Saya tak pernah berpikir akan memasukkan agenda aksi demonstrasi, Kamis 26 September 2019 di depan gedung DPRD Jatim dalam catatan sejarah yang saya miliki.
Sebab, sebelum kejadian itu berlangsung, rencana untuk ke sana pun sama sekali tidak ada, dan saya benar-benar tak tertarik mengikuti aksi seperti itu sejak 2014 lalu.
Di tahun 2014 silam, teman-teman di organisasi mengajak saya turun ke jalan. Lebih tepatnya di depan gedung Polda Jatim. Mereka mengusung isu yang dianggap penting: Memprotes kebijakan kenaikkan BBM yang baru saja diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dan juga mengangkat agenda lainnya, yang terdengar menggelikan: Agar diliput media massa.
Aksi itu akhirnya berlangsung sebentar saja setelah media massa meliput dan polisi memukul mundur sampai ke gedung UINSA. Di kesempatan yang sama saya melihat seorang ibu tampak dongkol ketika motor bebeknya tak bisa melewati kerumunan massa. Dan itu yang akhirnya membuat saya benar-benar menyesal.
“Sebenarnya tadi kita tidak usah masuk ke kampus. Dan lebih baik bertahan saja di sana,” kata seorang demonstran yang menggerutu.
Sejak peristiwa itu, saya tak pernah mau lagi diajak aksi ke jalan. Alasannya, saya tak ingin suara, peluh, dan pegal-pegal di kedua betis saya dikorbankan hanya demi eksis di media. Toh, substansi tuntutan aksi jauh lebih penting ketimbang melihat foto kami terpampang di media.
Lagipula, jika memang tujuannya begitu, lebih baik bergabung di media sekalian dan meliput diri sendiri. Pada akhirnya, saya kemudian memang bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), tetapi saya tidak mau dan tak pernah meliput diri sendiri. Urusan publik jauh lebih penting, ketimbang memoles diri sendiri di hadapan masyarakat.
**
Di tahun 2019 ini, rasa keras kepala saya tentang demonstrasi memudar. Pasal-pasal ngawur yang tercantum di RUU KUHP, dan RUU lainnya memaksa saya harus bergabung kepada para demonstran dan menyuarakan apa yang selama ini terasa janggal.
Saya berangkat bersama seorang teman. Dan kami beriringan dengan sekawanan pelajar bercelana abu-abu yang membawa bendera merah putih dan beberapa helai kertas. Teman saya, M. Namullah bilang kalau dia merinding. Dia bahkan menyebut baru kali ini menjumpai pelajar yang membuat kami antusias untuk bersuara di sekitar Tugu Pahlawan.
Sampai di sana, ribuan massa yang mayoritas diisi mahasiswa telah berkumpul. Dari almamater kebesaran, saya melihat logo Universitas Brawijaya Malang, Universitas Negeri Malang, berbagai kampus di Surabaya hingga Universitas Negeri Jember.
Dengan beragamnya peserta aksi, saya pikir itu adalah aksi terbesar yang pernah terjadi di Surabaya, setidaknya dalam dua tahun ini. Tentu saja, anggapan itu juga bersamaan dengan kekhawatiran atas potensi kericuhan yang mendera sewaktu-waktu.
Apalagi, dari berita di media massa, aksi di Jakarta, Bandung, Sumatera berakhir bentrok. Mahasiswa menjadi sasaran empuk pemukulan, dan jurnalis juga tak luput dari tindakan tak terpuji itu.
Namun, kekhawatiran itu perlahan mereda. Teman-teman peserta aksi bergandengan tangan dan membuat pagar supaya mahasiswa tidak keluar dari kerumunan. Poster dibentangkan. Orator terdengar berteriak kencang sekali, dan saya pikir setelah agenda ini dia memang perlu minum wedang jahe hangat agar serak di tenggorokannya mereda.
Dari awal sampai pertengahan aksi gema jancuk terdengar begitu lantang. Semua satu suara untuk menolak revisi undang-undang KUHP, meninjau kembali UU KPK, mengesahkan RUUPKS, sampai menolak kriminalisasi terhadap aktivis. Uniknya tensi kemudian menurun ketika di pukul 15.05 WIB, Ketua DPRD Jatim menerima tuntutan mahasiswa.
Dia kemudian naik ke mobil orasi dan mengucapkan butir-butir tuntutan dan berjanji untuk menyampaikannya ke DPR Pusat. Setelahnya, kemudian massa berangsur mereda. Namun dari semua hal yang terjadi di lapangan, sesuatu yang menjadikan saya yakin aksi itu tidak akan berakhir seperti di kota lain adalah, gema sholawat yang dilantunkan serentak oleh semua peserta.
Bahkan saya kira, ketimbang mengansumsikannya bakal seperti demonstrasi 98, hal ini justru tampak seperti penyambutan Habib Syech. Dengan perbedaan mencolok berupa busana, poster protes, barisan polisi berseragam, sampai orasi berkali-kali.
Mungkin kali ini saya memang harus mencatatatkan sejarah dalam diri dengan cara berbeda. Bahwa demontrasi tak seluruhnya soal eksistensi di media. Ia bisa beralih bentuk dalam hal lainnya, misalnya mengemukakan suara lewat jancuk dan sholawat bersama-sama. *








