hingga ke seberang sungai.

Memang, mercon bumbung cukup identik dengan suasana Ramadhan. Terlebih, di sore hari sembari menunggu waktu buka puasa. Kapan lagi saat tepat bermain mercon kalau bukan di Bulan Ramadhan?

Suara mercon bumbung memang cukup keras. Alasannya, mercon ini menggunakan gas yang berasal dari batu karbit. Gas tersebut ditekan di dalam sebuah tabung, kemudian disulutkan api melalui lubang kecil. Jika gas tidak ngowos atau bocor, ledakannya akan sangat keras.

Biasanya, mercon bumbung terbuat dari potongan bambu. Selain itu, bisa juga dengan mengunakan pipa besar.

Satu dari empat pemuda yang bernama Iswanto, mengaku bahwa sore itu dia membuat 3 mercon bumbung. Mercon tersebut dia buat dengan membeli 3 potongan bambu dan batu karbit 1 kantong plastik.

“Tadi di pasar beli tiga potong bambu, tapi yang satu sudah pecah,” kata pemuda asal Desa Klangon tersebut.

Mercon bumbung yang terbuat dari bambu memang bisa pecah. Itu karena kerasnya ledakan yang ditimbulkan oleh tekanan gas yang dibakar. Serat bambu yang tidak bisa menahan tekanan akan terbelah dan menimbulkan lubang. Lubang ini akan membuat gas ngowos dan ledakan tidak terjadi.

Pemuda berambut gondrong, Reiza Dona, mengaku sering bermain mercon tradisional tersebut. Terlebih ketika Bulan Ramadhan. Itu terbukti dengan ledakan mercon yang diraciknya hampir dipastikan sangat keras.

“Dari dulu sudah sering main beginian, lalu jarang main karena tidak ada tempat. Nggak bisa kan kalau main ini di kota atau tengah kampung,” kata pemuda asal Desa Sukorejo tersebut.

Terlihat Reiza begitu mahir meracik mercon bumbung. Mulai dari memasukkan karbit hingga menyulut api.

Cara membuat ledakan mercon bumbung tidak susah. Batu karbit dimasukkan ke dalam bambu, lalu siram air secukupnya. Setelah itu akan timbul reaksi kimia, yaitu keluar gas yang mudah terbakar. Lalu, secepatnya sumbat semua lubang agar gas tidak bocor.

Buka sebentar sumbatan untuk membuang air tadi, lalu tutup kembali. Setelah cukup waktu, buka sumbatan di lubang besar dan kecil. Sulut api memalui lubang kecil.

Mercon bumbung akan meledak seperti meriam Majapahit yang menghantam musuh-musuhnya. Tetapi, itu jika tidak terjadi kebocoran gas. Alhasil, suara dentuman mercon akan terdengar semakin keras.

Tak lama, para pemuda tersebut berpindah tempat ke bawah Jembatan Sosrodilogo. Melihat bangunan jembatan yang terbuat dari beton dan baja, suara mercon bumbung terdengar lebih keras. Ini karena pantulan gema yang disebabkan bangunan.

Bermain mercon bumbung memang terasa menyenangkan. Apalagi mengingat masa kanak-kanak dahulu. Mercon bumbung merupakan permainan tradisional yang cukup asyik. Bermain sambil menantikan waktu berbuka puasa.

Namun, tetap perlu berhati-hati. Mercon bumbung dirasa lebih aman dibanding mercon yang lain. Pasalnya, ledakan mercon bumbung tidak sekuat mercon buatan pabrikan. Namun, suara ledakannya sangat keras. Bagi kita semua, bahaya bermain mercon tetap harus diwaspadai. Keamanan tetaplah yang nomor satu.

Tradisi bermain mercon bumbung ini memang jadi keunikan tersendiri di bulan Ramadhan. Tapi perlu diingat bahwa permainan ini cukup berbahaya ya, Nabs. Pastikan kamu didampingi ahlinya jika mau bermain mercon bumbung.

Tags: Mercon BumbungNgabuburit
Previous Post

Alumni Persibo 2017 akan Reuni di Stadion Letjen H. Sudirman

Next Post

5 Tanda Lebaran di Bojonegoro Semakin Dekat

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: