Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gus Nur Salim Jabung dan Idiom Wali iku Ora Owal Ora Lali 

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
03/06/2025
in Cecurhatan
Gus Nur Salim Jabung dan Idiom Wali iku Ora Owal Ora Lali 

Gus Miek dan Gus Nur Salim Jabung

Bagi masyarakat Jabung, Malang, KH. Nur Salim atau akrab disapa Gus Nur Salim menempati posisi istimewa. Selain dikenal tawadhu dan dermawan, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga itu acapkali dipercaya sebagai salah-satu kekasih-Nya, atau istilah lain adalah Wali.

Kendati demikian, Gus Nur acapkali menepis anggapan masyarakat tersebut. “Saya bukan Wali Allah, saya ini Wali murid”, ucap Gus Nur Salim di hadapan para jama’ah. Bagi Gus Nur Salim, yang lebih urgen daripada menghormati wali adalah hormat kepada ibu.

Kata Gus Nur, “Doa Ibu terhadap anaknya lebih dikabulkan oleh Allah daripada 40 orang Wali Allah”. Karena itu, ia lebih menekankan hormat kepada kedua orang tua, meski tetap hormat kepada para Wali-Nya.

Satu ketika, selepas sholat isya―seorang anak muda bertamu ke ndalem Gus Nur Salim di Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Anak muda tersebut menanyakan perihal wali-wali Allah kepada Gus Nur Salim.

Dengan enteng, Gus Nur Salim menjawab, “Wali iku ora owal, ora lali” (Wali itu tidak pisah, tidak lupa kepada Allah). “Apa mungkin itu kiai?”, tanya balik anak muda tersebut. “Mungkin”, jawab Gus Nur Salim sambil tersenyum.

Lantas ia menunjukkan jarinya ke dada anak muda tersebut. Tiba-tiba anak muda itu tersentak. Sejurus kemudian―butir-butir air mata berjatuhan dari kedua bola mata anak muda tersebut.

“Cukup Kiai, cukup…”, kata anak muda itu. Ia merasakan ketenangan yang luar biasa. Hatinya bergetar hebat, terus-menerus menyebut nama Allah.

Wali: Ora Owal Ora Lali
Secara etimologi, kata wali terambil dari Bahasa Arab, ‘wali’ yang arti literalnya dekat, kerabat, atau teman (aksin wijaya, 354: 2019). Sementara para sufi memiliki definisi sendiri-sendiri, Al-Hujwiri misalnya, mendefinisikan auliya’ sebagai mereka yang telah “meninggalkan kehendaknya sendiri demi kehendak Allah” (Al-Hujwiri,1998:22).

Dengan kata lain, wali adalah mereka yang telah “fana”―melebur dalam eksistensi ilahi. Gus Nur Salim―dengan cara unik seorang kiai Jawa memiliki definisi tersendiri, “Ora Owal, Ora Lali”. Tidak pisah, tidak lupa.

Alih-alih terdengar sederhana, frasa ini menyimpan tafsir panjang, menyentuh ranah eksistensi. Gus Nur telah menyatukan dua maqamat dalam Tasawuf: ittihad (penyatuan) dan dzikrullah (ingat kepada Allah).

Ia mengajak kita merefleksi ulang makna spiritualitas. Bahwa wali bukanlah status―ia adalah keadaan. Sebuah kondisi―bukan untuk dimengerti, tetapi untuk dialami melalui sebuah proses yang panjang, rumit, dan berliku.

Menurut Gus Nur, kewalian bukan perkara menampakkan karamah, tetapi menjaga koneksitas batin terus-menerus dengan Tuhan, dalam istilah Gus Nur―”hati yang bersujud”. Terkait hal ini Gu Nur pernah menegaskan, Orang yang paling bahagia adalah, mereka yang hatinya terus bersujud kepada Allah.

‘Tidak pisah’ bisa diartikan menyatu dan tenggelam dalam samudera Tauhid, tidak terombang-ambing oleh dunia, serta keterhubungan yang konstan dengan Allah. Sebaliknya, ‘Tidak lupa’ menyiratkan kontinuitas dalam berdzkir. Terus hadir dalam kesadaran.

Zikirnya bukan sekadar lisan, atau lafadz belaka, namun sepenuh hati dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari. Seperti ditekankan oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, bahwa dzikir tertinggi adalah kesadaran konstan kepada Allah di tiap detik kehidupan.

“Ora Owal Ora Lali” adalah definisi penting dalam zaman yang mengandalkan simbol dan mengabaikan makna. Ia telah mengajarkan bahwa spiritualitas tertinggi bukan spektakularitas, tetapi kontinuitas. Dalam kondisi ingat yang tak pernah putus, disanalah letak kedekatan. Dalam kedekatan yang tak pernah pisah, disitulah kekasih Allah hadir, tak perlu mengaku cukup dalam makna.

Siapakah Gus Nur Salim?
Gus Nur Salim dilahirkan pada tahun 1940 di Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang―Gus Nur merupakan putra bungsu dari 6 bersaudara. Ia putra dari Kiai Khatam dan Nyai Mujni. Gus Nur Salim kecil terlahir dengan nama Nasihin, sedangkan sehari-hari kerap dipanggil Timbul. Adapun nama Nur Salim merupakan pemberian dari KH. Ali Mas’ud atau Mbah Ud, seorang kiai majdzub dari Pagerwojo, Sidoarjo yang masyhur sebagai waliyullah.

Gus Nur Salim Jabung bersama keluarga

Gus Nur Salim muda mengawali belajar agama kepada kedua orang tuanya. Lantas ia melanjutkan belajar kepada KH. Abdul Mukti Kemantren yang tidak jauh dari rumahnya, sekitar 10 KM. Kemudian ia melanjutkan belajar kepada Mbah Tohir, Bungkuk, Singosari.

Gus Nur Salim juga pernah belajar Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah kepada KH. Sahlan Tholib, Krian, Sidoarjo. Kepada Kiai Sahlan, Gus Nur Salim muda mendapatkan banyak bimbingan tentang berbagai macam riyadloh, terutama dalam ajaran Tarekat Naqsyabandiyah.

Selain kepada ketiga ulama kharismatik tersebut, Gus Nur Salim kerap bersilaturahmi dan tabarukan kepada sejumlah ulama di Jawa. Diantaranya KH. Ali Mas’ud Pagerwojo, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, KH. Dimyati Selopuro, dan KH. Haromain Jombang. Dari proses berguru kepada sejumlah ulama tersebut, mengantarkan sosok Gus Nur Salim sebagai kiai yang tidak hanya alim, tetapi tawadhu juga dermawan.

Gus Nur Salim menikah dengan Bu Nyai Hj. Istiqomah yang berasal dari Desa Jogosalam, Kecamatan Gondanglegi, Malang pada tahun 1971. Dari pernikahan ini, dikaruniai 4 orang anak―2 diantaranya meninggal ketika masih bayi (anak ke-1 dan 3). Dua dari anak Gus Nur yang masih hidup, KH. Ali Muzakki dan Hj. Raudlatul Aini menjadi pengasuh PonPes Sunan Kalijaga.

Pondok Pesantren yang diasuh Gus Nur bermula dari tempat istirahat sekaligus shalat di Desa Sukolilo. Lantas pada tahun 1960, oleh Kiai Abdul Rois (kakak Gus Nur) direnovasi menjadi sebuah mushola.

Lalu pada tahun 1974 direnovasi kembali oleh Gus Nur Salim seiring banyaknya anak yang belajar mengaji kepada Gus Nur. Atas petunjuk dari KH. Ali Mas’ud Pagerwojo, mushola itu diberi nama Langgar Sunan Kalijaga.

Seiring berjalannya waktu, Langgar itu berkembang menjadi sebuah pondok pesantren. Kini pondok yang didirikan Gus Nur telah memiliki unit pendidikan yang terdiri dari, TK, SD, SMP Putra, SMP Putri, SMA, SMK, dan Institut Agama Islam Sunan Kalijogo.

Semasa hidup, Gus Nur kerap mengadakan Majelis Waqi’ah-an (membaca surat Al-Waqi’ah 3x) di pondoknya setiap malam rabu dan sabtu pahing. Majelis itu dihadiri kurang lebih 30.000 jamaah, yang membuat Desa Sukolilo menjadi lautan manusia.

Menjelang bulan Maulud, Gus Nur mengadakan Lailatul Hadrah, yang dihadiri Jamaah ISHARI se-Jawa Timur. Selain masyarakat, sejumlah ulama terkemuka juga bersilaturahmi kepada Gus Nur Salim, diantaranya Gus Dur, Gus Miek, Mbah Liem, KH. Zainudin MZ dan Gus Ali Tropodo.

Gus Nur Salim wafat pada tanggal 3 Maret 1999 akibat stroke. Jenazah Gus Nur dikebumikan di samping Masjid Pondok Sunan Kalijogo.

Bahan Bacaan
Cerita dari KH. Sya’roni, Ketua MWCNU Kec Jabung.
Al-Hujwiri, 2015, Kasyful Mahjub: Buku Daras Tasawuf Tertua, Bandung: Mizan.
dr. H. Muhammad Henalsyah, 2007, Hati yang bersujud: Percikan Hikmah & Petuah Gus Nur Salim, Yogyakarta: Bridge Pubishing.
Kholis Anwari dkk, 2021, Pendekatan Humanisme Religius Mbah Kiai Nur Salim Jabung dalam pendidikan Islam, dalam Jurnal Akademika Volume 3 Nomor 2, 2 Desember 2021.

Tags: Gus Nur Salim JabungWali Ora Owal Ora Lali
Previous Post

Cangkir dan Rumah Sarat Barokah

Next Post

Mengapa Shalat Subuh Terdiri dari Dua Rakaat?

BERITA MENARIK LAINNYA

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI
Cecurhatan

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

18/06/2026
Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)
Cecurhatan

Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

17/06/2026
EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital
Cecurhatan

EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital

16/06/2026

Anyar Nabs

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

18/06/2026
Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

17/06/2026
Jejak Geologi dan Sejarah Undak Bengawan Terungkap dalam Ekspedisi Naga Api Bojonegoro

Jejak Geologi dan Sejarah Undak Bengawan Terungkap dalam Ekspedisi Naga Api Bojonegoro

17/06/2026
EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital

EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital

16/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: