Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Investasi itu Gaya Hidup, bukan Sekadar Panikan

Ahmad Fuady by Ahmad Fuady
25/08/2020
in JURNAKULTURA
Investasi itu Gaya Hidup, bukan Sekadar Panikan

Investasi dalam bentuk instrumen apa pun bisa dijalankan jika kebutuhan pokok sudah terjamin. Hal ini adalah syarat pertama dan utama.

Kalimat di judul tulisan ini aku kutip dari chat teman sekolahku di salah satu grup WhatsApp Beberapa waktu lalu, dua grup WhatsApp yang aku ikuti (grup SMA dan organisasi) membahas tema yang sama: mengatur keuangan keluarga. Ya, mayoritas anggota grup sudah berkeluarga.

Di dalam kedua grup itu, secara spesifik tidak ada yang berprofesi sebagai perencana keuangan secara profesional. Segala obrolan berdasar bacaan, pengalaman (sendiri dan orang lain), hasil ikut seminar, dan juga kutip sana-sini.

Jadi ini diskusi yang mengalir dan mengalor-ngidul. Aku sendiri lebih sebagai silent reader. Meski begitu, ada hal yang aku highlight, yang aku tulis berikut ini.

Mengatur keuangan keluarga sederhananya adalah mengelola keuangan agar pendapatan dapat mencukupi sejumlah besar pengeluaran keluarga. Pengelolaan dilakukan agar tidak besar pasak daripada tiang.

Namun, dunia yang berubah dan masa depan yang penuh ketidakpastian, pengelolaan keuangan perlu memikirkan tantangan ini.

Variabel tantangan perubahan dan ketidakpastian masa depan ini memaksa pengelolaan keuangan tidak hanya memenuhi kebutuhan sekarang dan saat ini, namun menyiapkan diri agar keuangan tetap berdaya di masa depan. Uang tidak hanya habis untuk saat ini, tetapi harus dikelola untuk masa depan.

Instrumen pengelolaan keuangan untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan ini yang mendominasi kesuluruhan pembahasan di grup. Beberapa jenis investasi disampaikan: deposito, saham, emas, properti, ternak, sawah, dll.

Investasi adalah gaya hidup, dan untuk bertahan dengan gaya hidup investasi itu butuh sabar yang ekstra. Jika niat awal investasi hanya soal dapat keuntungan lebih, jumlah uang bertambah, dan bukan berdasar tujuan yang jelas, maka gaya hidup investasi tidak akan bertahan lama. Poin ini aku ingat betul. Paling aku ingat.

Serupa gaya hidup, memisahkan antara kebutuhan dan keinginan adalah hal yang wajib. Tanpa memilah dan memprioritaskan antara dua hal itu, maka investasi adalah kecerobohan. Kebutuhan pokok harus sudah terjamin, baru bicara keinginan soal investasi. Kebutuhan belum terpenuhi tetapi giat berinvestasi, itu penuh risiko.

Investasi dalam bentuk instrumen apa pun bisa dijalankan jika kebutuhan pokok sudah terjamin. Kalau sudah punya simpanan uang dalam bentuk yang mudah dicairkan sewaktu-waktu saat butuh, setidak-tidaknya untuk kebutuhan keluarga 6 bulan sampai 1 tahun, barulah berinvestasi. Hal ini adalah syarat pertama dan utama.

“Kalau punya simpanan yang lumayan dan tidak tersentuh (kebutuhan sehari-hari) dan siap kehilangan ya sudah silakan ‘buang’ uang itu ke salah satu alternatif investasi,” kata salah satu teman. Yang gak boleh lupa, apa pun bentuk investasi “harus punya ilmu, gak boleh baper. Karena semua investasi ada risikonya.” Sehingga investasi benar-benar terencana dan bukan kagetan karena situasi.

Sebagai gaya hidup, kesederhanaan tentu menjadi bagian penting dalam investasi. Hidup sederhana bukan berarti membeli barang yang murah. Membeli barang sesuai kebutuhan, mahal tetapi awet dan bertahan 3-5 tahun, tentu lebih menjadi investasi dibandingkan barang murah tetapi setiap tahun ganti. Gaya hidup sederhana adalah rem terpenting dalam mengelola kebutuhan dan keinginan.

Beberapa hari lalu melintas di linimasa twitterku cuitan seorang teman. Dia bercerita perbedaan sebelum dan setelah menikah. Sebelum menikah uang dipakai investasi ini dan itu hasilnya nihil. Namun setelah menikah semua pendapatannya diserahkan ke istri. “Itu (ngasih pendapatan ke istri) investasi terbaik yang pernah kulakukan,” katanya.

Begitu pentingnya istri dalam perencanaan keuangan keluarga. Maka, bagi yang belum menikah, memilih istri yang dipercaya bisa mengelola keuangan keluarga adalah investasi terbaik. Bukan begitu, Nabs, eh, Jombs?

 

Tags: Gaya HidupInvestasi
Previous Post

Menikmati Pedasnya Rica-Rica Belut Jangkar Tuban

Next Post

Kontribusi Kemarahan Pribadi terhadap Maraknya Bencana di Muka Bumi

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: