Tiap 7 Agustus selalu diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Tiap kali berbicara hutan, kita juga harus membahas gunung. Sebab, keduanya punya hubungan yang erat sekali.
Gunung memang identik dengan tetumbuhan. Manfaat dari tetumbuhan itu sangat banyak. Jika kamu mendaki gunung, pastikan badan masih sangat fresh jika menghirup udara segar.
Udara segar itu berasal dari tumbuhan. Lantas jika tumbuhan itu rusak dan tidak terawat, bagaimana kita bisa menghirup udara segar? Tugas dari manusia adalah menjaga dan merawat alam yang diberikan oleh sang kuasa.
Beberapa tumbuhan di gunung sangatlah bermanfaat bagi para pendaki. Hidup di alam bebas, atau biasa disebut out door ini sangat memerlukan pohon dan tanaman liar. Semua yang ada di gunung pasti bisa dimanfaatkan. Tapi, dalam keadaan terpaksa.
Jika dirimu sangat kepepet, kamu boleh mengambil aset dalam gunung. Ya, gunung tak akan bisa jauh dari hutan. Pos ke pos pasti akan melewati hutan-hutan. Entah itu hutan yang lebat dengan pohon cemara. Ataupun hanya sabana luas, indah memanjakan mata.
Matamu akan indah, jika hatimu ikhlas menikmatinya. Menikmati dalam setiap perjalanan yang kamu lalui. Capek, letih dan jantung yang berdetak dengan cepat. Itu hanya perasaan yang nempel dalam tubuhmu saja, hiraukan.
Di gunung kamu bisa melihat satwa-satwa liar yang masih hidup. Jika hutan itu masih asri. Tidak bisa dipungkiri, hewan-hewan akan betah hidup dan menetap di alam tersebut. Karena mereka memiliki hidup yang bergantungan dengan alam semesta.
Maka dari itu, janganlah kamu merusak pepohonan di hutan. Janganlah, kamu adalah tamu. Jika tamu itu sopan, pemilik rumah juga sopan. Karena gunung, hutan adalah rumah bagi satwa-satwa liar yang ada di sana.
Menjaganya sangatlah sederhana. Tak usah sok-sokan ngomong pecinta alam. Jika kamu masih buang sampah sembarangan. Kerap kali sebuah tulisan dipajang secara terang-terangan. “Bawalah turun sampahmu”.
Di hutan ataupun gunung, kamu pasti melihat tulisan begini. “Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.” Itu adalah pedoman agar kamu tidak membuang sampah, dan bertingkah tak sopan.
Kalau kamu kuat membawa logistik yang berat ketika naik. Masa kamu nggak kuat bawa turun sampah yang ringan? Jangan malu ketika bawa sampah. Sesungguhnya itu adalah kemuliaan yang amat sangat dijunjung tinggi.
Plastik tersusun dari rantai atom karbon yang panjang dan kompleks. Rantai panjang ini disebut polimer dan unit terkecilnya disebut monomer. Di alam, penguraian polimer plastik terjadi melalui proses fisika seperti radiasi sinar matahari, panas, tekanan, dan kelembapan yang berlangsung sangat lama.
Bagaimana jika semua orang tidak mau menjaga dan membawa turun sampahnya? Sudah bisa dipastikan gunung, hutan dan alam akan hilang dari ke-asriannya. Dulu sangatlah indah, apakah kini akan bertumpuk sampah?
Jangan, jangan sampai terjadi. Maka dari itu, kamu dan kita semua harus menjaga sampah. 1 sampah yang kamu bawa turun, bisa jadi pahala yang kamu cicil di akhirat nanti. Karena setiap kebaikan akan dibantu oleh alam sekitar.








