Burung lovebird masih jadi primadona. Meski harga kerap tak stabil, tingginya intensitas perlombaan picu harga jual “burung cinta” itu kembali meningkat.
Kurungan kotak berukuran 60 x 40 meter tertumpuk rapi di tiap jengkal tembok rumahnya. Satu kurungan berukuran 200 meter, tegak berdiri berhadapan pintu masuk.
Rony Prasetyo, pemilik rumah, tampak telaten. Dia mengeluarkan satu per satu kurungan burung dari dalam rumah. Pagi ini (20/6/2019), Rony sibuk mengurus puluhan kurungan yang ada di dalam rumahnya.
Tak hanya membersihkan kurungan. Dia juga mengganti pakan dan minuman yang ada di dalam kurungan. Ditemani sorak-sorai angsa, berbagai macam burung terdengar bernyanyi bersama.
Saat pagi hingga menjelang siang, rumah mungil terletak di Desa Padangan Kecamatan Padangan itu serupa pasar burung. Riuh dan ramai burung-burung ocehan.
Meski terkenal sebagai pehobi burung lovebird, tak semua kurungan di rumah Rony berisi satu jenis burung yang sama. Selain lovebird, ada pleci, kenari, hingga berbagai jenis burung dara.
Kepada Jurnaba.co, Rony bercerita tentang hobi burungnya. Terutama burung yang masih ramai dipelihara dan diperbincangkan khalayak: lovebird. Kata Rony, harga burung lovebird memang tak stabil. Naik turun.
“Tapi saat ini tren-nya sedang naik,” ucap pria 31 tahun itu.
Dua tahun terakhir, jumlah peternak dan pehobi burung lovebird meningkat. Tak hanya di Bojonegoro, namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi itu memicu banjirnya persediaan burung di pasaran. Dampaknya, harga turun.
Namun, penurunan harga itu tak bertahan lama. Alasannya, burung lovebird tak sekadar burung hias. Tapi juga burung lomba. Burung kompetisi.

Banyak pehobi burung lovebird yang menggeser orientasi. Dari sebelumnya sekadar burung hiasan. Kini jadi burung perlombaan. Yang dilombakan, ocehannya.
Rony mengenal burung sudah lama. Namun, mendalami dunia perlombaan burung sejak 3 tahun terakhir. Berbagai jenis perlombaan pernah dia ikuti. Terbukti, hampir ratusan piala menyesaki sudut-sudut rumahnya.
“Di sini, lomba sering diadakan. Hampir setiap hari ikut lomba burung,” ujarnya.
Rony membatasi diri untuk tak ikut lomba di luar kota. Dia hanya ikut lomba lokalan. Di sejumlah kawasan Bojonegoro barat hingga Blora. Sebab, jika nuruti ikut lomba ke luar kota, bisa sering tak pulang.
Namun, meski hanya ikut lomba lokalan, berbagai piala mampu dia kumpulkan. Burung peliharaannya sering menjadi juara. Tak jarang, itu menaikkan harga jual. Sebab, pasca perlombaan, banyak yang mencari burung juara.
Dunia perlombaan burung pula yang akhirnya membawa Rony menjadi peternak. Awalnya, dia hanya memelihara burung untuk lomba. Tak berniat mengembang-biakkannya. Maklum, peliharaannya sudah banyak.
“Tapi, lama kelamaan lovebirdnya banyak sendiri,” ucapnya sambil tertawa.
Lovebird warna standar dengan rentang usia baby (3-5 bulan), harga pernah sampai Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Tapi, kini mulai kembali naik di atas Rp 60 ribu – 100 ribu. Sedang usia dewasa (7 bulan ke atas), bisa Rp 150 ribu ke atas.
“Itu warna standar, warna memang berpengaruh pada harga,” imbuh dia.
Keberadaan lomba, kata Rony, memang berpengaruh positif. Tanpa adanya lomba, harga lovebird bisa sangat menurun. Terlebih, kini banyak peternak yang memicu banyak pula jumlah burung di pasaran.
Sedang hadirnya perlombaan, membikin lovebird tak hanya dihargai berkat warna belaka. Namun juga kualitas ocehan. Nah, jika sudah kualitas yang dibicarakan, harga bisa naik tinggi.
Untuk burung kualitas lomba, ocehan dihitung durasi. Durasi juara biasanya sampai 20 detik hingga 1 menit tanpa berhenti. Dan untuk meningkatkan kualitas ocehan, treatment-nya beda dari burung biasa.
Memelihara burung lovebird bukan tanpa tantangan. Terutama tidak stabilnya harga. Sebab, harga kadang naik turun. Namun, keberadaan lomba membuat harga lovebird kian stabil.








