Tak seperti orang dewasa, boneka jauh lebih dekat dengan anak-anak.
Achmad Agung Ferrianto segera memarkir sepeda motornya. Setelah memesan minuman, dia bergegas menuju sebuah meja bercat kuning yang berada di teras ruangan.
Rambut cepaknya yang terbiasa disisir rapi, tampak sedikit acak-acakan dengan kelopak mata bagian luar yang agak memerah. Sekilas, dia memang tampak lelah. Meski begitu, dia berupaya tak merasakan raut kelelahan tersebut.
“Sore ini saya baru saja datang dari Gresik, Mas,” kata Ferri, sapaan akrab Achmad Agung Ferrianto, pada kami kemarin malam (3/11/2019).
Semalam, kami bertemu Ferri di tempat ngopi yang terletak di bilangan Gajah Mada Bojonegoro. Di tengah kesibukannya berkunjung ke berbagai kota, Ferri tetap menyempatkan diri menemui kami. Tentu saja, untuk bercerita tentang kegiatannya bersama boneka bernama Unsa.
Iya, Ferri dan Unsa semacam Ria Enes dan Susan dari Bojonegoro. Aktivitas mendongeng dengan media boneka serupa apa yang dilakukan Ria Enes, memang cukup banyak di Bojonegoro. Perbedaannya, Ferri memasukkan ajakan membaca di dalamnya.
Memang, Ferri tumbuh sebagai aktivis literasi. Beberapa tahun terakhir, dia mantap memasuki dunia anak-anak melalui kegiatan mendongeng. Meski, orientasi dan target-target syiar literasi tak pernah sekalipun dia lupakan.
“Sejak Juli saya mulai intens beraktivitas bersama Unsa,” ucap lelaki 25 tahun tersebut.
Sarjana Teknik Industri Universitas Trunojoyo Madura tersebut menceritakan, minatnya mendalami dunia anak-anak terpantik saat dia aktif di kegiatan Kelas Inspirasi — aktivitas memperkenalkan anak sekolah dasar pada dunia profesi— yang dia geluti.
Ferri berpikir, berkomunikasi dengan anak-anak memang tak sama dengan berkomunikasi dengan orang dewasa. Terlebih jika sudah berbicara soal dongeng. Mereka, anak-anak, cenderung mudah paham jika ada media yang dibawa.
“Untuk dongeng, butuh alat. Dari sana kepikiran untuk membuat boneka dengan karakter tertentu,” katanya.
Keinginan Ferri memiliki karakter boneka sudah cukup lama. Tapi, dia sempat kebingungan bagaimana cara mendapatkannya. Sebab, setidaknya, boneka harus punya karakter yang linear terhadap aktivitas yang dia lakukan.
Hingga akhirnya Ferri bertemu teman dari Cirebon yang seorang pendongeng, sekaligus bisa bikin boneka. Dari teman tersebut, Ferri pun membikin boneka yang dia beri nama Unsa.
Nama Unsa, dia ambil dari akronim untuk asa untuk negeri saya bisa. Sebelumnya, Ferri juga sempat membikin komunitas buku sisa untuk asa (Bsunsa). Aktivitasnya di Kelas Inspirasi — yang mendorongnya sering keluar kota — memperkuat Intensitas kegiatan Ferri bersama Unsa.
“Tiap kegiatan keluar kota, bisa dipastikan bersama Unsa,” imbuh lelaki yang sehari-hari bekerja di perusahaan minuman tersebut.
Bersama Unsa, dia mendongengkan bermacam profesi kepada anak-anak. Mendongengkan motivasi hidup dan mengajak mereka untuk memperluas cakrawala pemahaman hidup, melalui laku membaca.
Ajakan membaca kepada anak, jelas Ferri, lebih mudah ketika dia melibatkan Unsa. Mengingat, Unsa mampu merepresentasikan dunia anak-anak secara langsung. Tak seperti orang dewasa, boneka lebih dekat dengan anak-anak.
Keliling Kota untuk Mendendangkan Dongeng
Ferri yang aktif di Kelas Inspirasi, hampir tiap pekan sekali selalu keluar kota. Tentu saja, untuk bertemu anak-anak di berbagai daerah. Sejumlah kota seperti Blora, Ngawi, Gresik, Jombang, Boyolali, Ponorogo, Semarang, Pasuruan pernah dia sambangi.
Hebatnya, saat mengunjungi kota-kota tersebut, Ferri selalu menempuh jarak menggunakan sepeda motor. Dia tak menjelaskan secara detail apa tujuannya. Yang jelas,dia sangat menikmatinya.
“Saya paling bahagia saat melihat anak-anak antusias, hingga keroyokan merangkul Unsa,” ucapnya saat ditanya kesan manis bersama Unsa.
Ferri membuktikan bahwa bercerita atau mengajak anak-anak untuk melakukan sesuatu, memang lebih efektif dengan menggunakan media boneka. Karena itu, di tiap penampilannya, dia tak langsung mengeluarkan Unsa begitu saja. Tapi memicu rasa penasaran anak-anak terlebih dahulu.
“Untuk menunjukkan (Unsa) pun, ada caranya. Agar mereka penasaran. Di keluarkan kakinya dulu, tangannya dulu, dan akhirnya baru muncul semua,” kisahnya.
Keprihatinan atas pengaruh gadget pada anak
Ferri paham, anak-anak yang terpapar gadget terlalu dalam, sangat mudah dikenali saat mereka berhadapan dengan boneka. Mereka yang kecanduan gadget cenderung kurang antusias pada dongeng, meski menggunakan boneka.
“Pengaruh gadget ini juga yang membuat saya prihatin terhadap dunia anak-anak,” kata Ferri.
Saat ini, banyak sekali anak usia SD yang terlalu kecanduan gadget untuk bermain. Padahal, secara usia, belum waktunya. Anak-anak menggunakan gadget tentu perkara wajar. Tapi jika sudah kecanduan, sangat berdampak negatif.
Bahkan, dia bisa mendeteksi kecanduan gadget seorang anak melalui komunikasi bersama boneka. Jika antusiasmenya rendah dan minim konsentrasi, bisa jadi terlalu senang dengan gadget sehingga sulit antusias.
Semangat yang terus memanggil
Ferri mengatakan jika mendongeng sama halnya beraktivitas di dunia literasi. Yakni panggilan jiwa. Karena itu, tak jarang, apa yang dia lakukan bersama Unsa, kadang membuat pekerjaannya keteteran. Dia mengaku berulangkali kena SP dari perusahaan akibat pekerjaannya terganggu.
Tapi, hingga saat ini, Ferri meyakini jika apa yang dilakukan bakal berdampak baik. Setidaknya, tidak untuk dirinya sendiri. Dan itu menjadi bahan bakar yang menggerakkan dia dan Unsa untuk terus berceloteh dan bercerita.








