Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Dosa, Keberanian, dan Maaf yang tertunda: Hikmah Humor dan Pencurian (12)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
18/10/2025
in Cecurhatan
Dosa, Keberanian, dan Maaf yang tertunda: Hikmah Humor dan Pencurian (12)

Keberanian dan Maaf yang Tertunda

Eh, apa apan ini?! Kenapa diriku begini?

Suara serak Shí Wúshēng terdengar keras—membentur dinding-dinding rumahnya. Pagi dini hari, baru saja ia terbangun dari tidurnya. Ketika perlahan kedua kelopak matanya terbuka, Shí Wúshēng dikejutkan dengan kondisi tubuhnya yang tidak biasa. Terjadi keanehan. Dada, punggung, kedua tangan, dan kakinya dipenuhi bulu-bulu bebek. Bulu-bulu tumbuh, menyatu dengan kulitnya. Sontak—kejadian ini—membuat Wúshēng syok. Ia berteriak sekuat-kuatnya. Wúshēng ketakutan.

Sebelumnya, pada malam hari, karena perutnya dililit kelaparan yang cukup hebat‒Wúshēng nekat mencuri seekor bebek milik Gāo Sīyuǎn, salah satu tetangganya. Gāo Sīyuǎn merupakan seorang Rúzhĕ (guru agama Konfusius) ternama di Desa Bai Jia (白家村)—sebuah desa dengan banyak Pohon Cedar (juniperus chinensis) yang tumbuh di sepanjang jalan menuju desa tersebut. Memang, secara bahasa, kata “Bai” mempunyai arti pohon sejenis cemara atau pohon cedar. Pohon jenis ini banyak ditanam disana, untuk pembangunan kuil. Karena, selain seratnya yang kuat, kayu ini juga tahan dengan serangga dan tidak mudah mengalami pembusukan. Desa Bai Jia terletak di Provinsi Liaoning di sekitar Kota Shuangmiao atau Fuxin. Ketika peristiwa ini terjadi, Daratan Tiongkok dikuasai oleh Dinasti Ming.

Sebagai guru, Gāo Sīyuǎn dikenal sabar, ramah, dan rendah hati. Mungkin karena sifat-sifatnya baiknya tersebut, Wúshēng berani mencuri bebek miliknya. Kalaupun nanti ketahuan, paling-paling Gāo Sīyuǎn akan sedikit kecewa, lantas memaafkannya. Dan setelah berhasil mengambil bebek milik, Wúshēng segera menyembelih dan mengolahnya menjadi Běijīng kǎo yā (bebek panggang), masakan Tiongkok yang legendaris itu. Alhasil, malam itu, Wúshēng menikmati lezatnya Běijīng kǎo yā ditemani satu tempayan arak sorgum (gaoliang).

Usai makan dan menenggak beberapa sloki arak, Wúshēng tertidur lelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi menyantap Běijīng kǎo yā lengkap dengan satu tempayan arak sorgum—persis seperti yang dia makan sebelum tidur. Usai makan dan menegak arak, sekujur badannya terasa gatal-gatal. Tanpa pikir panjang Wúshēng menggaruki seluruh bagian yang gatal. Puas menggaruki, ia terbangun dari tidur dan mendapati sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu bebek. Orang-orang bilang itu kutukan. Tapi di setiap kutukan, barangkali terselip karma, dan disetiap karma tersimpan pelajaran hidup.

“Eh, apa yang terjadi dengan diriku?” tanya Wúshēng terhadap dirinya sendiri.

“Apakah aku terkena penyakit kulit, ataukah terkena kutukan?”

“Atau jangan-jangan ada intervensi dari roh-roh jahat?”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Obat dan ramuan apa yang dapat mengatasi penyakit ini? Jika terus demikian, orang-orang akan menertawakanku!!”

“Ah, sialan!” Wúshēng terus bergumam dengan dirinya sendiri. Berbagai pertanyaan bertubi-tubi menyerang dirinya tanpa terkendali. Ia dilanda keresahan.

Satu hari itu, Wúshēng hanya berdiam diri dirumah saja—tidak kemana-mana. Malu dengan kondisi dirinya. Satu hari Wúshēng masih kuat berdiam diri. Hari kedua, tubuhnya mulai gatal-gatal. Ia ingin sekali mandi di sungai—di rumahnya tidak terdapat kamar mandi. Wúshēng tergolong orang miskin. Hendak keluar, ia takut di olok-olok orang. Pun perut Wúshēng sudah tak bisa diajak kompromi. Keroncongan. Pada tengah malam hari kedua, Wúshēng berniat keluar untuk mandi dan mencari makan. Namun karena tubuhnya lemah, Wúshēng pun tertidur dengan begitu lelap. Dalam tidur, Wúshēng bermimpi bertemu seseorang. Sosok orang tua—seorang pendeta Tao yang memancarkan kewibawaan alami. Rambut, kumis, dan janggutnya panjang. Semuanya sudah memutih. Jubah panjangnya berwarna abu-abu pucat, sederhana namun bersih. Di bagian pinggang, melingkar sabuk dari anyaman bambu tua, dimana tergantung labu kecil yang tampak kusam. Tangan kirinya menggenggam tongkat kayu cendana dengan ukiran awan berpilin dan naga yang melingkar ke atas.

Pendeta Tao itu berbicara kepada Wúshēng. Suaranya pelan, rendah, namun setiap kata mengalir seperti air jernih—membawa kesejukan dan pengertian.

“Dengarkan petunjukku Nak. Penyakit yang menimpamu merupakan hukuman Tian (Tuhan) terhadap dirimu. Langit telah mengeluarkan kutukannya atas kesalahan yang telah kau perbuat. Kau mencuri harta dari seorang yang suci—orang yang rendah hati. Tidak akan ada seorang tabib-pun di kolong langit ini yang mampu mengobatimu. Satu-satunya jalan, kau harus meminta maaf kepadanya, lantas mintalah ia mencaci maki dirimu sepuasnya” kata Pendeta Tao itu.

Usai Pendeta Tao selesai berbicara, Wúshēng terbangun dari tidurnya. Kata-kata pendeta itu masih terngiang-ngiang dibenaknya—menghunjam di kedalaman jiwa. Sesungguhnya di benak Wúshēng ingin sekali meminta maaf kepada Gāo Sīyuǎn, namun, ia sangat malu jika harus berhadapan langsung dengannya. Selama ini Gāo Sīyuǎn dikenal sebagai sosok yang sabar. Tak pernah sekali ia marah apabila kehilangan barang. Ia hanya berfikir bahwa ia kurang hati-hati, atau ada orang lain pinjam lantas lupa mengembalikannya. Namun karena dorongan untuk sembuh begitu kuat, Wúshēng memberanikan diri menemui Gāo Sīyuǎn.

Ketika akan bertemu Gāo Sīyuǎn, Wúshēng mengenakan jubah besar yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Sehingga, bulu-bulu bebek itu tidak terlihat. Tiba di rumah Gāo Sīyuǎn, guru agama Konfusius itu tengah membaca buku. Tampak dari sampul tertulis kalimat Zhōngyōng (中庸) kitab Jalan Tengah, salah satu dari empat teks utama penganut Kong Hu Cu. Kitab itu membahas tentang keseimbangan batin, keselarasan moral, dan cara meraih kesejatian manusia.

“Salah satu tetanggamu telah mencuri bebek milikmu, bahkan telah memanggangnya, apakah kau tidak tahu?” ucap Wúshēng dengan lantang tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Gāo Sīyuǎn hanya diam, seolah tak menghiraukan ucapan Wúshēng. Ia melanjutkan membaca, sampai pada bagian terpenting dari kitab tersebut,

“Ketika rasa suka, marah, sedih, maupun gembira belum bangkit, itulah Kesimbangan (Zhong). Ketika perasaan itu telah bangkit, tetapi berada pada kadar sepatutnya, itulah keharmonisan (He). Kesimbangan Adalah akar besar dari dunia, dan keharmonisan merupakan jalan universal yang menghubungkan segala sesuatu di kolong langit.”

Kata-kata itu meresap di kedalaman samudera jiwa Gāo Sīyuǎn. Menyatu dengan dirinya. Ketika Wúshēng berkata kepadanya, kata-kata berlalu begitu saja, seperti sapuan udara kecil di Gunung Taisang. Dengan enteng Gāo Sīyuǎn berkata, “O, betulkah? Aku tidak tahu-menahu tentang hal itu.”

“Betul!” jawab Wúshēng tegas. “Seharusnya kau mencaci makinya, agar lain kali dia tak mengulangi perbuatannya”

Emosi Gāo Sīyuǎn tidak goyah sedikitpun. Ia tetap tenang. Kata-kata Kong Fu Tse telah membekas di benaknya. “Ah, biarlah!!!.Toh, selama ini aku telah repot-repot memelihara bebek. Dengan hilangnya bebek, telah sedikit mengurangi bebanku.”

“Tapi kau perlu mencacinya! Ia tidak hanya mencuri bebekmu, namun juga telah memanggangnya. Bukankah itu hal yang kurang ajar?”

“Ah, bebek saja diurusin. Harganya pun sangat murah. Mungkin sekitar 20-25 Wen, tidak mencapai 1 Tael. Pun bukan bebek yang terbuat dari bongkahan emas. Jadi, jika dimakan, biarlah.”

Demi mendengar jawaban Gāo Sīyuǎn, Wúshēng mulai kehilangan ide untuk memancing emosi Gāo Sīyuǎn. Akhirnya ia mengaku apa adanya terhadap Gāo Sīyuǎn tentang kejadian yang menimpanya. Ia juga menceritakan perihal mimpi aneh yang dialaminya.

“Benarkah demikian? Kau yang mencurinya? Kau juga telah memakannya? Lantas apa untungnya aku memaki-makimu? Hanya akan menambahi kotoran batin.”

Dengan nada memelas, Wúshēng memohon dengan sangat kepada Gāo Sīyuǎn agar berkenan memakinya, agar disembuhkan dari kutukan Dewa yang menimpanya.

Gāo Sīyuǎn berfikir sejenak. “Baiklah, jika demikian permintaanmu.”

“Wúshēng!! Kau Adalah manusia pemalas, tak ubahnya seekor babi. Kau tak layak disebut sebagai manusia. Kau tak berguna!! Kerjamu dari pagi hingga petang hanya mengisi perut. Dasar manusia laknat!!” Gāo Sīyuǎn berhenti sejenak, lantas meneruskan makiannya, “Kau hanya bisa mencuri milik orang lain! Tak mau berusaha sendiri.Kenapa kau tidak berusaha mencari alternatif lain? Bercocok tanam misalnya? Dasar Pemalas!!! Gara-gara kamu aku harus mencaci-maki kau!!”

Wúshēng hanya menunduk. Ia mendengar caci maki itu dengan seksama. Semakin lama, caci maki itu semakin keras. Menusuk hati. Membakar emosi. Wúshēng tak tahan. Sejurus kemudian ia berdiri. Perlahan ia melangkahkan kakinya meninggalkan Gāo Sīyuǎn, dan seiring itu pula satu-persatu bulu bebek di tubuhnya tanggal satu persatu.

Wúshēng sembuh ketika berani mengakui kesalahannya, berani menerima kebenaran dan menanggung konsekuensi emosional dari perbuatan, betapapun pahit bentuknya. Tanpa itu, rasa bersalahnya tetap menggantung, dan penyesalannya tak menemukan bentuk. Karena dalam setiap pelanggaran, ada ketidakseimbangan energi antara pelaku dan korban. Selama korban belum mengekspresikan perasaannya, dan pelaku belum menerima kebenaran dalam bentuk rasa malu, keseimbangan tak akan kembali. Dus, kebenaran bisa terasa kasar, maaf bisa terasa menyakitkan, tapi keduanya adalah jalan menuju kebebasan. Banyak orang telah jatuh, tapi sedikit yang mengakui dirinya jatuh. Banyak yang salah, tapi sedikit sekali yang datang kepada orang yang dirugikan untuk berkata, “Aku salah.” Wallahu a’lam.

Tags: Hikmah Humor
Previous Post

‎Raih Penghargaan Asia Global Award 2025, Abdulloh Umar: Ini Untuk Bojonegoro

Next Post

Aksi Resik Jembatan, Kegiatan WCD Bojonegoro dalam Membersihkan Sampah di Sungai

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: