Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
18/02/2026
in Cecurhatan
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

Pemburu Hilal (Unsplash)

Ternyata, tiada perburuan yang lebih setia diulang setiap tahun, selama lebih dari empat belas abad, selain perburuan hilal di ufuk barat saat matahari terbenam di penghujung bulan Sya‘ban. Menariknya, perburuan itu tidak memerlukan senjata atau jebakan. Namun, yang diperlukan hanya sepasang mata yang awas, hati yang khusyuk, dan keyakinan bahwa di balik lengkung cahaya setipis benang itu tersimpan kepastian waktu ibadah. Ya, kepastian ibadah bagi (kini) lebih dari satu miliar manusia di seluruh dunia.

Perburuan yang satu ini dimulai bukan dengan langkah kaki. Namun, dengan pandangan yang diarahkan ke langit. Di pantai-pantai, di bukit-bukit, di menara-menara tertinggi, dan kini di observatorium-observatorium modern, para pemburu hilal duduk menanti. Mereka menanti datangnya bulan sabit muda yang akan mengumumkan, “Marhaban yâ Ramadhân!”

Ini adalah narasi tentang perburuan itu. Sebuah narasi lintas zaman yang mengikuti jejak bulan sabit bulan dari gurun pasir Jazirah Arab abad ke-7 hingga ke layar-layar komputer dan teleskop digital abad ke-21. Sebuah investigasi tentang bagaimana manusia tidak pernah berhenti menatap langit, mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: kapan kami harus berpuasa dan kapan kami boleh berhari raya?

Mari kita mulai perjalanan ini. Bukan dengan peta. Namun, dengan hadis. Bukan dengan kompas. Namun, dengan niat.

Ketika Hilal Dilihat dengan Mata Telanjang

Tiada catatan yang lebih otentik tentang awal mula perburuan hilal selain praktek yang dilakukan sendiri oleh Rasulullah Saw. Pada tahun kedua Hijriah, ketika kewajiban puasa Ramadhan baru saja diturunkan, para sahabat belajar langsung dari beliau bagaimana menentukan kapan bulan suci dimulai.

Lewat riwayat yang dituturkan Abdullah bin Umar r.a., kita mendapatkan gambaran yang begitu hidup, “Orang-orang melihat hilal. Lalu, saya memberitahukan kepada Rasulullah Saw. bahwa saya telah melihatnya. Maka, Rasulullah Saw. berpuasa dan memerintahkan kepada orang-orang untuk berpuasa.”

Bayangkan pemandangan di Madinah saat itu. Senja baru saja tiba. Para sahabat berdiri di tempat-tempat yang lebih tinggi. Mungkin, di bukit-bukit kecil di sekitar kota, atau di atap-atap rumah sederhana dari bata lumpur. Mereka menajamkan pandangan ke arah barat, di mana mega merah perlahan memudar. Dan ketika seseorang-dalam riwayat ini adalah Ibn Umar-berhasil menangkap secercah cahaya tipis melengkung di ufuk, ia segera berlari menuju Masjid Nabawi. Tanpa teleskop. Tanpa perhitungan rumit. Hanya dengan mata yang diberikan Allah Swt., ia bersaksi di hadapan Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. tidak meminta bukti tambahan. Juga, tidak bertanya apakah hilal itu cukup tinggi atau berapa derajat elongasinya. Beliau menerima kesaksian itu, lalu memerintahkan umat untuk memulai puasa keesokan harinya. Namun perburuan hilal di zaman itu tidak selalu semudah itu. Pesan beliau yang paling terkenal, yang akan menjadi fondasi metodologi umat Islam selama berabad-abad, adalah,“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika cuaca mendung menutupi penglihatan kalian, maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya‘ban) menjadi tiga puluh hari.”

Di sini ada pelajaran mendalam. Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa perburuan hilal adalah aktivitas kolektif yang melibatkan umat, namun juga mengakui keterbatasan manusia. Ketika langit tidak bersahabat, ketika awan menutupi ufuk, umat tidak dipaksa untuk memaksakan penglihatan. Mereka cukup menunggu, menyempurnakan hitungan, dan bersabar hingga keesokan harinya.

Dalam kesederhanaan metode ini, tersimpan kebijaksanaan yang luar biasa: ibadah tidak boleh didasarkan pada keraguan, namun pada keyakinan. Dan alam, dengan segala fenomenanya, adalah petunjuk yang cukup bagi umat yang masih sederhana peradabannya.

Perbedaan Pendapat Pertama

Menjelang Rasulullah Saw. berpulang, benih-benih perbedaan metodologi sejatinya sudah mulai muncul, meski belum menjadi perdebatan publik. Para sahabat yang lebih banyak bergaul dengan beliau memahami bahwa rukyat (penglihatan langsung) adalah metode utama. Namun, mereka juga menyadari bahwa wilayah Islam akan kian membentang luas, dan apa yang terlihat di Madinah belum tentu terlihat di tempat lain.

