Dalam senja yang amat kering di padang pasir, Imam Al-Ghazali beserta kafilah⸺berjalan menuju Thus, kampung halamannya yang terletak jauh di utara. Baru saja meninggalkan kota⸺menuju padang pasir⸺Imam Al-Ghazali beserta rombongan dihadang sekelompok perampok.
Mereka muncul dari semak-semak yang kering, dari lengkung batu hitam di padang pasir. Pedang pun terhunus. Hujjatul Islam tidak melakukan perlawanan. Pasrah. Ia harus rela melihat beberapa barangnya dirampas oleh sekelompok perampok. Namun, ketika kantong berisi kitab-kitab miliknya hendak dirampas, Imam Al-Ghazali dengan suara tercekat, memohon,
“Tolong kembalikan kantong kitab-kitab itu kepadaku!”
“Apa isi kitab-kitab itu?” tanya kepala perampok dengan melotot tajam.
“Ilmu”
Dengan mimik muka penasaran, kepala perampok kembali menyahuti, “Kalau kitab-kitabnya hilang berarti ilmunya hilang?”
“Benar”
“Apakah harganya ilmu yang hanya berada di dalam kitab?” timpal kepala perampok.
Kata-kata kepala perampok itu seperti cambuk yang menyayat di udara. Imam Al-Ghazali tercengang seketika. Dunia seakan berhenti sebentar, hanya menyisakan ucapan kepala perampok di benak Sang Imam.
Ucapan itu, seketika menyadarkan dirinya bahwa pengetahuan sejati haruslah dijaga dalam diri, bukan hanya disandarkan pada kertas.
Ucapan kepala perampok berhasil memotifasi seorang Imam Al-Ghazali. Di malam-malam berikutnya, dibawah langit yang penuh cahaya, Imam Ghazali menegakkan sumpah dalam sunyi. Mulai saat itu, ia menghafal seluruh ilmu yang ada di dalam kitab-kitabnya.
Menelan setiap pengetahuan, tak ubahnya menelan sepotong roti dan menegak segelas air. Kemudian menanamnya dalam ingatan, menyimpannya dalam hati.
Al-hasil, Imam Al-Ghazali menjadi sosok yang kita kenal sekarang, perpustakaan berjalan, kitab yang bernafas, sebuah rumah ilmu yang tidak bisa dijarah oleh siapapun. Kecuali oleh Maha Pemilik Ilmu.
⸺0⸺
Membaca kisah ini, saya teringat dengan salah satu guru saya di pesantren, Ustadz Abdurrahim. Guru dalam mata pelajaran sharaf (morfologi) itu pernah mengutip quotes yang hingga kini masih saya ingat,
العِلْمُ ماَ فِي الصُّدُور لا في السّطُوْر
Ilmu itu apa yang ada di dada, bukan di tulisan
Imam Al-Ghazali dalam masterpiece-nya⸺Ihya’ Ulum Ad-Din⸺mengatakan bahwa ilmu merupakan jalan untuk mendekat kepada Allah. Kendati demikian, ilmu tak pernah berhenti pada ingatan. Ilmu sejati menetap di hati serta teraktualisasi dalam bentuk amal.
Jika tidak, kata Imam Al-Ghazali⸺tak ubahnya seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal dipunggungnya. Hal ini linear denga napa yang pernah dikatakan Imam Dar Al-Hijrah, Malik bin Anas,
الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يَضَعَهُ اللَّهُ فِي الْقُلُوبِ فليس
Ilmu bukanlah dengan banyaknya Riwayat, akan tetapi Ilmu tidak lain adalah sebuah cahaya yang Allah tempatkan di dalam hati
‘Konon’ kita sekarang hidup di zaman serba digital⸺penuh dengan file digital, perpustakaan difital, arsip daring, cloud storage, atau gawai. Lantas kita merasa kaya pengetahuan karena mudah dan telah mengakses segala jenis informasi.
Dan kita percaya, memiliki file sama dengan memiliki pengetahuan. Tapi sama seperti kertas dalam kisah Imam Al-Ghazali, semua itu bisa hilang, rusak, lupa kata sandi, atau servernya jatuh. Bukan berarti itu semua tidak penting. Hanya, sekadar sarana, bukan rumah terakhir.
Rumah sejati adalah manusia itu sendiri. Karena itu, pesantren-pesantren kita masih menjaga tradisi hafalan. Meski acapkali dianggap kolot menghafal merupakan bagian dari tradisi panjang: menolak menjadikan ilmu sekadar arsip. Menghafal bukan untuk menutup pemahaman⸺seperti doa⸺untuk menjaga keintiman.
Dari kisah sederhana ini kita digiring⸺untuk belajar menghilangkan ketergantungan pada benda-benda. Alih-alih agar berani menanam pengetahuan dalam diri, namun menjadikannya bagian dari hati dan perilaku.
Dan bila suatu hari kita berdiri lagi di jalan yang sunyi⸺sendirian, tanpa buku, tanpa berkas⸺semoga yang tinggal bersama kita adalah Cahaya yang Allah titipkan di dada. Cahaya untuk mengenali yang Haq, mencintai yang Benar, dan menempuh jalan pulang dengan wajah berseri. Wallahu A’lam.








