Di sisi lain, ada satu proyek lagi yang mungkin terdengar mustahil: Madinah Hijau. Targetnya: menanam 2,1 juta pohon, membangun 777 kilometer jalur sepeda, dan meningkatkan ruang hijau per kapita menjadi 4,5 meter persegi per orang.
Di kota yang terletak di tengah gurun pasir, di mana suhu musim panas dapat mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, menanam 2,1 juta pohon bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia memerlukan sistem irigasi yang canggih, pemilihan spesies yang tepat, dan komitmen jangka panjang yang tidak dapat dilakukan dalam satu siklus politik.
Namun, ada alasan yang lebih dalam di balik angka-angka itu. Madinah bukan hanya kota untuk dikunjungi. Madinah adalah kota untuk ditinggali. Penduduknya-2,1 juta orang-berhak atas kota yang tidak hanya suci, namun juga layak huni. Kota yang memiliki udara yang dapat dihirup, jalan yang bisa dijalani, dan ruang yang bisa dinikmati.
Dan mungkin, dalam konteks yang lebih luas, Madinah Hijau adalah pernyataan tentang apa artinya menjadi kota modern di abad ke-21. Bukan kota yang mengorbankan lingkungan demi pertumbuhan. Namun, kota yang memahami bahwa pertumbuhan sejati tidak akan bertahan lama jika lingkungannya hancur.
Akan tetapi, ada satu hal yang perlu dicatat dengan hati-hati. Madinah Hijau adalah proyek yang ambisius, namun ia juga proyek yang sangat terlihat. Pohon-pohon yang ditanam akan terlihat. Jalur sepeda yang dibangun akan terlihat. Perubahan suhu, perubahan udara, perubahan kualitas hidup, semua itu akan terasa. Dan dalam sebuah kota yang menjadi sorotan dunia, setiap keberhasilan dan setiap kegagalan akan diperhatikan.
Ini bukanlah beban yang ringan. Namun, Madinah, dengan sejarahnya yang panjang dan keyakinannya yang dalam, mungkin adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia yang mampu memikulnya.
Yang Tidak Dapat Dibangun
Pada tahun 2025, Madinah menerima penghargaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun: Shanghai Global Award for Sustainable Development in Cities. Madinah adalah salah satu dari hanya lima kota di seluruh dunia yang diakui atas inovasi perkotaannya.
Yang lebih menarik adalah laporan yang dirilis oleh UCL Institute for Innovation and Public Purpose (IIPP), bekerja sama dengan Bloomberg Philanthropies. Dalam Public Sector Capabilities Index 2025-laporan internasional pertama yang mengukur kapasitas kota untuk beradaptasi dan bertransformasi-Madinah menonjol karena “model keunggulan pemerintah yang inovatif” yang dikembangkan oleh Madinah Region Development Authority bersama pemerintah kota Madinah,
Laporan itu menyebutkan bahwa Madinah telah mengadopsi metodologi “transformasi dinamis” yang menghubungkan kapasitas dan sumber daya dengan tujuan strategis, memungkinkan kota untuk menyusun ulang prioritas dengan fleksibel dan efektif. Model ini juga bergantung pada kesadaran strategis dalam memanfaatkan pemodelan prediktif dan analisis data, serta memperkuat kapasitas foresight dan perencanaan jangka Panjang.
Ini bukanlah penghargaan yang diberikan karena gedung-gedung tinggi atau hotel-hotel mewah. Ini adalah pengakuan bahwa Madinah telah berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: membangun sistem pemerintahan yang mampu belajar, beradaptasi, dan merencanakan masa depan tanpa kehilangan identitasnya.
Namun di sinilah, bagi mereka yang gelisah secara spiritual dan intelektual, muncul pertanyaan yang tidak bisa diabaikan: apakah penghargaan dari Shanghai dan London ini adalah tanda keberhasilan, atau tanda bahwa Madinah telah menjadi terlalu “dapat diukur”?
Kota Suci, pada akhirnya, bukanlah kota yang dapat dinilai dengan indeks. Madinah bukanlah kota yang dapat dimasukkan ke dalam laporan UCL atau Bloomberg. Madinah adalah kota yang, bagi jutaan orang, adalah tempat di mana mereka berhenti menjadi “orang yang berprestasi” dan mulai menjadi “orang yang berdoa”. Dan ketika kota itu mulai diukur dengan metrik yang sama seperti Singapura atau Kopenhagen, ada sesuatu yang terasa janggal.
Bukan karena metrik itu salah. Namun, karena ada hal-hal yang tidak bisa diukur dan Madinah, lebih dari kota mana pun, adalah tempat di mana hal-hal yang tidak dapat diukur itu adalah yang paling penting. Ya, di tengah semua keberhasilan itu, ada sesuatu yang tidak dapat diukur dengan angka, tidak dapat difoto untuk brosur, dan tidak dapat dimasukkan ke dalam laporan tahunan.
Madinah adalah kota yang, bagi jutaan orang, adalah rumah kedua. Bukan dalam arti fisik, namun dalam arti spiritual. Ketika seorang jamaah dari Indonesia, dari Pakistan, dari Nigeria, dari Turki, menginjakkan kaki di Madinah untuk pertama kalinya, ia tidak datang untuk melihat hotel bintang lima atau bus rapid transit. Ia datang karena ia ingin merasa dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dan pertanyaan yang tidak pernah dapat dijawab oleh laporan Oxford Business Group atau UCL IIPP adalah: apakah modernisasi ini membuat pengalaman itu lebih baik, atau justru mengganggunya?
Seorang jamaah Indonesia, dalam catatannya tentang Madinah, menulis tentang Raudhah dengan cara yang tidak akan pernah muncul dalam laporan manapun, “Raudhah menjadi salah satu tujuan yang paling dirindukan jamaah. Tidak berlebihan jika Raudhah disebut sebagai magnet spiritual Kota Nabi.”
Kata “rindu” itu penting. Karena rindu bukanlah sesuatu yang bisa diatur oleh sistem tasreh. Rindu bukanlah sesuatu yang dapat dijadwalkan dengan aplikasi. Rindu adalah perasaan yang muncul ketika seseorang mengingat sesuatu yang telah menyentuh hatinya dan tidak ada teknologi yang dapat menciptakan hal tersebut.
Madinah memang dapat membangun hotel. Madinah memang dapat membangun kereta cepat. Madinah memang dapat menanam pohon. Namun, Madinah tidak dapat membangun rindu. Rindu itu datang dari sesuatu yang lebih dalam-dari hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, dari hubungan antara seorang jamaah dan Nabi yang dicintainya, dari hubungan antara seorang manusia dan tempat yang telah menjadi bagian dari jiwanya. Dan jika pembangunan ini-dengan segala niat baiknya-mengganggu hubungan itu, maka semua penghargaan dari Shanghai dan London tidak akan berarti apa-apa.
Sebuah Pertanyaan Tentang “Membaca”
Judul tulisan ini adalah “Membaca Madinah”. Namun, setelah semua yang kita lihat-Rua Al Madinah, bus, kereta, pohon-pohon, penghargaan-mungkin pertanyaan yang paling penting adalah: siapa yang sebenarnya sedang membaca dan apa yang mereka baca?
Arab Saudi membaca Madinah sebagai kota yang harus dikembangkan. Para perencana membaca Madinah sebagai tantangan teknis. Para investor membaca Madinah sebagai peluang. Para jemaah membaca Madinah sebagai tujuan spiritual. Dan setiap pembacaan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Namun, ada satu pembacaan yang tidak pernah muncul dalam laporan manapun, dan mungkin justru yang paling penting: bagaimana Madinah membaca dirinya sendiri?
Kota Madinah telah berdiri selama sekitar 14 abad. Madinah telah melihat kekaisaran bangkit dan runtuh. Madinah telah melihat jutaan manusia datang dan pergi. Madinah telah melihat dirinya berubah dari sebuah oasis di gurun pasir menjadi pusat peradaban, dan kemudian menjadi kota modern yang sedang dibangun kembali. Dan melalui semua itu, Madinah tetap menjadi Madinah: Kota Nabi, kota yang diberkahi, kota yang dirindukan.
Andai Madinah dapat berbicara, ia mungkin akan mengatakan sesuatu yang sederhana, “Kalian boleh membangun apa pun yang kalian inginkan. Namun, jangan lupa bahwa aku bukanlah milik kalian. Aku adalah milik sesuatu yang lebih besar.”
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah pelajaran yang paling berharga dari semua pembangunan ini. Bukan tentang bagaimana membangun kota yang modern. Bukan tentang bagaimana menampung 30 juta jamaah. Bukan tentang bagaimana memenangkan penghargaan internasional. Namun tentang bagaimana Madinah tetap rendah hati di hadapan sesuatu yang tidak bisa dibangun.
Pada akhirnya, “membaca” Madinah bukanlah tentang memahami masterplan Rua Al Madinah atau menghitung jumlah bus di jaringan BRT. Ia adalah tentang memahami pilihan-pilihan yang dibuat oleh sebuah kota ketika ia tahu bahwa ia tidak bisa salah.
Madinah memilih untuk membangun. Madinah memilih untuk melakukan modernisasi. Madinah memilih untuk membuka diri kepada dunia dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun, Madinah juga memilih untuk menjaga-atau setidaknya mencoba menjaga-sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi: rasa sakral yang membuat jutaan orang menangis ketika mereka pertama kali melihat Masjid Nabawi.
Apakah Madinah berhasil?
Wallâhu a’lam. Transformasi ini masih berjalan. Hotel-hotel masih dibangun. Pohon-pohon masih ditanam. Bus-bus masih beroperasi. Dan jutaan jamaah masih datang, setiap tahun, dengan harapan yang sama seperti generasi sebelumnya: bahwa di kota ini, mereka akan menemukan sesuatu yang tidak dapat mereka temukan di tempat lain.
Dan yang bisa kita katakan, untuk saat ini, adalah ini: Madinah sedang belajar menjadi kota modern tanpa melupakan bahwa ia adalah Kota Nabi. Dan dalam dunia yang kian sibuk membangun tanpa pernah benar-benar memahami apa yang mereka bangun, mungkin itulah pelajaran yang paling berharga.
Sementara bagi mereka yang gelisah-yang membaca tulisan ini bukan hanya dengan pikiran, namun dengan hati-ada satu pertanyaan yang harus terus dibawa pulang: jika kita tidak dapat membangun kota yang membuat orang merasa dekat dengan Tuhannya, lalu untuk apa kita membangun kota sama sekali?
Madinah, dengan segala keberhasilan dan kegagalannya, dengan segala keindahan dan kejanggalannya, sedang mencoba menjawab pertanyaan itu. Dan kita, yang membaca dari jauh, hanya dapat berdoa agar jawabannya-ketika akhirnya ditemukan, adalah jawaban yang benar. Ini karena dunia kini memerlukan lebih dari sekadar kota yang efisien. Kini, dunia memerlukan kota yang masih dapat membuat orang menangis! Masihkah Madinah menjadi kota yang did dambakan tersebut. Wallâhu a’lam bish-shawâb!








