Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

El Hablador: Kontribusi Kemarahan Pribadi pada Maraknya Bencana di Muka Bumi

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
25/08/2020
in Cecurhatan
El Hablador: Kontribusi Kemarahan Pribadi pada Maraknya Bencana di Muka Bumi

Bagaimana jika kemarahan manusia berdampak pada bencana?  Pertanyaan itu muncul dalam novel El Hablador karya Mario Vargas Llosa. Sebuah novel yang di Indonesia diterbitkan dengan judul Sang Pengoceh (2016) 

Saya lahir dan tumbuh di desa dekat bantaran sungai Bengawan. Hampir tiap tahun, banjir datang membawa libur sekolah sekaligus lumpur yang harus kami bersihkan. Banjir juga menggerus tepian sungai hingga menjadi jurang. Perlahan, permukiman warga bergeser ke selatan, menjauhi bantaran.

Dulu, saya dan kawan-kawan membayangkan banjir dan longsor sebagai siluman berlagak preman yang tiap tahun menagih upeti berupa tanah. Kami percaya, monster itu dipelihara orang pelit yang gemar memaki tetangga. Tentu saja, itu cuma imajinasi anak-anak SD belaka.

** **

Pada 2017, saya membaca sebuah novel yang amat keren dan rumit sekaligus mengagumkan. Novel ini karya penulis asal Peru bernama Mario Vargas Llosa. Ini novel yang amat rumit tapi menyenangkan. Saking rumitnya, saya baca sampai 3 hingga 4 kali pembacaan.

Novel setebal 374 halaman itu, berjudul El Hablador atau di Indonesia, diterbitkan Oak pada 2016 dengan judul Sang Pengoceh. Novel ini konon jadi karya Vargas Llosa yang paling banyak dikaji. Sebab punya banyak sudut pandang.

Sudut pandang politik, modernisasi, industrialisasi, konservasi, mitos-mitos hingga peran buruk ilmu pengetahuan yang jadi penyebab hancurnya adat budaya masyarakat. Novel ini sangat kontroversial, hingga memancing banyak kajian.

Yang membikin novel ini agak rumit, Vargas Llosa membangun dua jalur narasi cerita. Selang-seling. Pertama, narator adalah si ‘aku’— mungkin Vargas Llosa sendiri. Sedang narator kedua adalah Saúl Zuratas, mahasiswa etnologi, kawan si ‘aku’.

Saul Zuratas adalah seorang lelaki dengan tompel besar di pipinya. Karena punya tompel, dia sering dipanggil Mascarita yang artinya muka topeng. Saul sering diolok-olok oleh kawan-kawannya. Tapi dia lelaki penyabar.

Meski kerap diolok-olok, Saul tak pernah marah. Bahkan, dengan kecerdasan argumentatif, Saul selalu mampu menanggapi para pengolok itu dengan jawaban yang elegan dan ensiklopedik, tanpa ada unsur marah sedikitpun.

Dalam sebuah adegan, Saul diejek oleh seorang pemuda, tepat di hadapan si ‘aku’. Pemuda itu mengejek wajah bertompel Saul dengan kotor nan sarkastik. Tapi Saul tak marah. Ia justru memberi jawaban hangat nan penuh referensi. Seperti tak peduli dengan olokan yang diarahkan padanya.

Respon berbeda justru dilakukan kawan baik Saul, si ‘aku’. Si ‘aku’ ini heran dengan kesabaran Saul. Si ‘aku’ langsung memukuli pemuda yang mengejek Saul sampai babak belur, tepat di depan Saul. Sebagai upaya pembalasan dan solidaritas perkawanan.

Si ‘aku’ ini sangat heran dengan kesabaran Saul. Kenapa Saul tak pernah marah sedikitpun, meski dia sering diejek orang? Hingga saking penasarannya, suatu hari, si ‘aku’ bertanya langsung pada Saul. Jawaban Saul sangat mencengangkan.

Luapan amarah, jelas Saul, amat berbahaya bagi alam dan tata surya. Ada timbal balik berbahaya antara ruh manusia dan ruh alam. Kemarahan pada ruh manusia,  menyebabkan bencana pada ruh alam.

Kemarahan satu orang saja, kata Saul, bisa menyebabkan sungai meluap, kebakaran, gempa, bencana alam hingga kecelakaan. Hal itu yang membuat Saul tak pernah marah meski dia sering diejek. Sebab Saul tak ingin ada bencana alam yang terjadi akibat kemarahannya.

Ya, Saul mengatakan bahwa bermacam bencana, entah banjir, entah gempa entah kebakaran, hadir sebagai makhluk jahat yang berasal dari kemarahan manusia. Satu orang saja yang marah, kata Saul, mampu memicu bencana amat besar. Apalagi jika banyak orang.

Dari jawaban Saul itu, pembaca mulai memasuki dunia yang berbeda. Dunia yang tidak memisahkan manusia dari alam, seolah-olah keduanya merupakan dua entitas yang berdiri sendiri. Bagi Saul, manusia bukan sekadar makhluk yang tinggal di bumi.

Manusia adalah bagian dari tata kehidupan yang saling memengaruhi. Apa yang terjadi di dalam diri manusia, dalam keyakinan tertentu, bisa menjalar ke luar dirinya. Amarah yang dianggap urusan pribadi, misalnya, dapat menjadi perkara semesta.

Pandangan Saul itu bukan sekadar pendapat seorang mahasiswa etnologi yang gemar membaca buku. Ada sesuatu yang lebih mendasar di baliknya. Ia sedang memperlihatkan cara masyarakat adat memandang dunia.

