Gus Mus, Panjenengan Dicari Ibn Malik
Gus, tadi malam, saya bermimpi. Ternyata, dalam mimpi itu, saya bertemu dengan Ibn Malik. Begitu bertemu dengan Ibn Malik dan selepas berbagi sapa, Ibn Malik bertanya, “Mana itu Ahmad Mustofa Bisri? Kok dia gak pernah mendoakan aku lagi?”
“Tuan Guru,” jawab saya bingung. “Gus Mus mungkin ada di Rembang, Jawa Tengah. Kota itu jauh dari tempat tinggal saya. Sekitar antara Barcelona dan Sevilla. Wonten menopo dengan Gus Mus, Tuan Guru?
Sejenak Ibn Malik diam. Lalu, ucap Tuan Guru asal Andalusia yang pakar gramatika Arab itu, “Kau tentu tahu, aku ini tidak punya banyak murid. Hanya satu atau dua. Tapi, selepas sekian ratus tahun, kok aku kerap dapat kiriman doa dari negeri yang sangat jauh. Setiap kali mereka hendak belajar kitab yang kutulis, Alfiyyah, mereka selalu mendoakan aku dulu.
Mereka dipimpin seseorang yang mengaku bernama Ahmad Mustofa Bisri. Sayangnya, entah mengapa, kini lama mereka tidak mendoakan aku. Ada apa dengan mereka? Apa mereka sudah tidak mempelajari Alfiyyah lagi. Sehingga, mereka tidak mendoakan aku lagi?”
Mendengar ucapan Ibn Malik yang demikian, saya pun makin bingung. Lalu, saya berucap, “Tuan Guru. Kalau gak salah, besok (10 Agustus) Gus Mus ulang tahun. InsyaAllah, besok saya ceritakan pertanyaan-pertanyaan Tuan Guru kepada Gus Mus. Namun, nyuwun sewu, kiranya Tuan Guru berkenan mendoakan Gus Mus.”
Mendengar jawaban saya yang demikian, tiba-tiba wajah Ibn Malik berpendar cemerlang dan kemudian berdoa dengan sepenuh hati,
“Ya Allah, karuniakanlah kepada Ahmad Mustofa Bisri barakah, ridha, rezeki yang halalan thayyiban mubaraka, sehat dan afiah, lahir dan batin, riayah dan inayah, rahmah dan mahabbah-Mu hingga ia meraih husnul khatimah, amin.”
“Allahumma amin. Matur nuwun, Tuan Guru.”
Begitu terbangun dari tidur, bibir saya pun bergumam, “Alf alf alf mabruk. Sanah helwah, Gus Mus. Salam takzim kami sekeluarga.”








