Matahari tepat di atas kepala ketika kami sampai di Tambakberas, Jombang. Sebuah ruang penempaan ilmu. Di sana-sini, aroma tholabul ilmi semerbak memenuhi indera penciuman; menyusup di antara bangunan pesantren, langkah para santri, hingga percakapan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Kami datang ke lokasi Muktamar ke-35 NU ini bukan untuk mengikuti acaranya. Kami hanya ingin tilik, merasakan gemebyaring donya: bagaimana tradisi bergerak, dan bagaimana perhelatan keagamaan mempertemukan pesantren, ulama, santri, serta warga dalam satu ruang kebudayaan.
Kami hanya rombongan kecil. Dari Padangan dan Senori. Kami datang bukan sebagai wakil apapun. Kami datang hanya ingin sowan Mbah Wahab Hasbullah. Sebab, dulu ketika membangun pondasi NU, Mbah Wahab sangat rajin sowan ke Padangan. Kedatangan kami ke Tambakberas, hanya menauladani apa yang Mbah Wahab pernah lakukan.
Di lokasi muktamar ini, seharian penuh ramai sekali. Berbagai kepentingan saling bertransaksi. Setiap kelompok datang membawa harapan, kepentingan, dan berusaha memastikan kehendak mereka dengan menggunakan stempel langit. Tak ayal, langit dipenuhi lemparan doa-doa yang terasa cukup panas bagi tubuh manusia.
Ketegangan benar-benar terasa. Batas antara perbedaan pandangan dengan pertarungan kepentingan terasa begitu tipis. Kami menyaksikan, muktamar bukan perhelatan biasa. Namun sebuah cermin raksasa yang memantulkan sikap penuh ambisi dan kecemasan.

Kami tak tertarik dengan itu semua. Kami menghabiskan waktu di salah satu sudut ruangan muktamar. Di sana, kami membaca karya-karya ulama dari zaman ketika NU belum lahir ke dunia: kitab-kitab yang mengajarkan bahwa ilmu jauh lebih tua daripada organisasi, dan bahwa tradisi keulamaan tidak bermula dari sekadar muktamar.
Ketika Semua Dipusatkan
Keesokan harinya, setelah kami sampai di rumah, santer kabar bahwa paket istana telah tiba. Sebuah paket dari pusat kekuasaan yang diantar dan dikawal para kurir yang mulia. Konon, paketan pulsa membuat manusia memperoleh sinyal untuk menjelajah cakrawala seluas-luasnya. Namun paket istana justru sebaliknya: ia mempersempit dan mengendalikan cakrawala.
Zaman bergerak cepat. Banyak hal yang dulu berada di tangan manusia, kini perlahan berpindah pada sistem. Cara bekerja diatur oleh algoritma. Informasi disaring mesin. Selera dibentuk layar. Bahkan cara kita melihat dunia seringkali sudah ditentukan apa yang muncul berulang-ulang di hadapan mata.
Di tengah keadaan seperti itu, masih ada satu wilayah yang semestinya tidak mudah direbut: pikiran manusia sendiri. Di sanalah ideologi berada. Ideologi bukan sekadar kumpulan slogan atau doktrin yang ditempelkan pada sebuah kelompok. Ia adalah cara manusia membaca dunia.
Dari sana seseorang menentukan apa yang dianggap benar, apa yang dinilai penting, dan ke mana keberpihakan diarahkan. Karena itu, ideologi adalah otonomi terakhir yang dimiliki manusia. Otonomi bukan berarti bebas tanpa batas. Otonomi berarti memiliki ruang untuk menentukan sikap dari dalam diri sendiri.
Maka persoalannya menjadi serius ketika ideologi mulai disentralisasi (dipusatkan). Ketika sebuah gagasan hanya boleh datang dari pusat. Ketika kebenaran ditentukan dari atas. Ketika perbedaan pandangan dianggap sebagai gangguan. Ketika manusia tidak lagi diajak berpikir, tetapi cukup diminta mengikuti. Pada titik itu, yang dikendalikan bukan hanya pikiran. Namun manusia itu sendiri.
Mandala Otonomi
Di sinilah pentingnya desentralisasi: mandala otonomi. Desentralisasi ideologi bukan berarti setiap orang harus hidup tanpa nilai dan tanpa arah. Justru sebaliknya. Ia memberi ruang agar nilai tumbuh melalui pengalaman, kebudayaan, sejarah, dan pergulatan-nya sendiri.
Pusat boleh membuat kebijakan. Negara boleh membuat aturan. Tetapi jangan sampai pusat mengambil alih seluruh cara manusia berpikir. Sebab manusia bukan sekadar pelaksana keputusan. Ia adalah makhluk yang berpikir, menimbang, mempertanyakan, lalu memilih. Di situlah martabat manusia berada.
Karena itu, ketika zaman semakin ramai oleh informasi, propaganda, algoritma, dan berbagai kepentingan, menjaga otonomi ideologi menjadi semakin penting. Bukan agar manusia menjadi liar. Melainkan agar manusia tetap menjadi manusia.
Ideologi adalah otonomi terakhir yang kita miliki. Jangan sampai ia dipusatkan dan di-sentralisasi. Jangan sampai manusia kehilangan hak paling dasarnya: menentukan sendiri apa yang hendak ia yakini sebagai sebuah kebenaran.