Sebuah pandangan yang tidak menempatkan manusia sebagai penguasa tunggal atas alam, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang jauh lebih luas. Manusia, sungai, hutan, binatang, angin, dan roh-roh yang tak kasatmata memiliki hubungan yang tidak selalu dapat diterangkan melalui nalar modern.

Di sinilah Vargas Llosa mulai memainkan kecerdikannya. Ia tidak sekadar menulis tentang masyarakat adat Amazon, tetapi juga mempertemukan dua cara manusia memahami kehidupan. Di satu sisi, ada dunia modern yang percaya pada kemajuan, rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan kemampuan manusia mengendalikan alam. Di sisi lain, ada masyarakat yang memandang alam sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki martabat, ingatan, bahkan kehendaknya sendiri.

Bagi masyarakat modern, sungai yang meluap adalah peristiwa hidrologis. Kebakaran hutan merupakan persoalan cuaca, vegetasi, atau aktivitas manusia. Gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik. Semua memiliki penjelasan ilmiah yang dapat diuji.

Namun, dalam dunia yang dipercayai Saul, penjelasan semacam itu tidak serta-merta menghapus dimensi spiritual alam. Alam bukan benda mati yang menunggu diterangkan manusia. Ia adalah kehidupan yang memiliki keterhubungan dengan kehidupan lainnya.

Tentu saja, novel ini tidak harus dibaca sebagai pembenaran bahwa kemarahan seseorang secara harfiah dapat menggerakkan lempeng bumi atau menyebabkan banjir.

Yang menarik justru cara Vargas Llosa menghadirkan keyakinan semacam itu sebagai pintu masuk untuk mempertanyakan batas-batas pengetahuan manusia. Ada hal-hal yang dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, tetapi ada pula pengalaman kebudayaan yang tidak bisa dipahami secara utuh apabila hanya diukur menggunakan satu perangkat pengetahuan.

Namun, El Hablador tidak berhenti pada persoalan hubungan manusia dengan alam. Cerita kemudian bergerak menuju pertanyaan yang lebih rumit: bagaimana jika suatu masyarakat harus memilih antara mempertahankan adat istiadatnya atau menerima perubahan yang dibawa oleh dunia modern?

Di sinilah kritik terhadap ilmu pengetahuan menjadi menarik. Bukan karena ilmu pengetahuan itu sendiri selalu buruk, melainkan karena pengetahuan dapat menjadi alat untuk menata kehidupan orang lain menurut ukuran yang ditentukan dari luar.

Masyarakat yang sebelumnya memiliki cara sendiri untuk memahami hutan, sungai, dan kehidupan, perlahan-lahan ditempatkan sebagai objek penelitian. Mereka diamati, dicatat, diterjemahkan, dan kemudian diberi penjelasan mengenai siapa diri mereka sebenarnya.

Ironisnya, orang-orang yang hendak menyelamatkan masyarakat adat dari keterbelakangan dapat ikut mempercepat hilangnya dunia yang ingin mereka selamatkan. Sebab, ketika bahasa dan kebudayaan diperlakukan sebagai sesuatu yang harus diubah demi kemajuan, yang dipertaruhkan bukan hanya kebiasaan sehari-hari. Yang terancam adalah keseluruhan cara suatu masyarakat mengingat, menafsirkan, dan mewariskan kehidupan.

Di tengah pergulatan itulah sosok Saul Zuratas memperoleh arti yang lebih besar. Ia bukan sekadar lelaki bertompel yang sabar menghadapi ejekan. Ia adalah seseorang yang merasa terganggu oleh cara dunia modern memperlakukan perbedaan.

Di sinilah saya merasa Vargas Llosa sedang mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih besar daripada persoalan konservasi kebudayaan. Apa yang sebenarnya membuat sebuah masyarakat tetap hidup? Apakah bangunan, teknologi, lembaga pendidikan, dan kemajuan ekonomi? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni kemampuan suatu masyarakat untuk terus menceritakan dirinya sendiri?

Bagi saya, El Hablador adalah novel tentang manusia yang berusaha mempertahankan hubungan dengan dunianya. Tentang ingatan yang bergerak melalui cerita. Tentang alam yang tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai sumber daya. Dan tentang bahaya ketika satu cara memahami kehidupan merasa berhak menghapus cara-cara lainnya.

** **

Saat Covid-19 jadi bencana pandemi internasional beberapa bulan lalu, saya langsung ingat Saul Zuratas dan keyakinannya itu. Melihat bencana Covid dengan dampak yang amat luas ini, pasti disebabkan kemarahan yang tak lahir dari satu manusia saja. Tapi banyak.

Logika Saul Zuratas begini: saat satu orang manusia marah bisa menyebabkan banjir dan kebakaran yang dampaknya mungkin hanya di suatu daerah saja, lalu, berapa banyak manusia yang sedang marah, hingga menyebabkan Corona yang dampaknya melintasi samudera?

Ya, Covid 19 atau Corona ini mungkin bisa dihilangkan ketika setiap orang mampu menekan dan menghilangkan kemarahannya. Kemarahan akibat kekalahan politik, misalnya.

Tags: BencanaCovid-19El HabladorKemarahanSang Pengoceh
Previous Post

Investasi itu Gaya Hidup, bukan Sekadar Panikan

Next Post

Pentingnya Keberadaan Bumdes di Desa Cengungklung Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten
Cecurhatan

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten

22/10/2026
Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor
Cecurhatan

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten

22/10/2026
Sertijab Direktur Eksekutif LPDS: Tantangan Jurnalisme di Era Digital dan Target Penguatan Kompetensi Pers

Sertijab Direktur Eksekutif LPDS: Tantangan Jurnalisme di Era Digital dan Target Penguatan Kompetensi Pers

21/10/2026
Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

20/10/2026
Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

19/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: