Bahwa pengakuan dunia tak berhenti sebagai kebanggaan administratif. Namun harus tumbuh menjadi kesadaran untuk merawat bumi secara kolektif.
Melalui sidang Dewan UNESCO Global Geopark (UGG) ke-11 di Paris, Prancis (2/10/2026), Geopark Bojonegoro direkomendasikan jadi UNESCO Global Geopark (UGGp). Keputusan itu disepakati secara aklamasi, menandakan dukungan bulat dari seluruh anggota dewan. Pengakuan dunia terhadap Bojonegoro datang dari bawah permukaan tanahnya.
Bojonegoro menyimpan warisan geologi bernilai internasional. Mulai dari struktur tektonik hingga sejarah panjang perminyakan. Punya arti penting bagi perkembangan ilmu kebumian. Kekayaan itu berpadu keanekaragaman hayati dan warisan budaya yang tumbuh bersama masyarakat.
Manager Badan Pengelola Geopark Bojonegoro, Andik Sudjarwo, sangat bersyukur atas diakuinya Geopark Bojonegoro sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Ia menyampaikan terimakasih dan apresiasi pada seluruh pihak atas capaian ini. Asisten Daerah II Setda Bojonegoro itu juga berharap, pengakuan dunia tak boleh berhenti sebagai kebanggaan semu. Namun harus punya manfaat bagi masyarakat.
“Tidak boleh sekadar bangga. Namun harus memberi manfaat bagi masyarakat” ucap Andik.
Kawasan Geopark Bojonegoro mencakup sejumlah geosite, biosite, dan situs budaya. Teksas Wonocolo, Antiklin Kawengan, Kayangan Api, Kedung Lantung, Negeri Atas Angin, hingga sejumlah formasi geologi jadi bagian dari kekayaan tersebut. Sementara Wayang Thengul menunjukan identitas Bojonegoro tak hanya terbentuk dari proses alam, tapi juga ingatan, pengetahuan, dan kebudayaan yang terus diwariskan.

Rekomendasi UNESCO ini sekaligus menempatkan Bojonegoro pada tanggung jawab yang lebih besar. Geopark bukan semata-mata tentang bentang alam yang dikagumi atau status internasional yang disandang. Ia merupakan ruang hidup yang mempertemukan konservasi, pendidikan, kebudayaan, dan penghidupan masyarakat.
Tantangan berikutnya, tentu saja memastikan pengakuan dunia tidak berhenti sebagai kebanggaan administratif, melainkan tumbuh menjadi kesadaran kolektif untuk merawat bumi dan kehidupan di atasnya. Sebab, warisan geologi bukan hanya cerita usia bumi. Namun cerita bagaimana manusia memahami tempatnya, merawat lingkungannya, dan mewariskan pengetahuan pada generasi berikutnya.
Rekomendasi UNESCO Global Geopark bukan garis akhir perjalanan. Justru, pengakuan ini jadi pintu masuk menuju tanggung jawab lebih panjang. Setiap geosite perlu dijaga, setiap biosite perlu dilestarikan, dan setiap warisan budaya perlu diberi ruang untuk terus hidup. Konservasi tidak cukup dikerjakan melalui kebijakan pemerintah. Namun membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pewaris kekayaan alam dan budaya tersebut.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah geopark bukan semata-mata sejauh mana namanya dikenal dunia, melainkan seberapa jauh keberadaannya memberi arti bagi kehidupan masyarakat. UNESCO mungkin hanya memberi pengakuan atas keistimewaan bentang alam Bojonegoro. Namun, masa depan warisan itu tetap berada di tangan manusia yang hidup di dalamnya. Sebab, bumi bukan sekadar warisan untuk dinikmati hari ini, melainkan titipan yang harus dijaga agar tetap bermakna bagi generasi yang akan datang.








