Di Bojonegoro, Baabus Shofa dikenal sebagai masjid tanpa pintu dan tanpa dinding penyekat. Hanya pilar-pilar raksasa yang berdiri gagah di antara kubah dan sajadah.
Jika membincang masjid di Bojonegoro, ada satu masjid yang belum ada padanannya: Baabus Shofa. Masjid berada di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Basuki Rahmat itu, masyhur dikenal sebagai masjid dengan pintu yang selalu terbuka.
Masjid Baabus Shofa masih menjadi satu-satunya masjid di Bojonegoro yang tak memiliki dinding tembok. Di antara kubah dan lantai sajadah, hanya terdapat pilar-pilar raksasa yang menjadi penyangganya. Tanpa dinding penutup. Tanpa tembok penyekat. Sebuah bangunan yang amat filosofis.
Bagi masjid yang dibangun pada ujung abad 20 M (1997), model tanpa tembok seperti ini sangat tidak umum. Sebab, umumnya bangunan pada masa ini, dibangun dengan dinding tembok rapat biar aman. Namun, Baabus Shofa tak dibangun dengan konsep demikian. Tentu bukan karena kekurangan material. Tapi karena keyakinan pilar Fii Amanillah, diamankan langsung oleh Allah.
Serupa namanya yang Baab (pintu), siapapun yang mengunjungi Baabus Shofa akan terpikat dan terkesima dengan dengan model bangunan yang tak menyertakan pintu. Sebuah pesan penting yang ingin menunjukan bahwa tempat ini ramah bagi siapapun yang datang.

Masjid diresmikan Gubernur Basofi Soedirman pada 2 Januari 1997 itu, kini semakin tampak berparas anggun. Ia tak hanya nyaman secara visual. Tapi juga matang secara isi dan konseptual. Saat ini, masjid berada di lintasan jalan provinsi itu, kian ramai berbagai kegiatan.
Ahmad Nazwar, pengurus Masjid Baabus Shofa mengatakan, saat ini masjid tersebut memang banyak dilakukan pembenahan. Baik dalam bentuk fisik maupun kegiatan. Untuk kegiatan sendiri, kata dia, di masjid Baabus Shofa terdapat kegiatan rutin bulanan dan insidental.
“Jadi memang sampai saat ini ada cukup banyak kegiatan di Baabus Shofa. Baik yang bersifat insidental maupun rutinan” ucapnya (6/4/2026).
Selain kerap dijadikan spot kegiatan insidental keagamaan, kata dia, Masjid Baabus Shofa juga memiliki kegiatan rutin seperti Istighotsah, Jum’at Berkah, Cek Kesehatan Gratis, Pengajian LDNU, Majelis Taklim Perempuan IPHI, dan kegiatan Manasik & Pemberangkatan Umroh beberapa Biro Travel.
Aset Pemkab Bojonegoro
Masjid Baabus Shofa secara resmi diserahkan menjadi aset Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro pada momentum satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro, tepat pada (20/02/2026) di Pendopo Malowopati.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menjelaskan bahwa amanah kepemilikan masjid atas nama pribadinya bermula pada 14 Desember 2017. Saat itu, Tinton bersama keluarga sepakat menyerahkan hibah pemanfaatan Masjid Baabus Shofa untuk kegiatan Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMM) Bojonegoro.

Penyerahan tersebut dilakukan oleh keluarga H. Tinton kepada Nurul Azizah yang kala itu menjabat sebagai Ketua BKMM Bojonegoro, dan disaksikan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, H. Roziki.
Selanjutnya, pada November 2020, dilaksanakan penyerahan hibah secara administratif yang ditandatangani oleh H. Tinton dan disaksikan Ketua DMI H. Hanafi serta Kepala Dinas PU SDA Tejo Sukmono. Dokumen tersebut disampaikan melalui staf Kecamatan, Tulus Basuki.
Proses hibah kembali diperkuat pada 30 Juni 2023 dalam pertemuan di Hotel Lorin Sentul, Bogor, Yayasan Mangun Rekso Kusumo yang dipimpin H. Tinton bersama keluarga secara resmi menyerahkan hibah tertulis Masjid Baabus Shofa kepada Nurul Azizah di hadapan notaris. Turut hadir dalam agenda tersebut Budi Djatmiko selaku takmir masjid dan H. Hanafi sebagai Ketua DMI.
Momentum penyerahan aset ini juga bertepatan dengan satu tahun masa pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro. Secara simbolis, dokumen penyerahan disampaikan kepada Bupati Bojonegoro sebagai bentuk komitmen terhadap tata kelola aset yang transparan dan akuntabel.
Masjid Baabus Shofa menjadi masjid unik di Bojonegoro. Ia dikenal sebagai masjid tanpa pintu yang ramah pada berbagai perubahan. Tak ada tembok. Tak ada dinding penyekat. Hanya pilar-pilar raksasa Fii Amanillah yang berdiri tegak di antara kubah dan lantai sajadah.








