Saya belum pernah memesan kopi pahit campur jahe. Siang ini, untuk pertamakalinya, saya mencoba. Saya belum sempat menyeruput kopi itu ketika sejumlah kawan berkabar jika KH Maimun Zubair kapundut.
Hati saya sempat bergetar. Ada rasa sedih yang asing dalam hati. Saya semacam tak percaya. Saya baru benar-benar semeleh ketika membaca sejumlah media nasional yang mengabarkan kepergian Mbah Moen.
Mbah Moen wafat di Makkah saat melaksanakan ibadah haji. Begitu kabar itu bergema. Seruputan pertama kopi jahe saya terasa aneh dan hambar. Serupa saat ingin makan tapi tak merasa lapar.
Ingatan saya terlempar di penghujung Ramadhan 5 tahun silam. Menjelang imsak, bersama seorang kawan dari Ngawi, saya memesan kopi di kawasan Masjid Al Akbar Surabaya. Tiba-tiba, seorang kawan alumni menelpon saya dan memberi kabar jika guru kami, KH Nawawi Idris Al I’anah Cepu, wafat di Makkah saat menjalankan ibadah.
Kopi yang saya pesan terasa asing dan hambar. Di tengah gempuran suara tarkhim menjelang subuh, tetes demi tetes air mata saya terjatuh. Saya merasa ada yang hilang. Saya belum sempat sowan ke Al I’anah setelah sekian lama. Belum juga muncul niat untuk sowan, Mbah Yai Nawawi telah mangkat.
KH Nawawi Idris dan KH Maimun Zubair wafat kala menjalankan ibadah di Makkah. Dan saya mendengar dua kabar duka itu, dalam momentum yang hampir mirip.
Guru kami, KH Nawawi Idris, merupakan adik ipar dari KH Maimun Zubair. Sebelum mendirikan pondok pesantren Al-I’anah Cepu, Mbah Yai Nawawi meminta persetujuan Mbah Moen terlebih dahulu. Dalam struktur pondok pesantren Al-I’anah pun, Mbah Moen sebagai penasehat dan Mbah Nawawi sebagai pengasuh.
Sepintas saya teringat, saat ngaji Ratibul Haddad Malam Selasa di aula pondok beberapa tahun silam, Mbah Nawawi sering sekali menyebut nama Mbah Moen. Terutama dalam hal sanad keilmuan dan respon-respon fenomena kenegaraan hingga politik.
Kepergian Mbah Nawawi dan Mbah Moen yang hampir mirip dan sangat mirip sekali bahkan, tentu mengingatkan saya akan sebuah pesan bahwa: orang alim akan bertemu orang alim dengan bermacam cara.
Selain KH Nawawi Idris, Kiai Arifin (Mbah Yai Pin) Kuncen Padangan adalah sosok yang menyambungkan sanad keilmuan kami pada KH. Maimun Zubair. Mbah Yai Pin merupakan santri Sarang yang berguru langsung pada Mbah Moen.
Baik saat ngaji Al- Quran maupun ngaji kitab, Mbah Yai Pin sering bercerita pada kami tentang karomah Kiai Zubair Dahlan dan KH Maimun Zubair, bahkan sesekali juga kebiasaan-kebiasaan baik KH Abdullah Faqih Langitan — mengingat, Mbah Yai Pin mondok di Langitan setelah dari Sarang.
Pesan Mbah Yai Pin yang selalu saya ingat hingga hari ini adalah tentang sanad keilmuan. Silsilah turunnya ilmu harus jelas. Penyampaian ilmu dari guru ke murid, harus nyambung hingga Kanjeng Nabi.
Beliau mengibaratkan, ketika kita salim ke seorang guru, sama halnya kita salim ke gurunya guru dan gurunya guru hingga sambung ke Kanjeng Nabi.
“Nek awakmu salim (mencium tangan) guru, iku mesti nyambung ning gurune gurumu, gurune gurumu, teruuus sampai tekan Kanjeng Nabi,” kata Mbah Yai Pin suatu hari, kepada kami.
Kiai menceritakan jika saat kami salim, sesungguhnya kami juga sedang salim dengan guru-guru beliau. Dari KH Maimun Zubair hingga KH Abdullah Faqih Langitan.
Sejak saat itu, ketika saya dan teman-teman mencium tangan Kiai Arifin, saya selalu merasa mencium tangan KH. Maemun Zubair, Kiai Zubair Dahlan, KH. Abdullah Faqih Langitan, hingga guru-guru beliau sampai sambung ke Kanjeng Nabi Muhammad.
Itu alasan kenapa saat nyantri di Mbah Yai Pin, mampu sedikit mengobati kekecewaan orang tua saya karena saya gagal betah mondok di Langitan. Sebab sejak kecil, kedua orang tua saya punya impian agar saya bisa betah di sana.
Saya, secara personal, mungkin belum kesampaian mencium tangan KH Maemun Zubair hingga beliau wafat. Namun, melalui rasa takdhim kepada Kiai Arifin dan KH Nawawi Idris, seolah saya sudah pernah bertemu dan mencium tangan beliau.
Sebab, saya percaya dan mahami jika cahaya ilmu mampu menerobos berbagai dimensi melalui bermacam cara, tanpa harus saling berjumpa. Terimakasih, Mbah Moen. Terimakasih atas ilmu dan suri tauladan yang engkau berikan pada kami semua.








