Ekspedisi dari satu tempat ke tempat lain yang terkandung ibrah di setiap langkah.
Di kota yang pernah menjadi tempat tumbuh dan berkembang Tirto Adhi Soerjo ‘Bojonegoro’, cerita itu bermula. Saya juga tidak pernah tahu, mengapa saya bisa tumbuh dan berkembang di kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi ini, dimana lagi kalau bukan di Bojonegoro, Jawa Timur.
Tempat yang bukan hanya adem ayem bagi oligarki dan penguasa, melainkan juga menjadi tempat perlawanan dari masa ke masa. Lahir pada masa reformasi, pernah tumbuh dan berkembang dalam masa sulit mencari informasi wa bil khusus mengenai masa lalu daerah yang pernah disinggahi Bung Karno ini.
Meskipun tidak bisa menjadi saksi sejarah ketika Sosrodilogo mengusir penjajah, ketika ulama’-ulama’ salaf yang progresif dari Bojonegoro merantau lintas benua, orang-orang Kota Bojonegoro yang bermigrasi ke Suriname, kehebatan agitasi dan propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI) Bojonegoro dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan melalui underbow-nya, pidato kebudayaan dari Sang Flamboyan ‘Bung Njoto’ di sebuah gedung yang ada di Kota Bojonegoro, dan beberapa serdadu yang berhasil cuci tangan ketika menghabisi nyawa orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
Namun Bojonegoro masih menjadi titik untuk berpijak dan kembali. Menyaksikan orang-orang yang akan pergi untuk menabung rindu atau membayar rindu karena sekian purnama tidak bertemu di Stasiun Kereta Api Bojonegoro, orang-orang yang berjuang mencari nafkah dari satu bus ke bus yang lain dari Terminal Rajekwesi, dan tempat tumbuh dan juga berkembang berbagai jenis komunitas dengan berbagai macam ideologi.
Dari Bojonegoro ke Wonosobo: Di Balik Kiri Hijau Kanan Merah dan Dor! Sarajevo
Hidup memang penuh misteri. Tidak ada cara lain, selain terus menjalani. Menjalani kehidupan dengan seni, karena sejatinya, hidup adalah seni mengelola pikiran. Bagi kawan-kawan yang tetap santai dan menikmati hidup adalah seni mengelola pikiran, selamat. Bagi kawan-kawan yang terjebak dalam indikator-indikator ‘semu’ dalam kehidupan, berhijrahlah.
Jalan menuju Wonosobo yang berada di Provinsi Jawa Tengah adalah jalan yang penuh keisengan. Dimulai di sebuah rumah kecil di Lamongan. Saya mencoba untuk menuliskan esai yang tidak panjang tentang Indonesia Baru. Ladalah, lolos.
Dari situlah proses demi proses bermula, menuju serangkaian kegiatan yang mengantarkanku menuju sebuah tempat yang sebelumnya agak asing bagi saya dan terkadang terbalik ketika menyebutnya, terkadang dalam hati dan pikiran ingin menyebut “Wonosobo” namun dalam ucapan keluar “Bondowoso”.
Dari Terminal Rajekwesi menuju Terminal Purabaya (Bungurasih). Lalu-lalang orang-orang yang sedang mencari nafkah dengan berjualan, ngamen, dan berpuisi menambah hidup suasana bus dari Terminal Rajekwesi ke Terminal Purabaya.
Sampai di Terminal Purabaya, kemudian tanya kepada petugas di terminal, tentang bus yang menuju Wonosobo. Salah satu di antaranya, bus yang ketika melewati kecepatan maksimum, akan ada alarm yang berbunyi, yaitu bus EKA.
Dari Terminal Purabaya, bus akan melalui beberapa terminal seperti Terminal Anjuk Ladang (Nganjuk), Terminal Tirtonadi (Solo), Terminal Giwangan (Yogyakarta), hingga Terminal Mendolo (Wonosobo). Dari Terminal Purabaya sore hari, tiba di Terminal Mendolo dini hari.
Merebahkan badan sejenak di musala, dan mencari warung yang masih buka. Sepanjang perjalanan, kabut menutupi jendela bus. Sesekali terlihat perkebunan tembakau di daerah Temanggung. Tiba di Wonosobo, hawa dingin mendekap tubuh.
Setelah azan subuh berkumandang dan sinar mentari menyapa bumi, saya dijemput oleh seorang santri cum mahasiswa yang sedang ngangsu kaweruh alias belajar di Wonosobo. Dia mengantarkanku di sebuah rumah yang unik dengan bentuk segitiga (tampak depan) dan disekelilingnya terdapat beberapa jenis tanaman. Rumah yang berada di kaki gunung Sindoro tersebut nampak hijau dan asri.
Rumah tersebut merupakan milik jurnalis berkebangsaan Indonesia yang menjadi saksi hidup runtuhnya Tembok Berlin, Jerman. Jurnalis gaek yang pernah berkarya di Tempo dan Republika itu adalah Farid Gaban.
Bersama Farid Gaban dan seorang kawan perempuan (saya lupa namanya), pagi itu langsung menuju dataran tinggi Dieng. Sebelumnya, nama Farid Gaban agak asing di telinga saya. Namun, setelah interaksi secara daring dan luring, saya tahu bahwa Farid Gaban adalah jurnalis gaek dan juga penulis cum penerjemah. Orangnya rendah hati, gaya bicaranya santai, dan hangat ketika berdiskusi wa bil khusus tentang tema ke-Islam-an, baik dalam konteks Nusantara maupun dunia.
Beberapa karya Farid Gaban baik yang individu maupun kolektif, seperti, Dor! Sarajevo (1993), Belajar Tidak Bicara: Solilokui (1997), Apa dan Siapa Hizbullah & Nasrallah (2006), Panduan Meliput Isu Globalisasi (2012), Ensiklopedia Wonosobo Kebudayaan (2020), dan lain-lain.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, tiba di sebuah rumah yang ada di Dieng Kulon. Rumah yang nampak asri, di depannya terdapat kebun, tanaman hias, dan dikelilingi area perkebunan dengan berbagai macam komoditas, seperti Solanum tuberosum atau kentang, Daucus carota atau wortel, carica, bunga kalalili, bawang daun, dan lain-lain.
Di rumah tersebut, sudah ada beberapa kawan. Salah satunya begawan film dokumentar dari Lumajang ‘Dandhy Dwi Laksono’. Di telinga saya, nama ‘Dandhy’ tidak seasing ‘Farid Gaban’. Karena nama Dandhy Laksono sering muncul di Watchdoc.
Ketika ditanya film dokumenter yang paling saya suka, saya akan menjawab, “Kiri Hijau Kanan Merah”. Film dokumentar pertama karya Watchoc tersebut bercerita tentang Munir Said Thalib. Bercerita mengenai masa kecil Munir, tempat munir belajar di daerah Malang, hingga sepak terjang Munir dalam beberapa lembaga pro demokrasi, seperti, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Imparsial, dan lain-lain.
Keajaiban yang Turun di Dieng
Dieng bukan hanya sekadar tentang penghasil energi panas bumi, wedang ronde, tembakau, Telaga Warna dan Cebong, bukit Sikunir, dan Kawah Sikidang, lebih dari itu terdapat beberapa keajaiban ketika menginjakkan kaki di Dieng. Wa bil khusus bagi kawan-kawan yang bersedia untuk merenung.
Dieng berada di dua daerah yaitu Wonsobo dan Banjarnegara. Di dunia pergerakan, Wonosobo tidak seramai dan semarak di Semarang, tidak semegah ingar-bingar Surabaya, dan tidak seramai Jakarta dalam pergolakan intelektual dan politik.
Namun disinilah, keajaiban hadir. Kawan-kawan dari berbagai komunitas yang ada di Wonosobo, bahu membahu mengadakan serangkaian kegiatan untuk mendukung Ekspedisi Indonesia Baru 2022. Ekspedisi Indonesia Baru sendiri merupakan ekspedisi yang menggabungkan dua ekspedisi sebelumnya. Yaitu Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009-2010) yang dilakukan oleh Farid Gaban dan Ahmad Yunus dengan Ekspedisi Indonesia Biru (2015) yang dilakukan oleh Dandhy Laksono dan Suparta Arz alias Ucok.
Kawan-kawan yang tergabung dalam tim untuk mendukung kesuksesan dan kelancaran Ekspedisi Indonesia Baru, ada KITA Institute, Serasi, LPM SQ (UNSIQ Wonosobo), Wonosobo Ekspres, 5 News, Komunitas Biru, Tabung Creative Digital, dan lain-lain. Organisasi dan komunitas tersebut bermarkas di Wonosobo.
Berhasil menghelat acara nasional “Masterclass Workshop 1: Video Storytelling & Creative Writing” pada tanggal 10-12 Juni 2022 bersama Dandhy Laksono dan Farid Gaban di Dieng Kulon. Acara tersebut diikuti oleh puluhan peserta, ada yang dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Malang, Surabaya, Batang, Jakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yogyakarta, Purbalingga, dan lain-lain.
Acara dihelat di indoor dan outdoor. Selama kegiatan berlangsung, terjadi dialektika antara fasilitator dan peserta. Farid Gaban bercerita tentang beberapa karya tulis yang pernah dia buat seperti, Di Bawah Lindungan Pohon Durian, Perempuan-Perempuan Perkasa, dan lain-lain. Dan mengajak peserta untuk menuliskan sebuah kisah kemudian memvisualisasikan kisah itu dan tidak lupa untuk mendiskusikan dengan peserta lain.
Selain itu, Farid Gaban juga mengajak peserta untuk berdiskusi dua arah dan ziarah karya dari penulis Indonesia. Seperti, karya Romo Mangunwijaya yang bertajuk Burung-Burung Manyar, beberapa karya Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran, Orang-Orang Dipersimpangan Kiri Jalan, dan lain-lain. Kumpulan kolom Gus Dur tentang sepak bola dalam Gus Dur dan Sepak Bola, Kolom demi Kolom dari Mahbub Djunaidi, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahamad Thohari, Bre-X Sebongkah Emas di Kaki Pelangi karya Bondan Winarno yang terkenal dengan kata “Maknyus”, dan beberapa karya dari penulis yang lahir di Ngawi ‘Umar Kayam’, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, dan lain-lain.
Tidak mau kalah dengan Farid Gaban yang lebih tua dan senior dalam karir jurnalis, Dandhy Laksono juga unjuk kebolehan dengan bercerita mengenai proses pembuatan film dokumenter. Mulai dari sebelum produksi, proses produksi, pasca produksi, hingga jurus-jurus jitu untuk membuat film dokumenter. Kepiawaian Dandhy Laksono bersama kawan-kawan di Watchdoc, tidak usah diragukan lagi.
Banyak film dokumenter yang sudah dihasilkan Watchdoc yang mampu menyedot perhatian publik, antara lain: Kiri Hijau Kanan Merah, Nenek Moyangku Adalah Seorang KNIL, Asimetris, Sexy Killers, Samin vs Semen, The Mahuzes, Kinipan, Lewa di Lembata, Wadas Waras, NKRI Harga Naik, dan lain-lain.
Salah satu bagian penting dalam membuat film dokumenter adalah garis cerita atau story line. Dandy juga mendiskusikan contoh garis cerita yang dibuat kawan-kawan peserta. Ada yang membuat garis cerita bertajuk Mengawini Celana, Bapak Pendidikan Indonesia adalah Herman Willem Daendels, dan lain-lain.
Selama kegiatan berlangsung, panitia bekerja dengan militan, dan peserta mengikuti pemaparan materi, diskusi di indoor maupun outdoor dengan antusias, dan berakhir dengan suka cita. Ada kalimat menarik dari Dandhy Laksono, “Karya yang baik adalah karya yang selesai dan karya yang sempurna adalah karya yang tidak akan pernah selesai”.
Serangkaian acara di Wonosobo (bootcamp dan masterclass) berlangsung dengan bahagia. Dan ketika masterclass #1 usai, kawan-kawan panitia berdiskusi hal ihwal Koperasi Indonesia Baru di sebuah rumah yang ada di Dieng Kulon. Diskusi tersebut berangkat dari pemikiran beberapa tokoh dan pengalaman kawan-kawan di lapangan, seperti Blue Economy (Gunter Pauli), The Small is Beautiful (E.F. Schumacher), dan beberapa pemikiran founding parents Indonesia, salah satunya pemikiran koperasi Bung Hatta.








