Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Filosofi Biji Kopi

Singgih Bayu P W by Singgih Bayu P W
20/11/2021
in Fiksi Akhir Pekan
Filosofi Biji Kopi

Aku dan kaum-kaumku sudah dipisahkan dari induknya, dicabut dengan paksa dari inangnya, ya itulah aku si biji kopi.

Demi membuat si manusia merasakan syahdunya rasaku sendiri. Aku dan kaumku dihadapkan dengan teriknya matahari, dibiarkan berhari-hari, lalu setelah itu aku dan kaumku ditumpahkan ke dalam wadah bulat yang bernama wajan.

Kata si manusia itu, diriku dan kaumku sedang disangrai, sambil mengoceh dan bernyanyi tidak jelas manusia itu mengaduk-aduk diriku dengan menggunakan benda yang biasanya disebut entong.

Tak cukup hanya itu saja, aku dan kaumku dijejalkan ke penggilingan. Ah sial, siksaanku teramat luar biasa. Apa manusia itu tak berpikir bahwa dia telah menindasku dan kaumku.

Kesengsaraan pun masih berlanjut, setelah tubuhku halus dilahap oleh si gilingan, aku dan kaumku dipindahkan ke dalam wadah yang bernama toples, lalu ditutup sangat rapat dengan penutup toples itu, seakan-akan jeritan kesengsaraan dan kaumku dibungkam.

Setelah sekian beberapa jam, tiba tiba penutup toples tersebut dibuka, ah…apakah kesengsaraanku ini sudah selesai? Apakah aku dan kaumku bisa menikmati kebebasan?
Sebuah benda dengan warna yang amat silau itu masuk dalam toples yang kami tempati, dia membawaku dan beberapa kaumku untuk dipindahkan ke suatu tempat, ya…, benda itu bernama sendok.

Kami dipindahkan ke suatu tempat yaitu gelas. Aku dan kaumku bertemu dengan si gula dan beberapa temannya di dalam gelas tersebut, belum sempat kita bertegur sapa, air panas menghantam tubuh kita.

Aku, kaumku, si gula dan teman-temannya perlahan mulai larut terkena air panas itu.

Srrrrrrrttttttttt, suara khas dari bibir manusia yang sedang beraktivitas meminum kopi. Setelah meminum kopi, manusia itu kemudian berbicara sendiri, dengan raut wajah yang sedikit putus asa, “Apa yang kurang dari kopiku ini?”. Tak lama kemudian datang manusia lainnya, “Woi Sinta, kenapa sih? Mengapa produk kopi buatanmu kurang diminati oleh orang orang?”

“Entahlah, aku juga bingung, padahal kopi buatanku sudah aku tester ke beberapa orang, dan kebanyakan orang menyukainya, tapi kenapa peminatnya masih sedikit, padahal Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal berahkir dua minggu lagi dan aku harus berhasil mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini, Dea tolong bantu cari jalan keluarnya yaa”.

Ternyata percakapan tersebut adalah antara dua manusia yaitu Sinta dan Dea. Mereka berdua adalah mahasiswa semester 7 yang sedang menjalankan KKN di salah satu desa yang UMKM di desa tersebut adalah UMKM pengolahan kopi bubuk.

“Coba Sin, aku buatkan kopinya”

Tanpa berlama-lama, Sinta langsung bergegas menyeduhkan kopi untuk si Dea.

“Eh sekalian ambilkan laptopku di meja dekat dapur ya Sin, hehehehe”

“Oke Bos, ada lagi De?”

“Sini duduk di dekatku, eh Sin bagaimana kalau cara marketing kita rubah saja?”

“Lalu caranya?”

Si Dea sambil berkutik serius menghadap laptopnya, ia kemudian memberikan saran sekaligus masukan kepada Sinta, “Bagaimana kalau kita memasarkannya ke digital marketing aja, nah salah satunya bisa tuh kita promoin di instagram.”

Sinta hanya mengangguk anggukan kepala sambil berkata, “Eh iya dicoba aja deh siapa tau bisa”. Setelah lama si Dea berkutik di depan laptop dan memposting produk umkmnya, selang 15 menit ada beberapa orang memesan produk kopi bubuk tersebut.
“Eh..eh…, bentar ada notif nih Sin”

“Apa sudah ada yang pesan De?”

Sambil mengangkat jempol dan menatap wajah Sinta dengan raut wajah semangat si Dea berkata, “Iyaaaa betul hehehehe”.

Mereka berdua langsung mendekati laptop untuk melihat notif berapa banyak pesan dan sesekali sambil meminum kopi buatan produknya sendiri.

Hal ini tak lepas dari cobaan dan kesengsaraan si biji kopi, ternyata cobaan dan kesengsaraan si biji kopi tersebut membuat Sinta dan Dea merasakan ketenangan serta kenikmatan di setiap seduhan kopi hingga memunculkan sebuah terobosan, ide-ide, dan inovasi yang membuat mereka optimis untuk melangkah ke depan.

Mungkin si biji kopi tak sia-sia mengorbankan dirinya, karena untuk melangkah maju kedepan kita bahkan perlu untuk melewati cobaan dan kesengsaraan hidup layaknya si biji kopi.

Tags: Biji KopiFiksi Akhir Pekanfilosofi
Previous Post

Ancaman Nyata dan Utama Perubahan Iklim di Jawa Timur

Next Post

Kemenangan Taliban dalam Kacamata Hukum Internasional

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Tangan yang Dipotong, Jiwa yang Diselamatkan: Hikmah Humor dan Pencurian (16)

Tangan yang Dipotong, Jiwa yang Diselamatkan: Hikmah Humor dan Pencurian (16)

20/05/2026
Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

17/05/2026
Kecil Itu Indah

Kecil Itu Indah

16/05/2026
Anak Macan Wall Street

Anak Macan Wall Street

15/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: