Jakarta, Tahun 1994. Malam itu, di sebuah panggung seni di Jakarta, seorang kiai berpeci hitam membaca puisi. Ia tidak berteriak. Tidak menggertak. Suaranya lirih. Hampir seperti bisikan. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya menusuk ruang-ruang paling dalam dari kesadaran bangsa:
“Kau bilang aku merdeka,
kau memilihkan untukku segalanya.
Kau suruh aku berpikir,
aku berpikir kau tuduh aku kafir…”
Ruangan hening. Para aktivis, seniman, dan mahasiswa yang hadir menahan napas. Mereka tidak sedang mendengar orasi politik. Mereka sedang menyaksikan sebuah bentuk perlawanan yang tak pernah mereka kenal sebelumnya: perlawanan melalui kelembutan, protes melalui puisi, sanggahan melalui senyuman.
Baca Seutuhnya: Catatan Pinisepuh Jurnaba, Ahmad Rofi’ Usmani
Di sanalah, di atas panggung-panggung seni yang sunyi itu, Gus Mus–K.H. Ahmad Mustofa Bisri–menempatkan dirinya pada posisi yang paling tidak terduga. Seorang kiai kondang, putra pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, cucu ulama Rembang, kini menjadi pensyair protes yang puisinya dibacakan di kampus-kampus, di diskusi-diskusi LSM, dan di dalam sel-sel tahanan politik Orde Baru.
Pertanyaannya kini: ke mana arah pemikiran Islam Indonesia ketika seorang kiai memilih puisi sebagai medan pertempuran? Dan, ke mana arah perjalanan bangsa yang diwarisinya?
Leluhur yang Tak Pernah Diam
Gus Mus lahir pada 10 Agustus 1944, 82 tahun yang lalu, di tengah gejolak revolusi yang baru saja dimulai. Ia adalah putra kedua dari pasangan K.H. Bisri Mustofa dan Hj. Ma‘rufah binti K.H. Cholil Harun. Ayahnya adalah seorang kiai karismatik, pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, penulis tafsir monumental Al-Ibriz, dan orator ulung yang malah mampu membuat kritiknya tidak menyakitkan. Kakeknya dari ibu, K.H. Cholil Harun, adalah ikon keilmuan di pesisir pantura.
Dari darah inilah Gus Mus mewarisi dua hal: kecintaan pada ilmu dan keberanian untuk berbicara. Namun, pendidikan formalnya penuh liku. Ia tidak memiliki ijazah tingkat aliyah yang memadai. “Pendidikan menengah saya “kacau”,” demikian ia mengaku. Ketika hendak melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Al-Syarif di Kairo, ia ditolak oleh Kiai Zainal Abidin Moenawwir, Direktur Madrasah di Pondok Pesantren Krapyak, yang menolak memberinya ijazah palsu.
“Wah… ya enggak bisa Mus. Kamu kan tahu sendiri yang sudah lulus dan menjalani pengabdian mengajar selama satu tahun saja belum tentu saya beri ijazah. Lha kamu lulus saja tidak. Kok minta ijazah?” ucap seorang kyai putra K.H. Moenawwir Krapyak, Yogyakarta itu.
Gus Mus tidak menyerah. Ia menemui K.H. Ali Maksum. Hanya dengan restu sang kiai, ia mendapat surat rekomendasi. Perjuangan berikutnya adalah mendapatkan beasiswa dari Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri-yang meski sahabat ayahnya, tidak memberinya jalan mudah. Selama sebulan Gus Mus bolak-balik menemui sang menteri. Ia akhirnya lulus ujian dan berangkat ke Kairo, Mesir pada tahun 1970.
Di Kairo, Gus Mus bertemu dengan sahabat sejatinya, Abdurrahman Wahid-Gus Dur-yang tinggal di asrama yang sama Al-Azhar Al-Syarif: Madinah Al-Bu‘uts Al-Islamiyyah. Di sanalah, di antara lorong-lorong Al-Azhar Al-Syarif, dua pemikir besar Nahdlatul Ulama (NU) masa depan menempa persahabatan yang akan mengubah sejarah Islam Indonesia.
Perlawanan Tanpa Kekerasan
Sepulang dari Kairo, Gus Mus kembali ke Rembang, Jawa Tengah. Ia mewarisi pesantren ayahnya. Namun di luar dinding pesantren, ia memilih medium yang tak biasa untuk seorang kiai: puisi. Pada tahun 1991, kumpulan puisinya, Ohoi (dengan subjudul “Kumpulan Puisi Balsem”), diterbitkan. Balsem: obat yang terasa panas, namun menyembuhkan. Di sanalah puisi protesnya yang paling terkenal, Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana, muncul.
Para pembaca terhenyak. Ini bukan puisi santun tentang cinta atau kerinduan. Ini adalah sanggahan terhadap militerisme Orde Baru kala itu yang mengekang kebebasan berpikir dengan dalih kemerdekaan. Dalam analisis Gramsci, puisi ini adalah perlawanan kelompok subordinat terhadap kelompok dominan: sebuah “counter hegemony” yang berusaha menegosiasikan nasionalisme-humanis yang religius kepada rakyat.
Namun, Gus Mus tidak pernah berteriak. Ia bertanya dengan lirih. Ia tidak menuding. Tidak menghakimi. Pendekatan ini, seperti ditulis sebuah opini, mencerminkan etika sufistik: dakwah dengan cara mengajak tanpa menggurui dan menyentuh tanpa menyakiti.
Puisi-puisi Gus Mus menjadi bacaan wajib di kalangan aktivis mahasiswa dan LSM. Puisinya, seperti yang kemudian direvisinya pada tahun 2016, senantiasa mengingatkan, “Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.” Dan ketika Orde Baru tumbang, puisi Gus Mus tetap relevan. Sebab, pertanyaannya bukanlah tentang rezim. Namun, tentang kemanusiaan itu sendiri.
Pada 8 Januari 2026, di acara haul dan tasyakuran hafiz-hafizah di Semarang, Gus Mus menyampaikan sebuah pernyataan yang mengguncang ruang publik, “Kalau Indonesia baik, yang pertama bersyukur itu umat Islam. Tapi kalau Indonesia rusak, yang paling bertanggung jawab juga umat Islam.”
Ini bukan sekadar pernyataan biasa. Ini adalah sebuah teguran keras terhadap umat Islam Indonesia yang secara kuantitas mayoritas, namun secara kualitas pengamalan nilai-nilai Al-Quran masih timpang. Banyak orang mengaku Muslim, malah menampilkan simbol-simbol keislaman. Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari belum mencerminkan ajaran Al-Quran.
Menurut Gus Mus, menjadi hafiz atau hafizah bukanlah tujuan akhir. Hafalan Al-Quran harus dilanjutkan dengan tafaqquh: memahami isi secara mendalam Al-Quran serta ta‘mil: mengamalkannya dalam kehidupan nyata. “Al-Quran itu tidak cukup dihafal, tapi harus dipahami dan diamalkan. Di situlah nilai Al-Quran benar-benar hidup di tengah Masyarakat,” pesannya.
Bagi Gus Mus, pesantren bukan semata lembaga pengajaran. Namun, merupakan pusat tarbiyyah: pembentukan akhlak dan spiritualitas. Ia mengenang pengalaman mondok di pesantren tradisional yang penuh keterbatasan, namun kaya akan nilai keikhlasan dan keberkahan.
Keberhasilan seseorang, baginya, tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Namun, juga oleh barakah orang tua dan guru yang istiqamah dalam ibadah serta pengabdian. “Barokah itu nyata. Meski tidak selalu bisa diukur secara akademik, namun dampaknya sangat terasa dalam kehidupan,” ucapnya.
Di sini letak jawaban Gus Mus atas pertanyaan quo vadis: Islam Indonesia harus kembali pada akhlak. Bukan pada symbol. Bukan pada politik identitas. Bukan pada klaim kebenaran eksklusif. Gus Mus menolak pemakaian agama sebagai alat untuk meninggikan diri. Dalam banyak puisi dan ceramahnya, ia menekankan bahwa agama adalah jalan untuk merendahkan hati.
Sastra sebagai Dzikir
Karya-karya Gus Mus melampaui zamannya. Selain Ohoi, ia menerbitkan setidaknya tujuh kumpulan puisi lainnya: Tadarus (1993), Wekwekwek: Sajak-sajak Bumi Langit (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1995), Pahlawan dan Tikus (1995), Gelap Berlapis-lapis (1998), Gandrung, Sajak-Sajak Cinta (2000), dan Negeri Daging (2002).
Puisi-puisinya tidak berbicara keras. Ia lebih memilih menyentuh secara halus, membisikkan makna, dan membangunkan nurani. Menulis, baginya, adalah ibadah: sebuah amal ruhani yang tak harus dipertontonkan, namun cukup dijalani dalam keheningan batin. Dalam salah satu puisinya, ia menulis:
“Kalau kau sibuk berteori saja,
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja,
Kapan kau sempat memanfaatkannya?”
Ia menggambarkan puisinya ini sebagai pilihan spiritualnya: memilih keheningan daripada keramaian yang riuh dengan debat. Sebuah profetisme yang rendah hati, jalan sunyi yang penuh cahaya .
Jalan Sunyi yang Paling Terang
Pada usia ke-80 tahun, saat dunia bergaduh dengan suara-suara kebencian, Gus Mus tetap setia dengan caranya. Sebuah puisi yang ia tulis, Aku Manusia, menjadi semacam kredo spiritual:
“Aku manusia, bukan malaikat.
Aku manusia, bukan setan.
Aku manusia, antara langit dan bumi,
antara laut dan darat.”
Di sinilah letak jawaban akhir atas pertanyaan quo vadis. Islam Indonesia harus menjadi Islam yang ramah, bukan marah: yang mengajak dengan senyum. Bukan menunjuk dengan telunjuk. Islam yang tidak menjadikan puisi sebagai propaganda, namun sebagai simfoni sunyi yang menyapa jiwa. Islam yang tidak berambisi menguasai ruang publik, namun hadir secara spiritual di ruang batin pembacanya.
Gus Mus telah memberikan jawabannya dengan seluruh hidupnya. Kini, pertanyaan itu berpindah kepada kita, generasi yang mewarisi api pemikiran Islam Indonesia: akan ke mana kita melangkah?
Dalam keheningan malam, ketika kita membaca puisi-puisi Gus Mus, kita mungkin mendengar jawabannya, “Orang yang lupa mati, biasanya mudah tergelincir pada keserakahan dan penyimpangan.”
Maka, mari kita ingat. Agar langkah kita tidak salah arah. Dan, “Sanah helwah, Gus. Kiranya Allah Swt. senantiasa memberkahi dan meridhai jejak langkah panjenengan, Gus, amin. Salam takzim kami sekeluarga di Bandung.”








