Bengawan Sore menjadi bukti ilmiah teknologi rekayasa sungai sudah dikenal di wilayah Jipang sejak abad 11 M.
Bengawan Sore Jipang selama ini dikenal sebagai latar tempat dalam dongeng perang abad 16 M yang baru ditulis pada abad 18 M. Namun faktanya, Bengawan Sore merupakan teknologi pengelolaan Bengawan yang pembangunannya sudah dilakukan pada abad ke- 11 M oleh Raja Erlangga (Medang Kahuripan).
Peziarah Cina bernama Ma-huan di abad 5 M, hingga penjelajah Arab bernama Ibnu Batutah dan Mas’udi di abad 11 M, selalu mencatat bahwa Pulau Jawa masyhur memiliki banyak aliran sungai. Tak ada satu pun pulau di Nusantara yang melebihi Jawa, terkait jumlah aliran sungainya.
Kerajaan Tarumanegara mengawali rekayasa sungai di bagian barat Pulau Jawa, dengan mengelola sungai Candrabhaga, seperti tercatat pada Prasasti Tugu (abad 5 M). Kerajaan Medang Kahuripan menyusul membangun banyak bendungan sungai. Di antaranya Bendungan Waringin Sapta di wilayah timur Pulau Jawa, seperti dicatat Prasasti Kamalagyan (abad 11 M).

Sementara di tengah-tengah Pulau Jawa, terdapat sungai buatan manusia yang dikenal dengan Bengawan Sore. Ia berada di wilayah Lwaram (kelak dikenal dengan nama Jipang), lokasi yang jadi bagian penting dari eksistensi Kerajaan Medang Kahuripan dan Raja Erlangga, seperti dicatat Prasasti Pucangan (abad 11 M).
Peneliti dari Bhumi Budaya, Totok Supriyanto menjelaskan, Pada zaman Erlangga inilah, Bengawan Sore dibangun. Ini alasan Raja Erlangga dikenal sebaga Raja Pembangunan. Ia membangun banyak bendungan pencegah banjir musiman. Ia memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh. Ia juga membangun jalan-jalan penghubung di daerah pesisir ke wilayah pusat kerajaan.
Istilah Bengawan Sore dikenal masyarakat, karena tiap sore menjelang petang, kanal air itu mengalami pasang. Menurut Totok, secara ilmiah, ini terjadi karena Bengawan waktu itu masih sangat terpengaruh permukaan laut. Pasang surut laut berdampak pada pasang surut Bengawan Solo yang, secara otomatis, memengaruhi kanal air Bengawan Sore.
Bengawan Sore dibangun untuk membelah aliran Bengawan Solo. Ia berfungsi mencegah kelebihan volume air akibat banjir dari arah hulu yang bergabung dengan sungapan Kali Tinggang. Bengawan Sore sangat berguna menjaga stabilitas kondisi pasar terapung (Bale Kambang) yang berada di atas permukaan sungai Bengawan.

Bengawan Sore juga sangat berguna dalam menjaga lahan-lahan subur pertanian sekitar Lwaram dari banjir bulan ketujuh (Palguna). Panjang nadi (kanal sungai) ini, yang sekarang dapat diukur dari dusun Nglingga (Ngloram) hingga dusun Judan, berkisar 1,5 km. Dengan lebar sekira 25 m, Bengawan Sore dikerjakan tak jauh dari pembangunan Bendungan Waringin Sapta.
Keberadaannya membentuk pulau kecil independen yang seolah mengapung di tengah aliran Bengawan, yang kelak dikenal dengan nama Jipang. Pulau ini seperti “Nusakambangan” yang dikelilingi perahu-perahu dagang yang terapung. Tanahnya yang subur memang diperuntukkan bagi Para Brahmana.
Meminjam istilah Prasasti Harinjing dan Kelagen, lokasi ini disebut sebagai tanah Thani Grama Sima Kabikuan. Tanah yang dikelola dan dimuliakan dalam naungan dua pihak sekaligus. Yaitu Pameget Panggumulan (otoritas pengelola lalu lintas perdagangan sungai) dan Parttayan Kamalagyan (otoritas pengelola sungai untuk pertanian).
Jejak Bengawan Sore sebagai produk kebudayaan abad 11 M, memang seperti hilang atau dihilangkan. Ia baru dimunculkan lagi sebagai nama lokasi dalam dongeng berlatar abad 16 M, berkisah perang Arya Penangsang. Dongeng termuat dalam Babad Tanah Jawi ini, baru ditulis pada abad 18 M.
Bengawan Sore Jipang mungkin ditulis oleh pujangga Babad Tanah Jawi tanpa pernah melihat lokasi dan keberadaannya. Dan mungkin benar bahwa kanal sungai ini rusak setelah Jipang dikuasai Mataram. Dan ini baru terjadi pada akhir abad 16 M. Sementara kedigdayaan Bengawan Sore sudah masyhur sejak abad 11 M.








