Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Guru dan Ingatan yang Terus Terpaku di Kepala

Rian Adi Kurniawan by Rian Adi Kurniawan
30/07/2021
in Cecurhatan
Guru dan Ingatan yang Terus Terpaku di Kepala

Guru hebat tak pernah meminta kita untuk belajar secara langsung. Tapi kita yang belajar darinya tanpa diminta, meski tak secara langsung.

Seorang lelaki paruh baya sedang menghisap rokok di depan rumah dengan penuh kenikmatan. Malam yang gelap dengan penuh kepulan asap menemaninya. Nampaknya ia sedang melantunkan sebuah dzikir tanpa suara. Hal itu terlihat dari mulutnya yang seakan-akan mengucapkan sesuatu namun tidak mengeluarkan suara.

Lelaki paruh baya itu bernama Awan. Orang-orang di sekitarnya lebih akrab menyapa dengan sebutan Kiai Awan. Kiai yang penuh kharismatik dan penuh kesederhanaan. Selain itu ia juga sangat dekat dengan para santri.

Kiai Awan juga terkenal sangat ikhlas serta sabar, ia sekalipun tak pernah marah di depan santri. Untuk menghadapi santri yang nakal, ia lebih memilih menggunakan cara-cara humor. Humor selalu ia selipkan baik dalam keadaan santai maupun sedang mengajar.

Santri yang ada di dekatnya pun selalu merasa aman dan bahagia. Mereka merasa sangat beruntung memiliki sosok kiai seperti itu. Setiap jum’at pagi Kiai Awan selalu mengajak para santri untuk ro’an (kerja bakti/bersih-bersih bersama).

Dalam mengajak santri Kiai yang satu ini tak pernah memakai pendekatan instruksi. Pendekatan yang sering dipakainya adalah pendekatan menekan kesadaran. Ia tak pernah memerintahkan santri, tetapi selalu memulai duluan baru kemudian diikuti para santri. Dalam hal apapun ia selalu memberikan contoh.

Kiai Awan sudah tidak diragukan lagi kedekatannya dengan santri. Pernah suatu ketika ia mengundang para santri ke rumah untuk makan bersamanya. Sedikit pun wajahnya tak menunjukkan rasa malu, meski harus makan dan duduk berdampingan dengan santri.

Menurutnya, untuk mendidik santri seorang Kiai itu tidak selalu harus berada di atas. Adakalanya harus menjadi santri agar benar-benar merasakan perasaan santri. Selain itu juga sangat mudah untuk mengenali karakter santri. Kiai yang mengenali karakter santrinya, ia tak akan pernah kesulitan untuk mendidiknya.

Begitu juga dengan santri yang sudah kenal dekat dengan sang kiai. Santri pasti akan memiliki rasa ta’dzim yang mendalam. Rasa ta’dzim yang di dalamnya mengandung sebuah kecintaan. Cinta terhadap kiainya yang kemudian menjadi jembatan kecintaan terhadap ilmu. Dalam kitab Ta’limul Muta’alim disebutkan orang yang mencari ilmu haruslah bisa mencintai ilmu.

Pagi itu dari kejauhan di surau kecil pesantren nampak suara tetangisan terdengar. Terlihat seorang kiai sedang dipeluk para santrinya. Kejadian itu mengisyaratkan sebuah perpisahan dan kehilangan.

Sayangnya pengabdian Kiai Awan harus terhenti di sini, lantaran ia harus kembali ke tanah kelahiran untuk merawat pesantren tinggalan ayahnya.

Isak tangis pun tak terhindarkan, air mata para santri menjadi pengiring perpisahan Kiai Awan. Siapapun tidak pernah rela ditinggal sosok kiai yang sabar dan penyayang. Selamat jalan Kiai meski raga kita terpisah, sebagai seorang santri jiwa ini tetap menyatu bersamamu.

Bojonegoro, 29 Juli 2021

Tags: edukasiPendidikan
Previous Post

Analisis Risiko, Sebuah Metode Mengurangi Penyesalan di Masa Depan

Next Post

Fenomena FOMO dan Kenapa Kita Tak Bisa Jauh dari Gadget

BERITA MENARIK LAINNYA

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor
Cecurhatan

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis
Cecurhatan

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

12/10/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

17/10/2026
Festival Lantung Hadirkan Kesenian Lokal, UMKM Desa Ikut Bergeliat

Festival Lantung Hadirkan Kesenian Lokal, UMKM Desa Ikut Bergeliat

16/10/2026
Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

16/10/2026
Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

15/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: