Desa Prangi Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, merupakan kampung paling barat di Provinsi Jawa Timur. Sebagai etalase pembatas provinsi, Desa Prangi memiliki sejumlah keistimewaan yang terjaga hingga kini. Terutama dalam memuliakan sungai Bengawan sebagai karib kehidupan.
Ekspedisi Naga Api, kegiatan riset sumber daya alam dilakukan kawan-kawan Bojonegoro History, sampai pada sebuah kawasan pembatas provinsi. Tepatnya di Desa Prangi. Titik terluar, terjauh, sekaligus menjadi batas provinsi Jawa Timur.
Desa Prangi cukup istimewa bagi kami. Sebab, di sepanjang lintasan Sungai Bengawan yang memeluk Bojonegoro, dari Jipangulu (Margomulyo) hingga Jipangilir (Baureno), kini sudah jarang, bahkan nyaris tidak ada lagi, rumah-rumah yang pintunya menghadap ke arah sungai.
Di tengah perubahan tersebut, Desa Prangi menjadi pengecualian yang istimewa. Hingga hari ini, masyarakat Desa Prangi masih menjaga tradisi luhur dengan memuliakan Sungai Bengawan sebagai bagian penting dari kehidupan mereka.
Prangi merupakan salah satu — untuk tak mengatakan satu-satunya — pemukiman di Bojonegoro yang posisi rumah oenduduknya masih menghadap ke sungai Bengawan. Tak hanya satu dua rumah.
Di Desa Prangi, masih ditemui satu pemukiman yang rumahnya menghadap ke arah sungai Bengawan. Ini jadi catatan istimewa. Sebab, rumah menghadap Bengawan merupakan ajaran luhur yang kini sudah sulit ditemui, khususnya di Bojonegoro.

Rumah yang menghadap sungai Bengawan, adalah semiotika ekologis atas kedekatan masyarakat dengan sungai. Tradisi ini terbentuk atas keyakinan masyarakat kuno, yang percaya bahwa sungai merupakan sumber kehidupan. Karena itu, membangun rumah menghadap sungai Bengawan adalah sebuah proses penghormatan kepada alam.
Dalam Hikayat Padangan, diceritakan bahwa masyarakat kuno mayoritas membangun rumah menghadap ke arah Bengawan. Ini didasari sebuah keyakinan teologis berupa ayat yang berbunyi “jannatin tajri min tahtihal anhar”, bahwa surga, berada tidak jauh dari sungai. Karena itu, masyhur masyarakat Padangan yang mayoritas hidup di sepanjang sungai, tiap membangun rumah, pintunya selalu menghadap ke arah sungai.
Alasannya sederhana. Sungai adalah manifestasi surga ciptaan Tuhan yang ada di bumi. Menghormati sungai berarti menghormati surga ciptaan Tuhan. Rumah-rumah yang pintunya menghadap sungai, adalah upaya penghormatan terhadap Tuhan, melalui makhluk yang bernama sungai. Proses penghormatan melahirkan sikap penjagaan dan perawatan. Sehingga sungai tak hanya dihormati, tapi dijaga dan dirawat.
Faktanya, hingga abad 17 M, 18 M, dan 19 M, masih banyak diceritakan bahwa rumah yang berada di lintasan Bengawan antara Jipangulu (Margomulyo) sampai Jipangilir (Baureno), banyak yang pintunya menghadap sungai Bengawan. Rumah-rumah ini, wajahnya di hadapkan ke arah Bengawan. Bahkan, mayoritas pesantren kuno pada zaman itu, juga menghadap ke arah Bengawan.
Seorang pelancong Belanda bernama H. W. Van Waey (1875), pernah mencatat perjalanannya dari Jogjakarta menuju Surabaya. Begitu sampai di Jipang (Bojonegoro), ia kagum dan memuji kedekatan masyarakat dengan sungai di kawasan ini. Konstelasi antara bebatuan kapur, pelabuhan perahu, dan rumah yang menghadap ke sungai Bengawan, menjadikan kawasan ini sangat istimewa.
Namun, kedekatan antara manusia dengan Bengawan, yang ditandai keberadaan rumah-rumah yang pintunya menghadap ke arah sungai Bengawan, faktanya mengalami perubahan. Tradisi membangun rumah dengan pintu yang menghadap ke arah Bengawan, sudah jarang ditemui lagi. Masyarakat banyak membangun rumah dengan membelakangi sungai Bengawan.
Kini, sungai Bengawan tak lagi menjadi entitas alam yang dihormati. Ia bukan lagi sesuatu yang utama. Ia hanya jadi kamar mandi. Sesuatu yang kotor dan disembunyikan. Karena ia tak lagi dihormati, maka wajar jika tak ada lagi penjagaan dan perawatan terhadap sungai Bengawan. Dan wajar pula jika saat ini, kondisi bantaran Bengawan banyak yang rusak.

Dan Desa Prangi adalah desa yang masih ngugemi tradisi kuno para leluhur. Masyarakatnya masih memuliakan Bengawan. Di sana, masih banyak ditemui rumah-rumah yang menghadap ke arah Bengawan. Maka sebuah keniscayaan ketika sungai di wilayah itu terlihat bersih dan dijaga. Bahkan, masyarakat juga tampak begitu dekat dan mengenali kondisi sungai yang melintas di kampungnya itu.
Masyarakat di Desa Prangi juga sangat menjaga kebersihan sungai. Bagi masyarakat Desa Prangi, membuang sampah plastik di sungai adalah pamali, karena itu harus dihindari. Mereka lebih memilih mengumpulkan sampah plastik, untuk didaur dan dijual kembali. Hal ini menjadi tradisi positif yang cukup langka.
Ekspedisi Naga Api ini merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas. EMCL mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk pengembangan geopark sebagai kebanggaan dan identitas daerah.