Salah satu riwayat paling penting dalam sejarah perburuan hilal terjadi beberapa tahun selepas Rasulullah Saw. berpulang. Yaitu, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan-saat itu menjadi Gubernur Syam (Suriah)-dan Abdullah bin Abbas-sepupu Rasulullah Saw. yang tinggal di Madinah-berbeda pendapat tentang kapan bulan Ramadhan dimulai .

Kisahnya begitu menarik. Kala itu, Kuraib, seorang tabiin terpercaya, diutus oleh Ummul Fadhl binti Harits dari Madinah ke Syam untuk suatu keperluan. Saat ia berada di Syam, bulan Ramadhan tiba. Kuraib dan penduduk Syam melihat hilal pada malam Jumat. Mereka pun berpuasa. Muawiyah, sebagai pemimpin, turut berpuasa bersama rakyatnya.

Beberapa waktu kemudian, Kuraib kembali ke Madinah di akhir bulan Ramadhan. Ibn Abbas, yang sangat dihormati karena kedalaman ilmunya, bertanya kepadanya, “Kapan kalian melihat hilal?”
“Kami melihatnya pada malam Jumat,” jawab Kuraib. “Saya sendiri melihatnya, dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa. Mu’awiyah pun berpuasa.”
“Namun, kami di Madinah melihatnya pada malam Sabtu,” ucap Ibn Abbas. Terkejut. “Maka kami tetap berpuasa hingga menyempurnakan tiga puluh hari, atau kami sendiri yang melihat hilal.”
“Tidakkah kita cukup dengan rukyatnya Muawiyah?”
“Tidak. Demikianlah yang diperintahkan Rasulullah kepada kami,” jawab Ibn Abbas. Tegas.

Inilah momen pertama dalam sejarah Islam yang mencatat secara eksplisit perbedaan penetapan awal bulan Ramadhan antara dua wilayah. Muawiyah di Syam memulai puasa sehari lebih awal berdasarkan rukyat yang ia saksikan. Sedangkan Ibn Abbas di Madinah memulai sehari kemudian karena hilal belum terlihat di ufuk barat Kota Nabi.

Perbedaan ini tidak melahirkan konflik. Tidak ada yang saling mengkafirkan. Muawiyah tetap menjadi Amirul Mukminin yang dihormati. Sedangkan Ibn Abbas tetap menjadi ulama besar yang ilmunya menjadi rujukan. Yang ada hanyalah pengakuan bahwa dalam masalah ijtihadiyah, perbedaan adalah rahmat.

Ibn Abbas, dengan kedalaman pemahamannya, menegaskan sebuah prinsip penting: setiap komunitas memiliki hak untuk menentukan awal bulan berdasarkan penglihatan mereka sendiri. Prinsip ini kelak dikenal dalam fiqih sebagai ikhtilâf al-mathâli‘-perbedaan tempat-tempat terbit bulan-dan akan menjadi salah satu pilar utama dalam diskusi hisab-rukyat. Hingga kini.

Peradaban Islam Mulai Menghitung Bintang

Seiring meluasnya wilayah Dunia Islam dari Spanyol hingga perbatasan Cina, keperluan akan sistem penanggalan yang lebih terstandar mulai dirasakan. Para ilmuwan Muslim mulai mengembangkan ilmu falak-astronomi Islam-dengan sangat serius.

Nama-nama seperti Al-Battani (m. 929 M), Al-Biruni (m. 1048 M), dan Ibn Yunus (m. 1009 M) muncul sebagai raksasa ilmu pengetahuan yang tidak hanya memahami syariat. Namun, mereka juga menguasai matematika dan astronomi tingkat tinggi. Mereka mengembangkan metode hisab-perhitungan matematis dan astronomis-untuk menentukan posisi bulan dan matahari dengan akurasi yang mencengangkan untuk ukuran zaman itu.

Al-Battani, misalnya, berhasil menghitung panjang tahun matahari dengan kesalahan hanya 2 menit 22 detik dari data modern. Al-Biruni menulis kitab Al-Qânun Al-Mas‘ûdî yang menjadi ensiklopedia astronomi terlengkap di zamannya. Mereka mengukur ketinggian bulan, menghitung jarak elongasi, dan memprediksi visibilitas hilal jauh sebelum teleskop ditemukan.

Namun yang menarik, pengembangan ilmu hisab yang sangat canggih ini tidak serta-merta menggantikan metode rukyat. Di era Dinasti Abbasiyah, yang menjadi puncak peradaban Islam, kedua metode ini berjalan beriringan. Para astronom istana di Baghdad dan Kairo secara rutin melakukan perhitungan untuk memprediksi kapan hilal akan terlihat. Namun, keputusan resmi tetap menunggu konfirmasi visual dari para perukyah yang ditempatkan di lokasi-lokasi strategis.

Pada masa inilah lahir konsep imkân al-ru’yah-kemungkinan hilal dapat terlihat-yang kemudian menjadi jembatan antara hisab dan rukyat. Imam Taqiyuddin Al-Subki, seorang ulama besar Mazhab Syafii, menegaskan bahwa jika secara perhitungan yang pasti (qath‘î) hilal mustahil terlihat, maka kesaksian individu yang mengaku melihatnya dapat ditolak . Ini adalah langkah maju yang revolusioner: hisab tidak lagi hanya pelengkap, namun dapat menjadi alat verifikasi terhadap klaim rukyat.

Para ilmuwan Muslim era Dinasti Abbasiyah juga mengembangkan berbagai instrumen astronomi. Astrolab, yang awalnya diadopsi dari Yunani, dikembangkan menjadi alat yang sangat presisi untuk mengukur ketinggian benda langit. Kuadran dan rubu‘ al-mujayyab menjadi perlengkapan standar di observatorium-observatorium besar seperti yang dibangun Al-Ma’mun di Baghdad.

Pada malam-malam menjelang bulan Ramadhan, para astronom istana sibuk dengan perhitungan mereka. Mereka menggunakan tabel-tabel astronomi yang disebut zij: kumpulan data posisi bintang dan planet yang dihasilkan dari pengamatan bertahun-tahun. Ketika sore tiba, mereka keluar ke menara-menara observatorium, membawa astrolab dan kuadran, menanti matahari terbenam untuk mengonfirmasi perhitungan mereka dengan pengamatan langsung.

Inilah masa keemasan perburuan hilal. Yaitu, ketika sains dan spiritualitas berjalan bergandengan tangan. Juga, ketika matematika dan doa diucapkan oleh orang yang sama.

Ketika Teknologi Memburu Hilal
Sejak tahun 1990-an, perkembangan teknologi astronomi mengubah wajah perburuan hilal secara dramatis. Teleskop-teleskop modern dengan lensa besar mulai menggantikan mata telanjang. Kamera CCD (Charge-Coupled Device) yang sangat sensitif mampu menangkap cahaya hilal yang malah tidak terlihat oleh mata manusia. Software-software falak canggih dapat menghitung posisi bulan dengan akurasi hingga hitungan detik busur.

Di Indonesia, lembaga-lembaga seperti BMKG, BRIN, dan berbagai perguruan tinggi mulai aktif terlibat dalam pengamatan hilal. Data mereka tidak hanya akurat, namun juga dapat diverifikasi secara ilmiah. Titik-titik rukyat yang dulunya hanya beberapa lokasi, kini mencapai puluhan bahkan ratusan titik di seluruh Indonesia.

Di Iran, perkembangan teknologi juga membawa dinamika tersendiri. Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, mengeluarkan fatwa bahwa melihat hilal dengan kamera dan teleskop adalah sah. Ini berbeda dengan banyak ulama di negara-negara Teluk yang masih mempertahankan pendapat bahwa rukyat harus dengan mata telanjang tanpa alat bantu. Perbedaan ini melahirkan konsep baru: istihlal-meninggikan suara saat melihat hilal-yang di Iran telah menjadi institusi resmi dengan komite-komite pengamatan yang dikirim ke berbagai wilayah setiap awal bulan.

Di Arab Saudi, otoritas kerajaan tetap berpegang pada rukyat dengan mata telanjang sebagai metode resmi. Meski mereka memiliki observatorium-observatorium modern, keputusan final tetap menunggu kesaksian visual dari para perukyah yang ditempatkan di lokasi-lokasi strategis seperti Sudair dan Tumair.

Pada tahun 2022, sebuah tonggak penting dalam sejarah perburuan hilal dicapai. Negara-negara anggota MABIMS-Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura-menyepakati kriteria baru untuk imkanur rukyat (visibilitas hilal). Kriteria lama yang menggunakan parameter ketinggian hilal minimal 2 derajat dan elongasi minimal 3 derajat, dinilai sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu astronomi modern. Kriteria baru menetapkan: tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Kesepakatan ini bukan sekadar perubahan angka. Ini adalah bukti bahwa perburuan hilal terus berkembang, ilmu pengetahuan terus maju, dan umat Islam di kawasan Asia Tenggara mampu duduk bersama, berdiskusi, dan mencapai konsensus berdasarkan data ilmiah terkini. Kriteria baru ini mulai diterapkan secara resmi sejak tahun 2022. Dan pada bulan Ramadhan 1447 H/2026 M) kini, kriteria inilah yang digunakan dalam sidang isbat penentuan awal puasa.

Perburuan hilal adalah metafora yang sempurna tentang kehidupan iman: kebenaran kadang harus dicari dengan susah payah, kadang langit cerah dan kita bisa melihat dengan jelas, dan kadang awan tebal menghalangi dan kita harus bersabar menyempurnakan hitungan. Namun, pada akhirnya, cahaya itu akan datang. Mungkin tidak tepat pada malam yang kita harapkan. Mungkin tertunda sehari. Akan tetapi bulan Ramadhan, dengan segala berkahnya, pasti akan tiba. Dan ketika bulan sabit muda itu akhirnya terlihat-setelah penantian, setelah perhitungan, setelah perdebatan-seluruh umat Islam berseru dengan satu suara, “Allâhu Akbar! Marhaban ya Ramadhân!”

Tags: Catatan Rofi' UsmaniKisah Pemburu HilalMakin Tahu Indonesia
Previous Post

‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

Next Post

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: