Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
05/05/2026
in Cecurhatan
Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

Kuasa dan Tradisi

Di tengah dunia yang terus bergerak menuju keseragaman, siapa yang masih berani menjadi dirinya sendiri?

Di tengah musim panas yang menyesakkan di India, ketika debu dan doa sama-sama beterbangan di udara, sebuah pernikahan digelar seperti sebuah epos—panjang, berlapis, dan nyaris tak masuk akal bagi nalar keseharian. Anak dari Mukesh Ambani, salah satu orang terkaya di Asia, menikah dalam pesta yang konon menelan biaya hingga triliunan rupiah.

Angka itu sendiri seperti kehilangan makna: terlalu besar untuk dibayangkan, terlalu jauh dari realitas sebagian besar rakyat India yang masih bergulat dengan kemiskinan yang tak selesai sejak masa British Raj.

Namun, kemewahan itu bukanlah pusat cerita. Yang lebih menarik justru bagaimana kemegahan itu dibungkus: bukan dengan estetika global yang seragam, melainkan dengan denyut tradisi yang tua, bahkan mungkin lebih tua dari negara itu sendiri.

Dalam setiap warna kain, setiap gerak tarian, dan setiap mantra yang dilantunkan para pendeta, terselip lapisan ingatan kolektif yang panjang—tentang keluarga, tentang dewa-dewa, tentang kewajiban yang melampaui individu.

Di hadapan tamu-tamu yang datang dari pusat-pusat kekuasaan dunia—dari Barat yang selama berabad-abad menjadi episentrum dominasi global—India seperti sedang berkata dengan tenang: kami tidak kehilangan diri kami.

Nama-nama besar itu hadir, dari kalangan politik hingga selebritas, berdiri di bawah lampu-lampu yang mungkin lebih terang dari panggung mana pun yang pernah mereka pijak. Tetapi di ruang itu, mereka bukan pusat.

Mereka hanya saksi. Saksi atas sebuah peradaban yang tidak merasa perlu meminta legitimasi. Ada sesuatu yang mengendap di sana—barangkali semacam perlawanan yang tidak berisik. Sejak lama, India adalah tanah paradoks: negeri para insinyur global sekaligus petani tanpa tanah, rumah bagi perusahaan teknologi sekaligus desa-desa yang nyaris tak tersentuh listrik.

Dalam lanskap seperti itu, keberhasilan orang-orang India di panggung internasional sering dibaca sebagai hasil dari pendidikan, diaspora, atau kerja keras. Tetapi mungkin ada lapisan lain: rasa memiliki terhadap tradisi yang tidak tercerabut, bahkan ketika mereka melangkah jauh dari tanah kelahiran.

Dalam pesta itu, tradisi tidak diperlakukan sebagai dekorasi. Ia adalah kerangka. Ketika Nita Ambani menari—seorang ibu yang tubuhnya membawa sejarah panjang keluarga dan harapan—gerakannya bukan sekadar estetika. Ia adalah narasi. Tentang anak yang dulu rapuh, tentang doa yang diam-diam dipanjatkan, tentang kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang bahkan ketika kekayaan bisa membeli hampir segalanya.

Dan mungkin, di situlah letak kemanusiaannya. Bahwa di balik kerajaan bisnis yang diwariskan, ada cerita yang sangat personal: seorang anak yang sakit-sakitan, orang tua yang berjaga, dan keyakinan bahwa hidup harus dirawat dengan segala cara—termasuk dengan merayakannya secara berlebihan.

Pernikahan itu, dalam banyak hal, adalah panggung bagi India untuk berbicara tentang dirinya sendiri. Tentang kebanggaan. Tentang posisi dalam peta dunia yang sedang berubah, di mana proyek seperti India–Middle East–Europe Economic Corridor mencoba menggambar ulang jalur kekuasaan ekonomi global, menyaingi narasi lama yang didominasi oleh poros Eurasia.

Tetapi politik dan ekonomi hanya bayangan di latar belakang. Yang tampak di depan justru sesuatu yang lebih purba: keyakinan bahwa pernikahan adalah peristiwa sakral, bukan sekadar kontrak sosial. Bahwa ia menyatukan bukan hanya dua individu, tetapi dua garis keturunan, dua sejarah keluarga, dua harapan yang saling bertaut.

Di titik ini, India terasa dekat dengan Pulau Jawa. Dalam tradisi Jawa, pernikahan juga adalah ruang di mana yang profan dan sakral bertemu. Ada doa, ada restu leluhur, ada harapan bahwa anak akan membawa nama baik keluarga—bukan sebagai beban, melainkan sebagai amanah.

Namun, seperti semua cerita tentang kemewahan, ada bayangan yang tak bisa dihindari. Apakah pesta itu juga sebuah jarak? Di luar pagar-pagar megah itu, ada jutaan orang India yang mungkin hanya bisa menyaksikan dari layar—atau bahkan tidak sama sekali. Bagi mereka, pesta itu bisa menjadi kebanggaan, tetapi juga pengingat: tentang ketimpangan yang tetap menganga.

Dan di situlah ambiguitas itu hidup. Apakah ini pesta rakyat, atau pesta yang dipertontonkan kepada rakyat? Apakah ini ekspresi budaya, atau demonstrasi kekuasaan yang dibungkus budaya? Mungkin keduanya benar, dalam kadar yang berbeda.

Seperti halnya “crazy rich” di banyak tempat, termasuk di Indonesia, pernikahan sering menjadi panggung untuk menunjukkan sesuatu—entah itu kekayaan, status, atau selera. Tetapi yang membedakan adalah bagaimana tradisi diposisikan: apakah ia sekadar ornamen, atau menjadi inti dari narasi.

Dalam pesta Ambani, tradisi tampaknya masih menjadi bahasa utama. Dan mungkin itu yang membuatnya terasa tidak sepenuhnya kosong.

Di akhir semua itu—lampu padam, musik berhenti, tamu kembali ke negaranya masing-masing—yang tersisa bukan hanya foto-foto kemewahan. Tetapi juga sebuah pertanyaan yang diam-diam menggema: di tengah dunia yang terus bergerak menuju keseragaman, siapa yang masih berani menjadi dirinya sendiri?

Tags: Catatan Toto RahardjoKuasa dan Tradisi
Previous Post

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

BERITA MENARIK LAINNYA

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)
Cecurhatan

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

04/05/2026
Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja
Cecurhatan

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
Hukum atau Senjata?
Cecurhatan

Hukum atau Senjata?

02/05/2026

Anyar Nabs

Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

05/05/2026
Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

04/05/2026
Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: