Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ini Dampak Tradisi Literasi terhadap Dunia Pendidikan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
15/01/2020
in Cecurhatan, JURNAKULTURA
Ini Dampak Tradisi Literasi terhadap Dunia Pendidikan

Tiga negara teratas dalam rangking PISA, punya tradisi membaca buku yang progresifnya luar biasa. Itu menunjukkan secara tegas bahwa perkembangan literasi di sebuah negara berbanding lurus terhadap kemajuan pendidikannya.

Penilaian siswa internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 dirilis hasilnya pada (3/12) lalu. Dan yang didapat Indonesia, tentu serupa saat kita menyaksikan Timnas sepakbola Indonesia kala melakoni laga internasional: masih mengecewakan.

Penilaian internasional diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tersebut, demi mengetahui kemampuan siswa secara komprehensif di seluruh dunia; wabilkhusus dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains itu, menunjukkan bahwa pembangunan sumberdaya manusia memang sangat dibutuhkan Indonesia.

Dari hasil penilaian tersebut, terbukti kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia masih amat rendah.  Indonesia berada di peringkat 75 dari 81 negara di dunia. Tentu saja, ini menjadi cambukan keras bagi dunia pendidikan Indonesia.

Penelitian tersebut membeber jika kemampuan membaca siswa Indonesia mendapat skor rata-rata 371. Tertinggal jauh dari Cina, Singapura, Makau, dan Hong Kong yang berada di peringkat teratas dengan skor lebih dari 525. Sialnya, hasil ini turun dari skor 397 yang didapat Indonesia pada 2015 lalu.

Tak hanya kemampuan membaca, skill  berhitung atau matematika siswa Indonesia mendapat skor 379. Hasil ini bahkan jauh dari China yang mencapai 591 dan Singapura yang mencapai 569. Sialnya, angka ini turun dari skor 386 yang didapat Indonesia pada 2015.

Sedang untuk kemampuan sains, Indonesia mendapat skor 396, jauh di bawah negara sebesar Kota Surabaya — Singapura — yang bertengger di posisi kedua dengan skor 551. Sialnya, angka ini turun dari skor 403 yang didapat Indonesia pada 2015 silam.

Kesialan-kesialan itu, tak pantas kiranya jika hanya dirutuki belaka. Tapi harus dicari tahu dan ditemukan, perkara apa yang menyebabkan kita masih sering tertimpa sial, serupa Timnas sepakbola Indonesia yang kerap gugur di laga final kompetisi internasional.

Mari kita cek sejumlah hasil secara lebih detail. Untuk bidang Matematika, 3 negara di urutan paling atas adalah Cina (591), Singapura (569), dan Makau (558). Sedang Indonesia berada di urutan ke 72 dengan skor (379).

Ayo kita cek sejumlah hasil secara lebih rinci di bidang membaca. 3 negara urutan teratas masih sama; Cina (555), Singapura (549) dan Makau (525). Sementara Indonesia berada di urutan ke 72 dengan skor (371).

Selanjutnya, kita cek lagi sejumlah hasil secara rinci dari bidang sains. 3 negara di urutan pertama masih tetap sama. Cina (590), Singapura (551), Makau (544). Sedang Indonesia, berada di urutan 70 dengan skor (396).

Setelah membaca hasil rinci tersebut, mungkin ada dua hal yang bakal mengisi kepala kita. Pertama: ternyata di dunia ini ada sebuah negara bernama Makau dengan kualitas pendidikan sangat bagus. Dan kedua: kebiasaan apa sih yang membikin negara-negara itu punya rangking bagus di PISA?

Ternyata, 3 negara urutan pertama dalam hasil PISA tersebut, punya riwayat tradisi membaca yang luar biasa besar. Istilahnya, pemerintah benar-benar ngopeni masyarakat untuk bisa terus membaca. Ini buktinya:

Kebiasaan Membaca di Negara-negara Juara PISA

Cina
Sebuah survei kebiasaan membaca dirilis akademi Pers dan Publikasi Cina menunjukkan, pada 2017, orang Cina dewasa membaca rata-rata 7,78 buku setahun, dan anak-anak dan remaja di bawah 17 membaca 8,81 buku.

Survei mencakup 18.666 sampel yang dikumpulkan dari 29 provinsi itu, menunjukkan pada 2017, penduduk kota memiliki kebiasaan membaca sebesar 67,5 persen. Sedang penduduk desa memiliki kebiasaan membaca sebesar 49,3 persen.

