Gunung Pandan sebagai pusat peradaban, memang kelewat keramat. Tapi, bukan keramat karena setan atau hantu.
Selama sepuluh hari pada medio 2010, Gunung Pandan bergemuruh saban tengah malam. Masyarakat lereng Gunung Pandan turut Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, cemas akan suara itu.
Baca Juga: Peradaban Gunung Pugawat Pandan
Masyarakat yang rerata merupakan petani dan pesanggem itu mengira, Puncak Pegunungan Kendeng itu hendak meletus dan memporakporandakan wilayah sekitarnya, sebagaimana letusan gunung berapi lainnya.
Sebab, Gunung Pandan memang belum dinyatakan sebagai gunung mati. Artinya, gunung yang jadi demarkasi antara Kabupaten Bojonegoro dan Nganjuk itu, bisa meletus sewaktu-waktu.
Pemerintah Kecamatan Sekar sampai berkonsultasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait gemuruh dari Gunung Pandan itu. Namun, jawaban tak terpecahkan.
Beberapa waktu kemudian, peristiwa menggegerkan itu rampung. Gemuruh Gunung Pandan itu hilang dengan Barokah Allah via sedekah Kambing Kendit dan petunjuk seorang kiai dari Malang.

Menurut kiai dari Malang itu, Gunung Pandan sedang marah sehingga tubuhnya bergemuruh. Pemicunya, salah satu petak hutan di lerengnya ditebangi sekelompok blandong tanpa amit-nuwun sewu.
Mendengar keterangan kiai dari Malang itu, masyarakat Kecamatan Sekar lalu mafhum. Menurut mereka, yang marah karena perbuatan segerombol blandong itu adalah Mbah Kyai Derpo, sang penunggu Puncak Pandan.
Kyai Derpo merupakan sebuah entitas. Bukan golongan setan atau hantu. Kyai Derpo lebih patut di-unversalkan sebagai entitas tak kasat mata yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai penunggu Gunung Pandan.
Sisi Ilmiah Gunung Pandan
Di literatur ilmiah, Gunung Pandan bukan keramat karena Kyai Derpo. Melainkan, karena gunung ini merupakan pusat peribadatan Hindu-Budha aliran Brahma, era Medang Kuno sampai Majapahit.
Fakta bahwa Gunung Pandan merupakan pusat peribadatan dua agama bersinkretis itu dibuktikan dari banyaknya prasasti masa Pu Sindok Medang Kuno (929 – 947 M) yang berada di lereng Gunung Pandan.
Fakta itu diperkuat catatan Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M) dikeluarkan Erlangga selaku Raja Medang Kahuripan. Dalam prasati itu, Gunung Pandan masih bernama Gunung Pugawat.
Bait ke-32 Prasasti itu menyebut, Erlangga menetap dan membangun pendharmaan di gunung ini untuk ‘naik kasta’ menjadi Brahmana.
32. nirjityātha ripünparākramadhanāt chauryyairupāyairapi çaktyākhanditayā khalu vratitayā vā devatā rādhanai rantuñjātamahänṛpassa kurute puṇyāçramam çrimataḥ pārçve pügavato girernarapatiççrīnīralańgähvayaḥ
Artinya:
32. Setelah menaklukkan musuh-musuhnya dengan semangat yang besar, dengan tindakan kepahlawanannya, serta dengan segala macam kenegaraan, Yang Mulia Erlangga, setelah ia menjadi pangeran besar, menetap di lereng Gunung Pügawat yang megah untuk mendirikan pertapaan suci, baik untuk menunjukkan kekuatannya atau karena kesetiaannya yang tak terpatahkan pada sumpah untuk menenangkan dan memuaskan para dewa.
Bukti lain tentang Gunung Pandan sebagai pusat ibadat Hindu-Budha, juga disinggung Prasati Pamintihan (1473 M) yang ditemukan di sekitar lereng Gunung Pandan. Dalam prasasti itu disebutkan Raja Majapahit Dyah Suraprabhawa (Bhre Pandan) berdherma di gunung Gunung Pugawat setelah Bhre Kertabumi.
Perubahan nama Gunung Pugawat menjadi Gunung Pandan, kiranya juga tak lepas dari pendharmaan Dyah Suraprabhawa ini. Sebab, raja Majapahit ke-10 itu juga menyandang gelar Bhre Pandansalas.
Bukti arkeologis bahwa Gunung Pandan merupakan pusat peribadatan Hindu-Budha aliran Brahma juga dikemukakan laporan Nederlands Oost Indie (1857) yang ditulis Roorda Eysinga.
Dalam laporan itu, Roorda Eysinga menulis di puncak Gunung Pandan ditemukan aneka benda-benda peribadatan aliran Brahma. Salah satunya, patung Brahma raksasa setinggi 12 hasta (sekitar 14 meter).
Pada laporan bertahun 1857 itu, Roorda Eysinga menyebut, warga sekitar menyebut patung Brahma raksasa yang dikelilingi 8 pohon jambe itu, dengan “Kiai Derpo”. Sangat mungkin, itulah patung Brahma tertinggi se-Jawa kala itu. Sayangnya, pada 1882, patung raksasa itu dilaporkan hilang.
Merujuk keberadaan prasasti era Pu Sindok, Prasasti Pucangan, Prasasti Pamintihan, dan laporan ilmiah Roorda Eysinga itu, Gunung Pandan Gunung Pugawat memang keramat, karena jadi pusat peribadatan. Bukan karena setan ataupun hantu.
Pihak-pihak yang “menghilangkan” patung raksasa Kiai Derpo, dan yang mendesuskan Gunung Pandan sebagai tempat setan dan hantu, kiranya perlu melakukan revisi. Sebab, khazanah sejarah lebih penting dan berharga ketimbang sekadar desas-desus.







