Sayyid Abu Bakar Syatha alias Sayyid Bakri Syatha (1848-1892 M) merupakan ulama besar dari Makkah. Ia dikenal sebagai pengarang kitab Hâsyiah I’ânah al-Thâlibîn (Syarh Fath al-Mu’in), dan guru para ulama Nusantara yang belajar di kota Makkah pada akhir abad ke-19 M.
Dalam seri Maha Guru Ulama Nusantara ini, Tim Jurnaba menghimpun tulisan berseri tentang ulama besar dari Tanah Hijaz yang memiliki pengaruh pada sanad ilmu para ulama Nusantara. Tujuannya, mempopulerkan kembali para ulama dan para sayyid sadah Nabi yang selama ini sudah jarang dibahas.
Baca Juga: Biografi Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Seri Maha Guru Aswaja di Tanah Hijaz (1)
Ada banyak Wangsa Sadah (keturunan Nabi Muhammad SAW) di dunia ini. Mereka fokus pada keilmuan, bersikap tawadhuk, dan tak pernah memamerkan apalagi memanggungkan identitasnya. Mayoritas hanya mau disebut “Syekh” untuk menjaga tawadhu’itasnya. Sayyidi Syekh Bakri Syatho satu di antaranya.
Syekh Abu Bakar Syatha merupakan ulama dzuriyah Nabi Muhammad Saw. Nasabnya bersambung pada Nabi Muhammad Saw. Itu alasan ia juga dikenal dengan Sayyid Bakri Syatho. Harus diketahui, hingga abad ke- 19 (periode 1800 M), banyak sekali keturunan Nabi Muhammad (sayyid) yang hanya menggunakan gelar Syekh.
Sayyid Bakri Syatha bernama lengkap Al Allamah Abu Bakar bin Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimyathi al-Bakri. Ia lahir di Distrik Syatha, sebuah daerah di Kota Dimyath (Mesir) yang masyhur sebagai tempat para sayyid (keturunan Nabi Muhammad) dari jalur Al-Husain.
Saat ia berusia tiga bulan, sang ayah, Sayyid Muhammad Zainal Abidin Syatha, berpulang ke rahmatullah. Sepasca ayahnya wafat, ia dididik saudaranya, yaitu Sayyid Umar Syatho. Pada Sayyid Umar Syatha, ia menghafal Quran dan belajar berbagai matan kitab klasik.
Selain belajar pada sang kakak, Sayyid Bakri Syatha juga belajar pada ulama besar pada zaman itu, yakni Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Kepadanya, ia belajar memahami semua matan kitab klasik yang sudah beliau hafal.
Dakwah dan Karya-karya
Sayyid Bakri Syatha menjadi ulama pengajar di Masjidil Haram Mekah al-Mukarramah yang amat masyhur pada abad ke-19 Masehi. Selain itu, beliau juga masyhur sebagai pengarang banyak kitab. Satu di antara karangan yang cukup terkenal adalah I’anah Ath-Tholibin — kitab hasyiah (penjelas) untuk kitab Fathul Muin karya Syekh Zainuddin Al Malibari.
Sayyid Bakri Syatha ulama alim yang sangat produktif menulis. Selain kitab hasyiah I’anah Ath-Tholibin, kitab karangan yang lain adalah Kifayatul Atqiya, Minhajul Asfhiya (dua kitab tasawuf), dan Ad-Durarul Bahiya (pokok-pokok syariat).
Santri-santri Sayyid Bakri Syatha
Banyak ulama besar nusantara yang nyantri pada Sayyid Bakri Syatha. Diantara murid-murid Sayyid Bakri Syatha adalah; Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Al Maliky (kakek Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky), Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Mahfud Tremas, Syekh Hasyim Asy’ari, Syeikh Abdul Hamid Kudus, dan masih banyak lainnya.
Sayyid Bakri Syatha memang wafat di usia yang relatif muda yaitu 44 tahun, namun usia beliau mengandung keberkahan yang luar biasa karena menulis banyak kitab serta mencetak banyak ulama besar dari kalangan murid-murid beliau.









Tertarik dengan keilmuan para Sayyid ulama terdahulu, dengan kitab2 nya, semoga Alloh SWT melindungi penerus ulama Islam yang di Rhido Alloh SWT.. Aamiin ya rabbal ‘alamin..