Dalam beberapa tahun terakhir, pembacaan secara digital berkembang pesat di Cina. Pada 2017, misalnya,  pembaca digital di Cina mencapai 73 persen. Angka itu terbilang naik. Sebab, pada 2016, pembaca digital di Cina sebesar 68,2 persen.

Singapura
Singapura punya National Library Board (NLB), semacam Perpus Nasional yang punya program Read at School bagi anak-anak usia 7 hingga 12 tahun. Tak hanya itu, NLB juga memiliki program Sure, Understand, Research dan Evaluate (SURE) yang diperuntukkan segala usia.

Program SURE dilakukan sejak 2013. Tujuannya, memberi pengetahuan soal validasi informasi, khususnya yang berkaitan dengan internet. Khusus program tersebut, NLB bekerjasama dan di-backup penuh Kementerian Pendidikan agar program lancar.

Makau
Dalam laporan berjudul Serving Library User from Asia (a comprehensive handbook of country-specific information and outreach resources) yang ditulis John Hickok (2019),  menunjukkan bahwa sejak 2013, pemerintah Makau menggalakkan perbaikan kebiasaan membaca.

Jauh sebelumnya, kebiasaan membaca di Makau memang sudah terbangun. Namun, minimnya jumlah penerbit membuat Makau minim produktivitas buku. Tapi, pada 2013, Pemerintah Makau segera memperbaiki perpustakaan dan produksi buku santer digalakkan. Bahkan, tiap tahun ada festival buku bertajuk Macau Literary Festival diadakan tiap tahun.

Jadi, diakui atau tidak, riwayat literasi di tiga negara tersebut berperan membangun potensi para pelajar mereka untuk kian mudah menjangkau prestasi. Karena itu, saat kita ingat latar belakang literasi di Indonesia, kita akan memaklumi Indonesia yang masih berada di posisi bawah.

Buktinya, tiga negara teratas dalam rangking PISA, punya tradisi membaca buku yang progresifnya luar biasa. Itu menunjukkan secara tegas bahwa perkembangan literasi di sebuah negara berbanding lurus terhadap kemajuan pendidikannya.

Membaca buku itu penting. Amat penting. Dan sangat penting bagi masa depan bangsa. Dan yang lebih penting dari itu, suplai buku dan kemudahan masyarakat untuk membaca buku-buku berkualitas juga amat penting. Sebab, minat baca tinggi tapi sulit mendapat buku bacaan, serupa wedang kopi sonder gelas: ambyar!

Tags: LiterasiPendidikan
Previous Post

Melihat Geliat Olahraga Bola Tangan Bojonegoro yang Terus Bersinar

Next Post

Benarkah Daun Mangga Mampu Atasi Diabetes?

BERITA MENARIK LAINNYA

Voliga U-15, Liga Voli Bergengsi U-15 Bojonegoro Resmi Bergulir 
Cecurhatan

Voliga U-15, Liga Voli Bergengsi U-15 Bojonegoro Resmi Bergulir 

20/07/2026
Spainlestina: Kemanusiaan Berbaju Sepak Bola
Cecurhatan

Spainlestina: Kemanusiaan Berbaju Sepak Bola

19/07/2026
Komisi B DPRD Bojonegoro Desak Pemkab Tuntaskan Relokasi Pedagang Pasar Kota ke TPS Pasar Wisata
Cecurhatan

Komisi B DPRD Bojonegoro Desak Pemkab Tuntaskan Relokasi Pedagang Pasar Kota ke TPS Pasar Wisata

17/07/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Voliga U-15, Liga Voli Bergengsi U-15 Bojonegoro Resmi Bergulir 

Voliga U-15, Liga Voli Bergengsi U-15 Bojonegoro Resmi Bergulir 

20/07/2026
Spainlestina: Kemanusiaan Berbaju Sepak Bola

Spainlestina: Kemanusiaan Berbaju Sepak Bola

19/07/2026
Voynich Manuscript di Era Kecerdasan Buatan: Ketika Mesin Ikut Membaca, tetapi Misteri Tetap Bertahan (Bagian IV)

Voynich Manuscript di Era Kecerdasan Buatan: Ketika Mesin Ikut Membaca, tetapi Misteri Tetap Bertahan (Bagian IV)

18/07/2026
Komisi B DPRD Bojonegoro Desak Pemkab Tuntaskan Relokasi Pedagang Pasar Kota ke TPS Pasar Wisata

Komisi B DPRD Bojonegoro Desak Pemkab Tuntaskan Relokasi Pedagang Pasar Kota ke TPS Pasar Wisata

17/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: