Hari ini, kita memperingati hari Kartini. Hari di mana suara wanita mulai didengar. Bagaimana pergerakan wanita untuk dapat mengenyam pendidikan mulai diperjuangkan oleh Ibu Kartini.
Memperingati hari Kartini bukan hanya dengan sekadar menggunakan kebaya. Perjuangan Ibu Kartini sebenarnya adalah tentang menulis dan pemikiran.
Bagaimana wanita dikenang dengan tulisan dan pemikirannya, bukan hanya dengan sekedar kecantikan dan busananya. Sudah sepantasnya peringatan hari Kartini bukan hanya sekadar peringatan fashion show belaka.
Namun bagaimana perempuan merayakan pemikirannya untuk didengar, bagaimana perempuan menunjukkan eksistensinya dengan pendidikan, bagaimana perempuan berkarya lewat tulisan.
Melalui suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini menulis bahwa ia ingin perempuan pribumi bebas dari kungkungan tradisi, tapi tak tercerabut dari akar.
Ia tidak ingin berbenturan, melainkan dialog antara adat dan kemajuan, antara iman dan kebebasan. Kartini muda adalah ibu rumah tangga yang bergerak dalam penanya. Kartini muda adalah wanita yang bergerak melalui pemikirannya.
Jangan pernah takut untuk menjadi ibu rumah tangga, tapi takutlah jika tidak pernah berkarya. Hiduplah dengan pemikiran, mungkin tubuhmu bisa mati, tapi pemikiranmu akan terus diwariskan.
Ibu Kartini tidak mengajarkan kita untuk lepas dari kodrat dan aturan, Ibu Kartini mengajarkan kita untuk terus berkarya meski dalam senyap dan keterbatasan. Bahwa pendidikan dan kemerdekaan pemikiran adalah kunci peradaban.
Sudah bukan waktunya memperingati hari Kartini dengan lenggah lenggok saja. Selamat Hari Kartini.








