C2O menjadi tempat yang teramat mempesona. Sunyi yang tak sepi. Riuh yang tak gaduh. Selain menyajikan ruang baca dan berbagai macam instrumennya, C2O juga menawarkan ruang pemicu produktivitas berkarya.
Aroma buku seketika menerjang penciuman, ketika memasuki pintu gerbang berwarna gelap yang terdapat di Jalan Dr. Cipto 22, Surabaya, tersebut. Dari luar, tempat itu serupa rumah biasa. Tak ada sedikitpun tanda yang menandakan jika di dalamnya, terdapat sebuah istana yang, oleh Jorge Luis Borges, diibaratkan surga.
Tak ada plang nama apapun, kecuali simbol kecil berupa 3 digit huruf dan angka yang terdapat di pojokan pagar. Sebuah simbol yang sekaligus menegaskan nama dari tempat itu.
Memasuki pelataran, pengunjung langsung ditodong deretan rak berisi berbagai jenis buku. Sementara, sejumlah muda-mudi, dengan buku di tangan dan mata sembap dipukuli banyak bacaan, tampak keluar masuk di rumah tersebut.
Jurnaba.co, tentu sedang memasuki perpustakaan yang tidak biasa. Sebab, selain koleksi bukunya jelas-jelas berbeda dari perpustakaan pada umumnya, tempat yang menamai diri sebagai C2O Library & Collabtive itu, menawarkan fasilitas yang berbeda.
C2O menjadi tempat yang teramat mempesona. Sunyi yang tak sepi. Riuh yang tak gaduh. Selain menyajikan ruang baca dan berbagai macam instrumennya, C2O juga menawarkan ruang pemicu produktivitas berkarya.
Setelah menyisir tiap sudut ruang, Jurnaba.co menemui pengelola sekaligus admin C2O yang duduk manis di bawah naungan rak buku. Kami berbincang banyak hal. Mulai potensi, tantangan, hingga bagaimana C2O menjalani hari-hari penuh permenungan.
ruang perpustakaan di lantai bawah, berbagai jenis buku ada di sini.
Perempuan berambut lurus dengan perangai tenang itu bernama Juliana. Meski mengaku bukan founder dari C2O, dia hapal bahkan tahu betul sudut terkecil dalam rumah itu. Maklum, Juliana bergabung bersama C2O sejak awal berdiri, yakni pada 2008.
“Minimal sehari ada 10 orang lah yang kesini, tapi kalau pas ada even, bisa sampai lebih dari 80 orang,” tutur Juliana.
Juliana bercerita, C2O memang perpustakaan. Hanya, konsepnya saja yang berbeda. Perpustakaan yang tak terlalu kaku. Konsep perpustakaan semacam itu, memang belum banyak di Indonesia. Paling terkenal ada dua. Selain C2O di Surabaya, ada yang namanya Kineruku di Bandung.
C2O lahir dari keinginan pribadi. Karena berawal dari keinginan pribadi dan bergerak secara nirlaba, C2O dikonsep serupa rumah biasa. Tak kaku dan formal layaknya ruang pustaka pada umumnya. Penggagasnya, Kathleen Azali, memang tak berada di tempat saat Jurnaba.co berkunjung.
“Untuk buku, awalnya koleksi pribadi. Seiring berjalannya waktu, banyak koleksi karena donasi buku dari teman-teman,”
Menurut Juliana, pengunjung mayoritas mahasiswa dan umum. Untuk pelajar, mungkin hanya 20 persen. Dan itu pun sangat jarang. Sebab, mayoritas pengunjung tergolong segmented. Itu bisa dilihat dari banyaknya koleksi buku yang tak sembarang orang mau membacanya.
“Mayoritas memang orang-orang segmented. Kalau nggak gitu ya mahasiswa yang benar-benar sedang belajar,” ujar perempuan 33 tahun itu.
Selama berdiri sejak 2008, C2O sempat pindah rumah sebanyak dua kali. Sebelumnya, berada di sebelah tempat yang saat ini. “Pada 2015 pindah di sini. Sebelumnya disebelahnya,” katanya.
Kini, lebih dari 7 ribu buku, majalah, komik, zine, dalam bahasa Indonesia dan Inggris terdapat di C2O. Tak hanya disewakan. C2O juga menyediakan buku-buku yang khusus untuk dijual.
ruang yang berada di belakang ini, biasa digunakan sebagai ruang galeri dan diskusi.
Tak sekadar rumah nyaman dan buku, C2O juga menawarkan tempat strategis untuk mengenal dan menyelenggarakan berbagai kegiatan progresif serupa diskusi buku, pemutaran film, hingga lokakarya.
Secara garis besar, C2O memiliki tiga bagian penting. Ruang bawah berisi perpustakaan dengan ribuan buku, lantai atas sebagai co-working space, dan ruang belakang sebagai tempat galeri. Dari tiga ruang kolaboratif itulah, C2O bergerak.
Lorong penghubung antara perpustakaan dan ruang galeri menjadi tempat paling asyik menikmati baca buku. Di tempat itu, pengunjung dibolehkan merokok dan menikmati makanan yang disediakan C2O.
“C20 memang fokusnya mengelola perpus dan tempat, kalau untuk acara-acara, biasanya ada yang menyewa,” tutur Juliana.
co-working space di lantai atas, teduh dan menenangkan.
Sejauh ini, jelas Juliana, biaya operasional C2O diambil dari penyewaan co-working space yang ada di ruang atas dan ruang galeri yang berada di belakang ruang perpustakaan. Dari co-working space dan penyewaan tempat galeri itulah, C2O bergerak.
Sebab, biaya sewa tidak dijadikan bisnis. Tapi diputar untuk biaya operasional pengelolaan C2O sendiri. Karena itu pula, pengunjung perpus gratis tanpa ditarik biaya.
Sehingga, kata Juliana, C2O tak hanya ditempati pencari buku dan penikmat aksara, tapi juga dihuni para pekerja independen yang sedang berkarya. Dan sesekali, ada yang menghelat even di sana.
Definisi Ruang Kolaboratif
Bagi sebagian orang, mungkin pernah mendengar atau tahu jika C2O kerap mengundang sosok kesohor indie macam Silampukau dan lainnya. Namun, sesungguhnya, bukan C2O yang mengundang. Tapi ada pihak lain yang mengundang dan menggunakan C2O sebagai tempatnya.
“Memang sering kolaborasi. Ada beberapa even yang bukan dibuat sendiri. Melainkan pihak lain tapi menggunakan C2O sebagai lokasi even,” terang Juliana.
Dengan berbagai macam fasilitas yang ada, C2O punya tim yang setiap hari stand-by mengelola. Ada yang mengelola website dan katalog. Ada volunteer. Ada juga mahasiswa yang magang.
Para pengunjung pun tak hanya dari Surabaya. Mengingat, banyak pula pengunjung luar kota yang mencari marchendise di C2O. Bahkan, sejumlah mahasiswa dari luar kota pun kerap mampir berkunjung untuk sekadar berdiskusi.
Dari kalangan umum, pekerja independen hingga berbagai jenis freelancer kerap menjadikan C2O sebagai ruang berkarya. Tentu itu bukan tanpa alasan. Selain suasana nyaman, berbagai keperluan kerja seperti internet dan printer pun tersedia.
Jika Nabsky ke Surabaya dan mencari tempat syahdu — berbau buku dan ketenangan — yang nggak melulu itu-itu saja, C2O Library & Collabtive sangat cocok jadi tempat tujuan.








